Petani Biarkan Kubis Jadi Pupuk

919

Sukapura (wartabromo.com) – Harga sayur kubis di kawasan Bromo Kabupaten Probolinggo belum juga membaik. Petani pun membiarkan tanaman di ladang.

“Harapannya ya mungkin bisa jadi pupuk. Kalau dijual ruginya kebangetan. Makanya ya dibiarkan wis,” ungkap Suratmoko, seorang petani asal Desa Kedasih, Kecamatan Sukapura pada Senin, 14 September 2020.

Ia memprediksi ada sekitar ratusan ton kubis yang sengaja tidak dipanen oleh petani. Harga murah kubis, jadi alasan petani memilih tidak menjual kubisnya. Selain itu, akses lahan yang sulit juga menjadi faktor lainnya.

“Lahan yang sulit menambah beban biaya, sedangkan harga masih murah. Saya kira desa lain di Kecamatan Sukapura juga sama. Pakel, Sariwani dan desa lain,” ujarnya.

Problem itu, diperparah dengan keenganam pedagang membeli kubis di lokasi yang sulit. Mereka lebih suka mengambil kubis di lahan yang mudah diakses. Meski harganya lebih tinggi, yakni Rp400 per kilogram. Dua kali lipat jika dibanding dengan di daerah sulit yang dihargai Rp200.

“Harganya ya kisaran Rp 400 per kilogram. Biasanya bukan lagi dijual ke lokal Jatim, tetapi dipasok ke Kalimantan dengan partai besa,” ungkap Doni, pedagang kubis asal Sukapura.
Melihat fakta yang tak menguntungkan petani, Komisi 2 DPRD Kabupaten Probolinggo merekomendasikan adanya pasar sayur di wilayah Bromo. Berlokasi di Desa Pandansari, Kecamatan Sumber. Desa ini dipilih karena dinilai lebih potensial.

“Jadi bukan di bawah, tapi di Pandansari. Karena penghasil sayur terbanyak memang di Pandansari dan desa atas lainnya. Kami akan mengawal rekomendasi itu. Paling tidak, tahun 2021 pasar sayur harus dibangun,” kata Ketua Komisi 2, Sugito.
Salah satu pertimbangannya ialah untuk meminimalisir permainan harga oleh tengkulak besar. Salah satu contohnya yakni kubis di tingkat petani hanya dihargai Rp200 per kilogram. Sedangkan di pasar mencapai harga Rp3 ribu hingga Rp4 ribu per kilogram.
Pasar sayur itu, nantinya akan dikelola Pemkab Probolinggo. Dengan tujuannya untuk memanajemen sayur yang berasal dari dataran Tengger. Menekan permainan harga oleh tengkulak.

“Kalau ada pasar sayur, harganya beda banget. Artinya bisa mengontrol perdagangan sayur di kawasan Tengger. Kemudian dengan seperti itu diharapkan tengkulak besar tidak begitu langsung masuk ke petani,” tandas pria yang hobi main voli itu. (saw/ono)