Waspadai Efek Domino Aksi Teror Mabes Polri

1457
Ilustrasi polisi

 

Publik mesti memahami dampak yang ditimbulkan bila menyebar video atau foto pelaku atau kejadian terorisme. Dan sayangnya, sepertinya anggota kepolisian juga tidak sadar akan dampak menyebarkan foto dan video pelaku atau peristiwa terorisme. 

Oleh Lutfi Awaludin Basori*)

SUARA tembakan itu meletus memecahkan suasana hening di Mabes Polri, Jakarta Selatan, pada Rabu (31/3) sore. Dari rekaman video yang beredar di media sosial tampak seorang perempuan mengacungkan senjata ke petugas jaga yang berada di pintu masuk belakang Mabes Polri. Beruntung petugas itu segera bergegas menyelamatkan diri dengan mencari perlindungan.

Perempuan itu tampak berputar-putar sejenak di depan pos seolah mencari sesuatu sebelum akhirnya melangkahkan kakinya lebih jauh ke markas polisi. Namun, belum jauh kakinya melangkah, suara letusan kembali terjadi, kali ini sejumlah pelor polisi menembus tubuhnya yang langsung jatuh terkapar ke tanah.

Atas kejadian itu banyak yang berpendapat, bahwa aksi teror ke markas utama polisi itu merupakan aksi receh, amatiran, bodoh, cari mati, dan banyak lagi hal lain yang meremehkan serangan itu.

Dari sudut pandang strategi serangan teror dan jumlah korban yang diakibatkan, benar memang, serangan teror kali ini cukup receh dan tidak mengakibatkan korban jiwa selain pelaku sendiri.

Serangan serampangan semacam ini tergolong serangan yang kerap kali dilakukan oleh kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Yaitu kelompok yang mendukung ISIS yang dipelopori oleh ideolog terorisme Aman Abdurrahman.

Namun, selain cara yang dilakukan tergolong “bodoh” karena sekonyong-konyong melakukan serangan seorang diri atau “lone wolf”, sisi lain yang perlu diingat adalah target serangan. Target kali ini bukan sembarangan, bukan polres atau polsek seperti yang sering dilakukan sebelumnya, namun markas utama polisi.

Pertama-tama mesti kita catat, bahwa cara pandang kelompok teror ini kebalikan dari sudut pandang umum masyarakat. Kita bilang mati “sangit” mereka sebut mati “syahid”. Kita bilang itu kejahatan, mereka bilang itu aksi mulia. Kita bilang tindakan seperti itu masuk neraka, mereka bilang akan masuk syurga.

Jadi ada perspektif yang jauh berbeda antara pandangan umum masyarakat dengan pandangan kelompok terorisme.

Maka serangan ke markas besar polisi ini yang kita kutuk dan caci maki akan dielu-elukan anggota kelompok teror lain sebagai sebuah keberanian, sebuah capaian besar. Yang selanjutnya mengkhawatirkan, aksi tersebut dapat menjadi pemicu bagi kelompok teroris untuk lebih berani lagi melakukan penyerangan.

Para ideolog kelompok teror ini pasti akan menggunakan serangan ke Mabes Polri sebagai contoh untuk menggerakan anggotanya agar muncul keberanian mereka untuk melakukan aksi “amaliah”. Sehingga mereka terdorong untuk melakukan aksi yang lebih dahsyat atau setidaknya sama.

Nah, dengan begitu serangan teror kali ini tidak bisa dianggap biasa atau remeh, karena dapat menyebabkan efek domino serangan lainnya.

Apalagi serangan ke markas utama kepolisian Indonesia ini merupakan serangan perdana yang pernah dilakukan kelompok teror di Indonesia. Yang tentu saja akan menjadi catatan atau bahkan kebanggaan tersendiri bagi kelompok teroris.

Ditambah lagi, selama ini polisi dianggap sebagai “thogut” dan musuh utama kelompok terorisme. Terbukti, sebagian besar serangan teror di Indonesia menyasar polisi, baik markas ataupun anggotanya.

Maka dari sudut pandang ini, serangan teror ke markas utama polisi di Jakarta tak bisa dianggap enteng.

Selain itu, serangan ini juga akan membangunkan sel-sel tidur kelompok teroris.

Belajar dari kasus serangan di Mako Brimob Kelapa Dua Depok, Jawa Barat, pada 2018 silam, usai penyerangan polisi akan menyisir dan menyapu kelompok ini di berbagai tempat. Penyisiran itu membuat sel-sel tidur menjadi panik. Di antara mereka mungkin akan tiarap dan mengamankan diri, namun sebagian lagi tidak.

Bagian terakhir ini adalah mereka yang telah menyiapkan amaliahnya, menyiapkan peralatannya, namun mungkin belum menentukan target dan waktu yang pas menurut mereka. Karena khawatir terendus oleh aparat, maka mereka akan mempercepat “amaliahnya” dan menentukan target, selanjutnya melancarkan aksi.

Bom Surabaya 2018 merupakan contoh nyata paparan saya di atas. Para keluarga pelaku bom Surabaya sudah menyiapkan aksi untuk “amaliah” mereka. Sejumlah bom sudah disiapkan di tiga keluarga itu. Bahkan sejumlah bom disebar ke keluarga lain juga. Hanya saja belum menentukan target dan waktu yang pas. ke halaman 2