Mengunjungi Stasiun Pengamatan Antariksa (LAPAN) di Gempol; Jadi Alternatif Wisata Edukasi

823
Stasiun LAPAN di Gempol, Kabupaten Pasuruan. Foto: Miftahul Ulum.

 

Oleh: Miftahul Ulum

MASYARAKAT era kiwari (kekinian, Red) terlihat berlomba-lomba memamerkan wisata unik dan baru. Salah satu yang diburu adalah wisata edukasi yang unik.

Salah satu yang menyuguhkan wisata edukasi sekaligus unik adalah Balai Pengamatan Antariksa dan Astronomi Pasuruan (LAPAN Pasuruan). Menempati lahan seluas 11,3 hektar, di Desa Carat, Kecamatan Gempol, BPAA ini menjadi satu-satunya cabang LAPAN di Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Bali dan Nusa Tenggara.

Kepala Balai Pengamatan Antariksa dan Astronomi LAPAN Pasuruan Dian Yudha Risdianto menguraikan, memiliki tugas utama untuk melaksanakan pengamatan, perekaman, pengolahan, dan pengelolaan data antariksa dan atmosfer. Terdapat instrument atau peralatan yang digunakan untuk pengamatan benda-benda antariksa maupun pengamatan atmosfer.

“Tugas utamanya untuk melaksanakan pengamatan, perekaman, pengolahan, dan pengelolaan data antariksa dan atmosfer. Dari data tersebut kemudian digunakan untuk keperluan riset dan edukasi keantariksaan, nantinya masyarakat kan bisa belajar bagaimana bentuk matahari, aktivitasnya apa saja, juga bisa mengetahui benda-benda langit seperti bulan, dan planet-planet lain,” kata Dian kepada WartaBromo, Sabtu (16/1/2021).

Dian menguraikan LAPAN Pasuruan bermula dari Stasiun Peluncuran Balon Stratosfer (Stasbal) yang diresmikan pada September 1983. Seiring dengan perkembangan waktu berubah menjadi LAPAN Pasuruan.

LAPAN Pasuruan sendiri memiliki sebanyak 15 alat untuk akuisisi data yang terbagi menjadi 2 kelompok penelitian, yaitu Kelompok Penelitian Antariksa dan Kelompok Penelitian Atmosfer. Salah satu produknya adalah SADEWA.

SADEWA (Satellite-based Disaster Early Warning System) merupakan suatu sistem informasi yang menyediakan informasi terkait data observasi dan prediksi menggunakan dinamika atmosfer, seperti prediksi hujan maksimal 3 hari ke depan.

Selain itu, LAPAN juga membuka diri untuk masyarakat awam atau wisatawan yang ingin belajar astronomi dan keantariksaan. Wisatawan bisa berkunjung di hari kerja, mulai jam 08.30 – 15.30.

“Bahkan, meskipun akhir pekan, ketika kantor tutup, kami mempersilahkan warga sekitar atau pengunjung untuk masuk, biasanya jogging atau sekadar berfoto. Diperbolehkan sebatas jalan saja, kan bagus banyak pohon rindang, tapi tidak sampai ke kantor,” imbuhnya.

Hal ini memungkinkan lantaran salah satu tugas dari LAPAN Pasuruan juga adalah pelayanan publik. Masyarakat bisa berkunjung ke LAPAN Pasuruan pada event-event tertentu atau untuk mengamati fenomena alam tertentu.

“Seperti pada saat pengamatan gerhana matahari cincin tanggal 26 Desember 2019 lalu. Kemarin LAPAN Pasuruan menyiapkan beberapa teleskop dan set kacamata sepanjang 15 meter untuk melihat gerhana matahari cincin,” sambungnya.

Untuk menikmati fasilitas tersebut, para pengunjung tidak dipungut biaya sepeserpun. Jadi tidak ada ruginya untuk menikmati pengamatan antariksa, sekaligus belajar. Gratis pula.

Sebagai wisata edukasi, kata Dian, LAPAN Pasuruan memberikan edukasi berupa materi-materi keantariksaan sesuai usia pengunjung. Baik dari jenjang TK sampai Perguruan Tinggi maupun pengunjung awam.

“Nanti kita beri materi tentang keantariksaan sesuai jenjangnya. Dari TK sampai Perguruan Tinggi disesuaikan,” imbuhnya.

Bahkan, beberapa tahun yang lalu, Bupati Pasuruan H.M. Irsyad Yusuf sempat mewacanakan LAPAN sebagai wisata edukasi. Lantaran melihat animo masyarakat belajar mengamati fenomena antariksa.

Dikonfirmasi terkait hal itu, Dian menguraikan, LAPAN Pasuruan sangat memungkinkan untuk dijadikan wisata edukasi. Para pengunjung dapat belajar lebih terkait astronomi. Sembari menunggu kesiapan infrastruktur penunjang bagi wisatawan.

“Kami sudah siapkan Teleskop Portable dan Teleskop Handmade yang sangat fleksibel bisa digunakan untuk pengamatan dimana saja dan mudah untuk dirakit. Tapi ya gitu, karena kami bukan di bawah Pemkab Pasuruan, masih menunggu dari LAPAN pusat,” urainya.

Kendati demikian, Dian tetap mengusahakan untuk memperbesar skala wisata edukasi di LAPAN Pasuruan. Agar masyarakat luas lebih bisa belajar keantariksaan dan astronomi.

“Agar masyarakat secara luas dan pelajar maupun mahasiswa agar semakin memahami bidang keantariksaan dengan edukasi yang kami lakukan, khususnya masyarakat Pasuruan dan sekitarnya untuk semakin antusias karena saat ini yg mendapatkan layanan sudah dari luar Jawa,” urainya lebih lanjut.

Sekadar informasi, LAPAN Pasuruan sudah menerima kunjungan PKL mahasiswa dari luar Jawa. Bahkan, mahasiswa dari Makassar sampai Riau.

Di tengah pandemi seperti ini, dengan adanya pembatasan kunjungan yang dilakukan, LAPAN Pasuruan juga menggelar webinar sebagai siasat untuk mengedukasi masyarakat.