Guna-guna Tidak Berguna

813
Ilustrasi oleh Pixabay: nmagwood.
Cerpen
“Uwong iku yo ngunu. Ngarape tok ketok e apik, padahal yo nduwe sifat elek. Sangking ae dekne iso milih kate dadi wong elek opo tetep apik. Ati-ati nek koncoan.”

Oleh: Maya Rahma

HARI ini pulang kerja aku langsung ambruk di rumah. Rasanya badan remuk. Padahal  nggak ada kegiatan yang padat akhir-akhir ini.

“Aku tidur dulu ya. Badanku sakit semua,” pamitku pada istri.

“Lho kenapa kok tumben, kamu nggak enak badan? Coba minum air degan kayak biasanya,” ujar Sri, istriku sambil menepuk-nepuk wajahnya. Sepertinya dia baru selesai menggunakan skincare.

“Sudah kemarin aku minum degan-nya Pak Muh. Kok ya tumben tetep sakit,” jelasku.

Sambil terpejam, sayup-sayup ku dengar Sri mendekat. Tak seberapa lama, tangannya yang kali ini berbau wangi itu menempel di dahiku.

“Byuh mas. Puanas e. Iki nek gawe nggoreng endok ndang mateng. (Panasnya. Ini kalau dibuat goreng telur cepat matang),” seru Sri di kupingku.

Rasanya aku tidak mampu menjawabnya. Entahlah, mataku hanya ingin terpejam dulu beberapa saat. Tapi Sri tetaplah Sri. Istriku ini tipe orang yang paniknya level serius. Dia sudah tergopoh-gopoh membawa butiran obat dan air mineral.

“Isik ojo mapan. Ayo mimik obat disik cek nek tangi langsung sehat awak-e. (Bentar jangan tidur dulu. Ayo minum obat supaya kalau bangun tidur langsung sehat),” ujar Sri sambil menggoyang-nggoyang lenganku.

Kejadian ini sudah 3 hari yang lalu. Dan kalimat Sri saat itu tidak manjur sama sekali. Padahal biasanya setelah minum obat, badanku mendadak sembuh. Sampai kemarin Sri mengajakku pergi ke dokter.

“Aku sudah tanya temenku sing apoteker, Mas. Katanya disuruh nambah dosis paracetamol dulu coba. Aku ya ditanyai bolak balik. Samian (kamu) beneran kan cuma pusing sama panas? Bisa ngerasain garam, gula, atau mencium aroma tubuh istrimu ini gak?” tanya Sri kemarin.

Dia takut aku terkena virus yang bikin Indonesia mumet. Aku yakin sekali tidak terkena. Karena insya-Allah sudah sesuai prokes dan nggak pernah berkerumun.

“Iya Sri. Wong makanku yo lahap. Mosok ya nggak keroso ilatku. Enak, aku ngerti (tahu) juga rasanya teh buatanmu tadi pagi yang dikasih gula sekilo iku,” jawabku pada Sri.

Istriku ini kemudian nitip belikan obat ke saudaranya. Obat yang dimaksud temannya yang apoteker itu. Tapi setelah keliling kota, apotek pada nutup.

Kebacut pancen Lumajang iki. Opo nek dino Minggu wong gak entuk loroh ta? Kok ya podo nutup kabeh apotek (keterlaluan memang Lumajang ini. Apa kalau hari Minggu ini orang nggak boleh sakit? Kok semua apotek tutup),” gerutu Sri saat itu.

Akhirnya Sri membawaku berobat. Anak kami yang masih berusia 8 bulan, dititipkan ke salah satu rumah saudara. Aku mendapatkan tiga macam obat. Buat demam, antibiotik sama pil untuk mengencerkan dahak. Ya ternyata setelah sampai di tempat pak dokter, tiba-tiba aku batuk. Tapi bukan yang ngiklik batuknya. Kayak cuma uhuk-uhuk sesekali.

Kata dokter, aku kebanyakan bergaul sama orang perokok. Akhirnya asap rokok ini bikin infeksi di pernapasan.

“Bukan le. Ini bukan gara-gara rokok. Wis talah, iki ra bener (sudah lah, penyakit kamu ini nggak benar),” kata mertuaku sepulangnya aku dari tempat praktik dokter.

Sehari pasca minum obat, demamku naik turun. Kadang badan sudah mendingan, tapi sejam kemudian panas lagi.

Mas, aku telpon emak ya. Samian kersane dirumat emak. Aku ra iso ngrumati samian mbek gendhuk. Saaken nek samian gak ono sing ngrumati (Mas, aku telepon ibu ya. Biar kamu dirawat ibu. Aku nggak bisa ngerawat kamu dan anak kita sekaligus. Kasian kamu kalau tidak ada yang ngerawat),” tanya Sri kepadaku.

Akhirnya kuizinkan Sri telepon Ibuku. Dia juga telpon Ibunya supaya nginap di rumah kami selama saya dirawat ibu.

Tole tak suwuk tekan kene nduk. Marene ibuk tak mangkat runu (Heru saya obati dari sini nduk. Sebentar lagi ibu mau berangkat ke sana juga),” jawab ibuku dari telepon.