Melacak Jejak Semaun di Pasuruan, Ketua Pertama PKI (3-Habis)

6528
Semaun semasa hidup. Foto: tirto.id.

 

Memimpin gerakan buruh hingga menjadi ketua pertama PKI, pandangan Semaun justru berubah setelah pulang dari pengasingan. Apa sebab?

Oleh: Miftakhul Ulum

MEMIMPIN gerakan buruh VSTP (Serikat Buruh Kereta Api) sejak muda hingga memimpin PKI tahun 1920, Semaun akhirnya diasingkan ke luar negeri oleh pemerintah Hindia-Belanda pada 1923.

Selama di pengasingan, Semaun banyak melanglang buana ke berbagai negara hingga sempat menjadi pembantu Stalin di Rusia. Berkat lobi-lobi Sukarno, Semaun akhirnya bisa kembali ke Indonesia di tahun 1956 (versi lain 1957).

Akan tetapi, sepulang dari Rusia yang kala itu masih bernama Uni Soviet, pandangan Semaun sudah berubah. Semaun menjadi lebih moderat, bahkan cenderung revisionis.

Baca: Melacak Jejak Semaun di Pasuruan, Ketua Pertama PKI (2)

Salah satu tengaranya adalah perubahan pandangannya tentang negara yang tertuang dalam Tenaga Manusia Postulat Teori Ekonomi Terpimpin.

Karya tersebut merupakan buah pikirannya ketika ia diangkat menjadi Doktor Honoris Causa di Universitas Padjadjaran, Bandung pada tahun 1961.

Ketika sudah kembali ke Indonesia, Semaun sudah tidak lagi mengenal PKI yang kala itu dipimpin oleh D.N. Aidit. Menurut FX Domini BB Hera, Sejarawan Pusat Kajian Budaya dan Laman Batas UB, menyebut Semaun pada tahun 1925 sudah tidak lagi menjadi bagian dari PKI. Alih-alih memimpin pemberontakan PKI 1926-1927. Apalagi ikut pemberontakan G30S tahun 1965.

Baca: Melacak Jejak Semaun di Pasuruan, Ketua Pertama PKI (1)

Semaun pada tahun 1923, sudah diasingkan ke Belanda. Dan, di tahun yang sama sudah tercatat sebagai bagian dari ECCI (Komite Eksekutif Komintern). Kemudian ia bekerja untuk ECCI di Moskow.

Menurut Ruth. Mc.Vey dalam Kemunculan Komunisme di Indonesia, menyebut Semaun dianggap sebagai anggota Biro Eksekutif Profintern dan juga ECCI pada awal 1924.

Sebelum diasingkan ke Belanda lalu ke Moskow, Semaun pada tahun 1921 melakukan kunjungan ke Moskow. Setelah kembali dari kunjunganya pada bulan Mei 1922, dalam suatu rapat di Semarang 4 Juni 1922, Semaun menyatakan bahwa metode kekerasan yang digunakan kaum Bolsevhik Rusia tidak dapat diterapkan di Indonesia.

“Ia kemudian memperingatkan kawan-kawannya agar bertindak tenang dan sabar. Serta mempertahankan persatuan dan disiplin, mempertimbangkan berhati-hati segala soal dan menghindarkan diri daripada keputusan jang tergesa-gesa. Atas sikap tersebut, beberapa pembitjara dalam rapat menuduh Semaun telah bertolak ke kanan,” Tulis Moehkardi, dalam Intisari Oktober 1971.

Tidak hanya pemikiranya saja yang telah bergeser dari radikal ke moderat. Sikapnya dalam politik kenegaraan juga telah berubah. Terbukti di tahun 1959, setelah kepulanganya ke Indonesia, Semaun menjabat dua jabatan kenegaraan sekaligus.

“Pertama, anggota Depernas (Dewan Perantjang Nasional, kini Bappenas) yang diketuai oleh Muh. Yamin (1903-1962). Kedua, anggota Badan Pengawas Kegiatan Aparatur Negara (Bapekan, embrio Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara) yang dipimpin Sri Sultan Hamengku Buwono IX (1912-1988),” tulis Sisco, sapaan FX Domini BB Hera dalam tulisanya Anomali dalam Sejarah Partai Terlarang, dikutip dari Indoprogress.

Kembali pada pemikirannya yang lebih “moderat”, Tenaga Manusia menunjukkan bahwa Semaun telah beralih dari aktivis radikal menjadi perancang ekonomi negara.

Edi Cahyono dalam Penebar E-news (September 2003, menyebut Semaun telah bergeser pemikirannya. Dalam naskah tersebut, Semaun menawarkan tahap-tahap reformasi kapitalisme, alih-alih langkah sosialisme.

“Di sini, Semaun menampilkan kepiawaianya sebagai seorang perancang negara, seperti pengalamannya saat menjabat sebagai Gozplan di Tajikistan,” tulis Edi Cahyono.

Lebih lanjut, pergeseran pemikiran Semaun tentu disebabkan pergaulannya selama dalam pengasingan di Eropa. Tapi sejauh mana pengalamanya itu membawa dampak pergeseran pemikiranya, perlu penelusuran dan penelitian lebih lanjut.

Terkait pemikiran di penghujung hidupnya yang lebih moderat, dugaan Edi Cahyono bahwa Semaun ingin menghabiskan masa tuanya dengan berupaya berdamai dengan realitas sosial-politik Indonesia. Ketimbang mempertahankan prinsip-prinsip yang dia anut di masa mudanya.

Penelusuran Semaun kali ini setidaknya menjadi awal upaya penggalian lebih dalam tentang tokoh yang telah mewarnai sejarah Indonesia di masa awal pergerakan. Sekaligus pemantik untuk usaha-usaha penelusuran lebih lanjut tentang tokoh-tokoh lain di Pasuruan. (asd)