Kisah Guru Honorer Merintis Usaha Aksesoris Motor, Beromset Jutaan Rupiah

2840
“Saya menjadi guru honorer adalah pesan dari almarhum orangtua saya. Namun, saat ini adalah masa sulit saya saat pandemi, mau tak mau saya harus “kencak” (banyak bergerak) untuk menghidupi keluarga saya.”

Laporan : Akhmad Romadoni

ISMAIL Bahtiar (35) warga Dusun Serambi, Desa Winongan Kidul, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan ini sehari-hari jadi guruh olahraga. Bukan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ia merupakan guru honorer dari tahun 2009 lalu.

Sejak masih bujang hingga saat ini sudah berkeluarga, Ia banting tulang untuk bisa menjadi orang yang mandiri dan tak bergantung pada keluarganya. Bayangkan, biaya kuliah yang ia dapatkan adalah dari kerjanya sebagai satpam dan guru honorer di SDN 1 Lebak, Kecamatan Winongan.

“Dulu aja kuliah biaya dari menjadi satpam dan guru honorer,” ucap Bahtiar kepada wartabromo.com, Sabtu (30/1/2021).

Ia menyadari, gaji seorang guru honorer tak seberapa besar untuk bisa menghidupi keluarganya. Apalagi Ia sudah memiliki 2 anak. Ismail pun kemudian memutar otak supaya dapur tetap mengepul.

Bahtiar bersama aksesoris variasi motor yang Ia jual.

Tak disangka, Ia bertemu dengan keterampilan unik. Saat iseng membuat cinderamata wisuda untuk anak, Ia kemudian ketiban rejeki.

“Saya memanfaatkan bahan fiber sejak saya membuat cinderamata untuk anak wisuda, dari situlah alhamdulillah (bisa dapat pesanan, red),” ucapnya.

Berbagai pesanan cinderamata dari beberapa sekolah menyambangi bapak 2 anak ini. Bahtiar kemudian mengembangkan kreativitasnya untuk membuat aksesoris variasi motor dari bahan fiber. Yakni seperti membuat winglet Honda Vario, cover headlamp Honda Beat, Hugger Vario dan cover leher knalpot Honda Vario.

Kerajinan fiberglass yang dirintisnya ini sudah berjalan sekitar dua tahunan. Produknya dipasarkan secara offline dan online.

Nah untuk penjualan onlinenya, ia dibantu sang istri. Bahkan, Ia sudah sanggup melayani pembelian grosir. Pelanggan tetapnya berasal dari wilayah Madura, Kabupaten Situbondo, Bondowoso, Lumajang dan Banyuwangi.

“Saya jual hasil kerajinan saya itu harganya mulai Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu, tergantung modelnya,” katanya.

Siapa sangka, usaha coba-coba yang awalnya hanya bermodal Rp 500 ribu itu bisa berkembang.”Alhamdulillah, rata-rata sebulan yah sekitar 5 jutaan, paling sepi yah 3 juta, pernah paling banyak dulu pas rame-ramenya yah 10 juta ke atas,” lanjutnya.

Awalnya, proses pengerjaan kerajinan dilakukan sendiri. Namun karena pesanan kian hari bertambah banyak, Bahtiar kemudian merekrut dua orang tetangganya sebagai tenaga kerja.

Menurutnya, dimasa pandemi Covid-19 ini, pesanan dari konsumen tidak menurun. Hanya saja harga bahan baku yang digunakan mengalami lonjakan.

“Saat pandemi pesanan masih banyak, tapi harga bahan baku seperti handmade sebagai perekat, sekarang naik harganya,” ujar Bahtiar.

Bahtiar menceritakan apa yang Ia lakukan ini adalah semata-mata untuk menghidupi keluarganya. Apalagi saat ini masih dalam pandemi Covid-19. Penghasilannya sebagai guru, belum bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Meski usahanya mampu meraup uang jutaan rupiah dalam sebulan, namun Bahtiar masih tetap mengajar sebagai guru honorer di sekolah dasar.

“Aktivitas mengajar tidak saya tinggalkan. Saya menjadi guru honorer adalah pesan dari almarhum orangtua saya. Namun, saat ini adalah masa sulit saya saat pandemi, mau tak mau saya harus “kencak” (banyak bergerak) untuk menghidupi keluarga saya,” tutupnya sambal tersenyum. (*)

Baca juga: Jangan Sampai Gulung Tikar, Pertahankan Bisnis di Tengah Pandemi dengan Cara ini

Simak videonya: