Satu Tim Ada yang Kirim Dua Karya Videografi

653
Screenshoot dari.salah satu karya peserta lomba videografi.

Pasuruan (Wartabromo.com) – Sinopsis edisi kali ini merupakan sinopsis edisi terakhir. Kali ini, ada karya dari tim peserta yang mengirimkan dua karya sekaligus.

Memang, dalam ketentuan kepesertaan, pihak panitia membolehkan peserta untuk mengirimkan karya lebih dari satu. Namun dibatasi maksimal dua karya saja. Hal ini untuk memberi  ruang kepada peserta mengeksplor kreativitas dalam produksi video. Namun, tetap kita batasi untuk memberi kesempatan kepada peserta lain yang ambil bagian.

Hari ini video kiriman peserta akan dinilai oleh dewan juri.

Sinopsis selanjutnya berasal dari tim. Terdiri dari M. Nadif Yusuf, Adam Maulana Prasetyo dan Mukhammad Zidan Nabil. Mengangkat tema Keluarga Anti Money Politics. Tim ini memberikan videonya dengan judul: Harga Diri.

Dalam video tersebut diceritakan tentang perjuangan seorang ayah yang hanya seorang petani biasa. Sang anak yang masih duduk di bangku SD sempat merengek. Meminta untuk dibelikan sepatu baru. Namun, karena belum mempunyai cukup uang, sang ayah bersedih dan melamun. Hingga datanglah tetangga dan memberinya uang beramplop.

Namun betapa kagetnya. Dibalik amplop tersebut ternyata terpampang foto salah satu paslon yang maju dalam pilkada. Sang ayah pun langsung berlari menghampiri tetangga dan mengembalikan uang dalam amplop tersebut sembari mengatakan, “Meskipun keluarganya adalah keluarga miskin, namun dia tidak mau menerima uang suap itu”.

Berbeda dengan peserta lainnya, Alfina Shabrin mengirimkan hasil terbaiknya dengan durasi tak lebih dari 1 menit namun cukup berkesan. Mengangkat tema: Keluarga Anti Money Politics, ia memberikan judul pada videonya: Menolak Politk Uang.

Dalam videonya diceritakan ada seorang gadis cantik bermimpi. Dalam mimpinya itu dia dihujani banyak uang oleh beberapa paslon. Dia kemudian terbangun, lantaran akan dibawa polisi karena terima uang suap.

Di akhir videonya, dia berpesan untuk tidak menerima uang suap untuk memilih salah satu paslon. Karena baik pemberi ataupun penerima politik uang akan dikenai sanksi kurungan penjara. Stop politik uang!

Lomba videografi gelaran Bawaslu Kota Pasuruan ini memberikan peluang pada peserta untuk mengirimkan maksimal dua karya terbaik. Peluang itu dimanfaatkan baik oleh tim yang terdiri dari Achmad Chusaeri, Akhmad Syarifudin dan Ahmad Zahid Taqwa.

Video pertama yang mereka kirimkan mengangkat sub tema: Keluarga Anti Money Politic. Judul videonya: Serangan Fajar.
Dalam sinopsisnya, seorang pemuda curhat kepada kakaknya karena tidak punya uang dan baru saja jadi korban PHK akibat pandemi. Hingga datanglah pria berbaju batik dengan badan subur menghampiri keduanya.

Sang pria inipun menanyakan, apakah dalam pilkada yang akan segera digelar sudah punya jagoan. Karena pemuda dan kakaknya tersebut merasa belum punya jagoan, keduanya pun kompak menjawab, “tidak”.

Pria berbatik itupun tersenyum sambil menunjukkan gambar salah satu paslon. Kemudian ia memberikan amplop yang sudah berisi uang kepada keduanya. Aksi pria itu lalu diketahui oleh istri kakak pemuda tersebut.

Sang kakak dikenal sedikit cerewet. Ia mengatakan kepada sang adik serta suaminya bahwa memilih pemimpin itu harus dari hati. Karena tidak semua pemimpin itu amanah. Kalau pemimpin tidak amanah, kita sebagai pemilih juga berdosa karena turut menjadikan orang tersebut sebagai pemimpin.

“Memilih pemimpin dengan hati nurani, karena satu suara kita sangat berarti,” pesannya dalam tayangan video itu.
Video kedua dari tim ini mengangkat tema: Pemimpin Berkualitas. Berbeda dengan video pertama, konsep video kedua ini cukup sederhana, namun sarat makna.

Di awal video ditampilkan beberapa landmark kebanggaan warga Kota Pasuruan sambil diiringi audio dubbing menjelaskan definisi pemimpin. Bahwa pemimpin itu merupakan cerminan masyarakatnya. Pemimpin yang baik harus bisa membaur dengan semua warganya.

Selanjutnya semua pemain dan crew yang terlibat dalam video sebelumnya yang berjudul ‘Serangan Fajar’ dimintai pendapatnya soal pemimpin berkualitas. Bagaimana cara memilih pemimpin menurut kamu dan harapan kamu terhadap pemimpin untuk masa datang?

Video selanjutnya datang dari Nandi Saputra dan Toyibul Anam. Sub tema yang diangkat: Pemimpin Berkualitas.

Berlokasi di salah satu tempat meubel di Kota Pasuruan dengan visual kesibukan para pekerja mulai mengolah kayu mentah tak berbentuk menjadi komoditas meubel yang siap di pasarkan. Sambil diiringi audio dubbing tentang definisi pemimpin yang berkualitas.

Di akhir videonya kemudian bergeser ke lokasi fly over jalan tol. Dalam suasana sore hari itu juga menghadirkan sosok yang berbicara tentang cara memilih pemimpin sejati.

Bergeser ke peserta selanjutnya dengan video yang berjudul: ‘Oh.. Ngono’. Karya Irma Purnawirawati dan Mukhammad Salim. Dengan sub tema: Keluarga Anti Money Politik. Latar yang diambil berlokasi di salah satu pondok pesantren di Pasuruan.

Dalam sinopsisnya diceritakan ada orang tua; ayah dan ibu menjenguk putri yang lagi nyantri. Santriwati itu bernama Safira. Sambil mengeluarkan semua bekal yang dibawanya dari rumah untuk dinikmati Safira.

Sang ibu mengatakan kepada putrinya yang kini sudah memiliki hak pilih supaya pulang pada Rabu, 09 Desember 2020 untuk memilih Wali Kota. Bahkan dirinya juga mengimbau putrinya itu untuk betul-betul bisa pulang. Karena dengan putrinya pulang, maka jatah amplop berisi uang suap semakin banyak yang bisa ia dapat.

Mendengar hal itu, Safira pun kaget. Ia pun mengatakan kepada kedua orang tuanya bahwa menerima uang suap termasuk ‘riswah’. Itu dilarang. Bahkan haram. Baik untuk pemberi atupun penerima.
Sang ibu pun tersipu malu.