Douwes Dekker-Irawan Soejono, Duo Pahlawan Berdarah Pasuruan yang “Tertukar” (1)

1267
Ernest Douwes Dekker. Foto: Wikipedia.

Rasa persaudaraan dalam sebuah “komunitas” bangsa yang memungkinkan begitu banyak orang, jutaan jumlahnya, bersedia jangankan melenyapkan nyawa orang lain, merenggut nyawa sendiri pun rela demi pembayangan tentang yang terbatas itu.

Benedict Anderson, Komunitas-komunitas Terbayang.

Laporan: Miftahul Ulum

NASIONALISME, kepahlawanan, dan patriotisme masih menjadi tanda tanya yang tak berujung. Bahwa nasionalisme  sejatinya adalah tentang rasa, sebuah rasa yang terbayang akan satu kesatuan dan persatuan.

Berangkat dari perasaan itulah, muncul orang-orang yang rela mencurahkan segala hidupnya demi terwujudnya angan-angan itu. Merekalah para pahlawan.

Nah, sebagai sebuah “kota kecil” Pasuruan meyimpan sejumlah fakta menarik tentang para pahlawan. Terlepas dari gelar pahlawan yang politis, mereka memiliki banyak kisah yang patut diteladani.

Selain Untung Suropati yang memang sudah cukup populer, ada juga Ernest Douwes Dekker alias Danudirja Setiabudi yang gigih berjuang melawan penjajahan Belanda.

Ada satu lagi pahlawan yang jarang didengar, yakni Irawan Soejono. Seorang pemuda kelahiran Pasuruan yang namanya bahkan diabadikan sebagai nama jalan di Belanda.

Mirisnya, namanya harum di negeri kincir angin sana, tapi tak banyak dikenal di negeri sendiri.

Ernest Douwes Dekker, Tiga Serangkai

Ernest Douwes Dekker, pendiri Indische Partij, sebuah partai pertama di Hindia Belanda. Pada tahun 1912, Dekker mendirikan Indische Partij (IP), seorang Indo-Eropa yang radikal. M.C. Ricklefs, dalam Sejarah Indonesia Modern, menyatakan bahwa partainya mendeklarasikan suatu nasionalisme Hindia dan menuntut kemerdekaan.
“Dua orang Jawa yang terkemuka, Tjipto Mangunkusumo dan Suwardi Surjaningrat (Ki Hajar Dewantara) bergabung dengan Douwes Dekker,” tulis sejarawan asal Monash Univerisity ini. Ketiganya lalu dikenal sebagai Tiga Serangkai.

Dekker, lahir di Pasuruan, 8 Oktober 1879. Danudirja Setiabudi adalah nama lain Dekker. Ia merupakan keturunan Douwes Dekker lain, yakni Multatuli, si empunya novel Max Havelaar. Sebuah novel yang mendobrak kemapanan tanam paksa di Hindia Belanda. Mewarisi semangat perlawanan dari pendahulunya, Setiabudi terus melakukan perlawanan terhadap ketimpangan di tanah Hindia sejak ia bekerja sebagai pegawai perkebunan.

Nes, panggilan akrabnya, mengenyam pendidikan dasar di Pasuruan, lalu meneruskan sekolah lanjutnya di HBS Surabaya, sekolah yang sama dengan Sukarno. Tidak sampai selesai, Dekker pindah ke Batavia, mengikuti dinas ayahnya, ia melanjutkan sekolah di Gymnasium Willem III. Setelah menyelesaikan pendidikannya, Nes bekerja sebagai pegawai perkebunan kopi Soember Duren di Malang.

Menurut Hendri F. Isnaeni, dalam artikelnya Ernet Douwes Dekker, Indo yang Jadi Menteri, pada saat bekerja, Nes terlibat konflik dengan atasanya, oleh sebab itu ia dipindah di Padjarakan, Probolingo. Di sana ia melihat penghisapan tenaga kerja pribumi yang bekerja di perkebunan. Air irigasi juga dimonopoli oleh perkebunan, sehingga kebun milik petani tidak dapat jatah air. Sikapnya tegas, pabrik menyerobot hak petani. Tak nyaman, ia memilih resign.

“Menjadi pengangguran, ia memilih menjadi relawan Perang Boer II di Afrika Selatan, antara Belanda dan Inggris. Ia tertangkap dan dipenjara di Sri Lanka, tahun 1902, ia dipulangkan ke Hindia Belanda.”

Sikap frontalnya terhadap penjajah semakin tajam tatkala ia menjadi wartawan. Seperti tulisannya di koran Belanda Nieuwe Arnhemsche Courant, yang menyentil penguasa dengan judul “Cara Bagaimana Belanda Paling Cepat Bisa Kehilangan Tanan Jajahanya?”.

Douwes Dekker salah satu pengritik keras kebijakan politik etis yang menurutnya tak akan mengubah kondisi masyarakat Hindia Belanda. Diperlukan sebuah pemerintahan sendiri oleh orang Hindia Belanda. Gagasan revolusioner ini menurut Adrian B. Lapian sebagai gagasan pertama yang menyerukan pemerintahan sendiri, seperti dilansir dari historia.id.

Menjadi seorang Jurnalis di Bataviaasch Nieuwsblad, membawanya pada pertemuan dengan mahasiswa STOVIA (dokter Jawa). Rumahnya di Jalan Kramat, menjadi jujukan dan tempat nongki Tjipto Mangunkusumo, Soerjopranoto, Goenawan Mangoenkoesoemo, dkk. Dari korannya tersebut, pemuda Indonesia seringkali menerbitkan gagasan-gagasan tentang kemerdekaan.

Dari gagasan-gagasan tersebut, bermuara bahwa untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dibutuhkan wadah perjuangan yaitu Indische Partij (IP) pada 25 Desember 1912. Secara formal IP diresmikan dalam vergadering (pertemuan massa) yang diadakan di Bandung, dengan Hoofdbestuur (pengurus besar) dipimpin oleh Douwes Dekker sebagai ketua dan Cipto Mangunkusumo sebagai wakilnya. Karena dianggap sukses, Vergadering IP menginspirasi vergadering Sarekat Islam yang digelar Cokroaminoto.