Mengunjungi Stasiun Pengamatan Antariksa (LAPAN) di Gempol; Jadi Alternatif Wisata Edukasi

2315

 

Oleh: Miftahul Ulum

MASYARAKAT era kiwari (kekinian, Red) terlihat berlomba-lomba memamerkan wisata unik dan baru. Salah satu yang diburu adalah wisata edukasi yang unik.

Salah satu yang menyuguhkan wisata edukasi sekaligus unik adalah Balai Pengamatan Antariksa dan Astronomi Pasuruan (LAPAN Pasuruan). Menempati lahan seluas 11,3 hektar, di Desa Carat, Kecamatan Gempol, BPAA ini menjadi satu-satunya cabang LAPAN di Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Bali dan Nusa Tenggara.

Kepala Balai Pengamatan Antariksa dan Astronomi LAPAN Pasuruan Dian Yudha Risdianto menguraikan, memiliki tugas utama untuk melaksanakan pengamatan, perekaman, pengolahan, dan pengelolaan data antariksa dan atmosfer. Terdapat instrument atau peralatan yang digunakan untuk pengamatan benda-benda antariksa maupun pengamatan atmosfer.

Baca Juga :   Truk Ayam Vs Truk Batu, 1 Orang Tewas dan 4 Orang Luka

“Tugas utamanya untuk melaksanakan pengamatan, perekaman, pengolahan, dan pengelolaan data antariksa dan atmosfer. Dari data tersebut kemudian digunakan untuk keperluan riset dan edukasi keantariksaan, nantinya masyarakat kan bisa belajar bagaimana bentuk matahari, aktivitasnya apa saja, juga bisa mengetahui benda-benda langit seperti bulan, dan planet-planet lain,” kata Dian kepada WartaBromo, Sabtu (16/1/2021).

Dian menguraikan LAPAN Pasuruan bermula dari Stasiun Peluncuran Balon Stratosfer (Stasbal) yang diresmikan pada September 1983. Seiring dengan perkembangan waktu berubah menjadi LAPAN Pasuruan.

LAPAN Pasuruan sendiri memiliki sebanyak 15 alat untuk akuisisi data yang terbagi menjadi 2 kelompok penelitian, yaitu Kelompok Penelitian Antariksa dan Kelompok Penelitian Atmosfer. Salah satu produknya adalah SADEWA.

Baca Juga :   Planet Jupiter dan Saturnus "Berpelukan", Bagaimana Cara Melihatnya?

SADEWA (Satellite-based Disaster Early Warning System) merupakan suatu sistem informasi yang menyediakan informasi terkait data observasi dan prediksi menggunakan dinamika atmosfer, seperti prediksi hujan maksimal 3 hari ke depan.

Selain itu, LAPAN juga membuka diri untuk masyarakat awam atau wisatawan yang ingin belajar astronomi dan keantariksaan. Wisatawan bisa berkunjung di hari kerja, mulai jam 08.30 – 15.30.

“Bahkan, meskipun akhir pekan, ketika kantor tutup, kami mempersilahkan warga sekitar atau pengunjung untuk masuk, biasanya jogging atau sekadar berfoto. Diperbolehkan sebatas jalan saja, kan bagus banyak pohon rindang, tapi tidak sampai ke kantor,” imbuhnya.

Hal ini memungkinkan lantaran salah satu tugas dari LAPAN Pasuruan juga adalah pelayanan publik. Masyarakat bisa berkunjung ke LAPAN Pasuruan pada event-event tertentu atau untuk mengamati fenomena alam tertentu.