Combor; Limbah Kedelai yang Masih Bernilai

540

“Bapak (wartabromo, red) bisa lihat sendiri. Dari kulitnya saja sudah kelihatan halusnya,” katanya sambil mengelus-elus sapi besar jenis Limosin itu.

Pihak desa sebenarnya sudah punya planning jangka panjang. Dari sisi potensi desanya, sudah kelihatan terang. Misalnya untuk urusan olahan tempe yang sudah diuji coba menjadi 14 jenis, mereka sudah siap buka showroom (pasar) sendiri. Lahan sudah siap.

Tinggal alokasi anggaran APBDes dan dana lain, jika pandemic Covid-19 ini sirna.
Planning selanjutnya adalah limbah dari ternak sapi. Mereka sudah siapkan lahan untuk pembuatan biogas. Sebuah energi alternatif sebagai desa mandiri energi.
Jika dikumpulkan, kandungan biogas dari kotoran sapi bisa membuat desa ini mampu memproduksi energi sendiri. Bisa untuk aliran listrik atau energi lain.

Planning hebat lainnya adalah memfungsikan sumber Sembung milik desa. Mereka sudah siap sebagai desa wisata. Sembung adalah sebuah kolam renang ukuran besar yang bisa dibuat untuk masyarakat umum.
Pihak wisatawan selain bisa rekreasi bersama keluarganya, juga bisa wisata edukasi. Diajari membuat tempe berikut olahannya dan juga memberi makan ternak.

“Ini sudah kami rancang cukup lama. Mudah-mudahan kalau pandemi Covid-19 ini berakhir, kami bisa segera merealisasikan,” terang Ika Widiasti, Sekretaris Desa Parerejo.

Kedelai memang punya manfaat besar. Sebagai sumber pangan, kedelai memiliki kandungan gizi yang tinggi. Konsumsi kedelai bersama produk olahannya (tempe atau lainnya) dapat meningkatkan pemeliharaan kesehatan. Dan mengurangi dampak atau resiko penyakit.

Selain bagus untuk konsumsi manusia, ternyata sudah menjadi limbahpun, kedelai masih punya nilai. Utamanya untuk hewan piaraan. Itu berarti ada sabuk makanan yang positif dari satu sumber ini. Baik untuk manusia. Baik pula untuk hewan piaraan. (*)