Douwes Dekker-Irawan Soejono, Duo Pahlawan Berdarah Pasuruan yang “Tertukar?” (2-Habis)

1917

Ernest Douwes Dekker, seorang peranakan Indo-Belanda ditahbiskan sebagai pahlawan nasional. Sementara itu, Irawan Soejono, pemuda Bumiputera, putra Bupati Pasuruan, menjadi pahlawan bagi Belanda. Sebuah takdir yang “tertukar”?

Laporan: Miftahul Ulum

IRAWAN Soejono, pemuda kelahiran Pasuruan, 24 Januari 1920, putra dari Raden Adipati Ario Soejono (Bupati Pasuruan 1915-1927) dan Raden Ajoe Adipati Ario Soejono. Kisahnya tak banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia atau bahkan masyarakat Pasuruan. Peran penting Irawan adalah menjadi bagian dari pasukan perjuangan Belanda melawan pendudukan Nazi pada tahun 1945.

Baca: Kisah Douwes Dekker-Irawan Soejono, Duo Pahlawan Berdarah Pasuruan yang “Tertukar”? (1)

Ia gugur saat tentara Nazi berpatroli, menurut Lodewijk Kallenberg, ia sedang membawa sebuah mesin stensil untuk mencetak terbitan ilegal De Bevrijding (Pembebasan). Karena berusaha melarikan diri, tentara Nazi menembaknya. Irawan meninggal pada 13 Januari 1945 di Leiden, Belanda.

Kehidupan Pribadi dan Keluarga

Irawan Soejono, setidaknya sampai tahun 1927, ketika ayahnya R.A.A. Soejono menjabat sebagai Bupati Pasuruan, ia masih di Pasuruan. Tidak diketahui betul bagaimana Irawan kecil melewati masa kecilnya. Soejono sendiri merupakan seorang birokrat kolonial, hingga ia ditugaskan sebagai Bupati Pasuruan sejak tahun 1915-1927. Selain menjabat sebagai Bupati Pasuruan, Soejono juga dipilih menjadi anggota Volksraad (anggota dewan) Hindia Belanda.

1930, Soejono mendapat mandat untuk belajar di negeri tulip Belanda. Irawan kecil beserta saudaranya ikut ayahnya tugas belajar. Selama dua tahun, Irawan bersekolah di Belanda, namun setelah tugas belajar ayahnya selesai, ia kembali ke Hindia Belanda. Ia melanjutkan sekolah di Bataviaasch Lyceum, tidak sampai selesai.

Tahun 1934, ia harus meningggalkan Hindia Belanda untuk mengikuti tugas dinas ayahnya di Belanda hingga tahun 1940. Ia menyelesaikan studi tingkat lanjut di Belanda. di tahun yang sama, Irawan mendaftar sebagai mahasiswa di Universitas Leiden.

Seperti mahasiswa Indonesia lain yang belajar di Belanda, ia bergabung dengan Perhimpunan Indonesia (PI), sebuah organisasi pelajar Indonesia di Belanda yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Kita tahu, Hatta dan Sjahrir pernah berkecimpung di organisasi ini sebelum kembali ke Hindia Belanda.

Kallenberg mengemukakan sikap PI yang berpihak kepada Verzet (pasukan perlawan Belanda melawan pendudukan Nazi) dengan kesadaran bahwa kala itu Nazi adalah musuh utama, tidak mungkin membebaskan Indonesia dari penjajahan sebelum mengusir Nazi dari Belanda.

“Karena itu, PI bergabung dengan perlawanan bawah tanah Belanda dan menggunakan slogan Eerst Nederland bevrijden, dan Indonesie (bebaskan dulu Belanda, lalu Indonesia),” tulis Kallenberg.

Universitas Leiden ditutup tahun 1941, karena salah satu Profesornya melakukan protes terhadap pendudukan Nazi. Irawan pergi ke Amsterdam dan melanjutkan sekolahnya dengan jurusan Sosiografi. Kallenberg mencatat, Irawan terlibat dalam perlawanan berkisar antara tahun 1942-1943, di kisaran tahun tersebut keberadaanya tak terlacak.

Tahun-tahun terakhir Irawan dihabiskan sebagai bagian dari perlawanan Belanda terhadap pendudukan Jerman. Hingga 13 Januari 1945, gugur oleh peluru tentara nazi yang menembus pelipisnya.

Harry A. Poeze, dalam bukunya Di Negeri Penjajah, melampirkan tulisan Soeripno (mantan Editor terbiran De Bevrijding) yang ditulisnya pada 1 Septemberi 1945, semacam obituari tentang Irawan Soejono. Dalam koran tersebut, Soeripno menyebut Irawan dengan sebutan “Henk van de Bevrijding” atau “Henk Pembebasan”. Henk mengurus teknis penerbitan majalah, sekaligus menjadi direktur dan administratur.

“Ia mengurus mesin-mesin, kertas, dan pesawat radio, dan ia mengangkutnya dengan sepeda bak, kereta dorong, atau koper. Cuaca baik atau buruk, berbahaya atau tidak, malam larut, Henk senantiasa siap,” tulis Soeripno, seperti dilampirkan oleh Harry A. Poeze.

Dari tulisan Soeripno, kita tahu bahwa Irawan adalah bagian dari komando pelajar Binnendlandsche Strijdkrachten (BS), yakni Tenaga Pejuang Dalam Negeri cabang Leiden. Lebih lanjut Soeripno menyebut Irawan ingin terus belajar banyak hal dan ingin hidup bagi negeri dan bangsanya.

“Kini, semua itu tidak lagi mungkin, dua kali ia beruntung dapat lolos dari razia, pada 13 Januari yang naas itu ia tidak beruntung. Ia mencoba terus mengayuh sepedanya, tetapi peluru Nazi telah mencapai sasaranya. Sepucuk senapan bodoh di tangan seorang pembunuh bodoh telah memotong jalan hidup seorang Indonesia yang belum lagi mencapai 23 tahun, yang semangatnya, pengabdiannya, rasa sosialnya, kerajinannya, dan kesederhanaanya akan tetap menjadi contoh,” tulis Soeripno, dikutip dari Di Negeri Penjajah.