Sharing, KONI Kabupaten Pasuruan Terima Studi Banding KONI Lumajang

9433
GAYENG: Ketua Umum KONI Kab.Pasuruan, H Moch Mulyadi memberikan penjelasan saat studi banding menerima kedatangan rombongan KONI Lumajang.

 

Pasuruan (Wartabromo.com) – Prestasi KONI Kabupaten Pasuruan yang mulai membaik membuat KONI luar daerah mengadakan studi banding. Salah satunya dari KONI Kabupaten Lumajang. Pada Jumat siang (11/12), rombongan KONI Kabupaten Lumajang tiba di area komplek pekantoran Raci-Bangil.

Rombongan diterima Ketua KONI Kabupaten Pasuruan, H Moch Mulyadi bersama pengurus lainnya. “Kami ucapkan selamat datang di kantor kami. Kami senang sekali bisa tukar ide, sharing atau berbagi pengalaman dengan KONI Lumajang,” ujar Mulyadi, kemarin.

KONI Lumajang yang hadir sebanyak 8 orang. Mereka dipimpin Wakil Ketua, Bambang Budi Kamulyan beserta jajaran lainnya. Mereka ingin tahu beberapa item. Mulai pusat pelatihan cabang (puslatcab), pengelolaan dana hibah KONI, pacuan prestasi atlet di Porprov hingga tentang pengelolaan cabang olahraga (cabor).

BANYAK MASUKAN: Suasana studi banding KONI Lumajang ke kantor KONI Kab.Pasuruan. Di Lumajang dana hibah KONI berada di pos anggaran Dispora dengan pencairan satu kali termin.

Prestasi Lumajang sendiri dalam gelaran porprov masih belum mengejar dibanding Kabupaten Pasuruan. Mereka menyebut, misalnya Porprov IV tahun 2013 di Madiun, KONI Lumajang berada di peringkat 12. Sementara KONI Kabupaten Pasuruan berada di peringkat 9.

Lalu, pada 2015 saat Porprov V di Banyuwangi, KONI Lumajang berada di peringkat 13. Dan KONI Kabupaten Pasuruan naik satu strip dibanding porprov sebelumnya. Yakni di peringkat 8. Kemudian, pada Porprov VI tahun 2019, KONI Lumajang malah turun di peringkat 16. Sedangkan Kabupaten Pasuruan merangsek di peringkat 6 besar se Jatim.

FOTO BERSAMA: Para Pengurus KONI Kabupaten Pasuruan bersama KONI Lumajang usai sharing ide dalam studi banding, Jumat (11/12) lalu.

“Mudah-mudahan saat kami jadi tuan rumah di Porprov VII tahun 2022 nanti, Lumajang bisa bersanding dengan Kabupaten Pasuruan,” tukas Bambang dengan senyum.

Termasuk soal penganggaran dana hibah daerah. Di KONI Lumajang berbeda dengan Pasuruan. Di Pasuruan pada beberapa tahun lalu, anggarannya berada di bantuan keuangan badan keuangan daerah (BKD). Baru tahun anggaran 2021 mendatang, anggaran KONI beralih ke dispora. “Kalau di Lumajang, sejak dulu kami bersama dengan dispora Pak. Dan kami bisa mencairkan hanya dalam satu termin,” tegas Bambang

Sementara di Kabupaten Pasuruan hingga saat ini, pencairan dananya dalam dua termin anggaran. “Ya mudah-mudahan tahun depan pola penganggarannya lebih baik. Kami sudah melakukan yang terbaik dengan capaian prestasi yang terus membaik,” tegas Mulyadi.

Soal puslatcab, Wakil Ketua KONI Kabupaten Pasuruan, Kusdarmadi menjelaskan, jika puslacab dilakukan untuk cabang olahraga berprestasi. Terdapat 158 atlet dan pelatih dari 17 cabor peraih medali. Sementara, atlet non medali tetap dibina khusus (binsus) agar terdongkrak prestasinya.

“Kami juga ikat pelatih, atlet, bahkan orang tua atlet untuk dibuatkan MoU. Sehingga, atlet benar-benar fokus untuk mengharumkan nama besar Kabupaten Pasuruan,” tegas mantan pensiunan Brimob Watukosek ini.

Dalam MoU, lanjut Kusdarmadi, pihaknya meminta para atlet, pelatih, dan orang tua patuh dengan kesepakatan itu. Misalnya dalam salah satu dictum MoU menyebutkan, jika atlet atau pelatih atau ortu beriniisiatif untuk hengkang ke daerah lain atau mengundurkan diri dan menjadi atlet daerah lain, maka atlet tersebut harus mengembalikan seluruh dana yang sudah disalurkan selama puslatcab dengan denda 100 kali lipat.

“Ini biar kita sama-sama paham risikonya. Dan kami juga kerjasama dengan dispenduk capil. Sehingga, atlet yang sudah terdata pada kami, diusahakan tidak pindah ke daerah lain,” tegasnya.

Selanjutnya, salah satu pengurus KONI Lumajang juga curhat tentang pembinaan atlet dan pengelolaan cabor. Di Lumajang tercatat sebanyak 31 cabor. Namun, dari sisi pembinaan, atlet yang ada di cabor hampir 75 persen adalah atlet siap saji. Bukan dilakukan secara berjenjang.

“Idealnya pembinaan atlet bisa dilakukan secara berjenjang. Mulai dari atlet usia dini, lalu junior hingga ke senior. Sehingga, pantauan kami yang ada di KONI terhadap cabor benar-benar bisa maksimal,” ujarnya. (day/*)