Ikon Kota Adalah Representasi Budaya

2407
“Lantas apakah replika bentuk sepeda yang terpasang di perempatan Kota Pasuruan saat ini adalah sebuah ikon kota?”

Oleh: Saiful Ulum – Pelaku Seni

Dalam pendekatan arsitektural dan seni, ikon kota merupakan sebuah bentuk yang di bangun menyerupai sesuatu yang berfungsi untuk menyampaikan pesan atau mencerminkan identitas atau karakter masyarakat, identitas budaya, tatanan sosial, identitas keagamaan, budaya masa lalu, sejarah, simbol kekuasaan, kejayaan ekonomi, kejayaan teknologi, atau pengharapan ke masa yang akan datang.

Ikon kota tidak serta merta dibuat tanpa adanya maksud dan tujuan. Sebab ikon kota merupakan sarana komunikasi dan informasi yang mampu menghadirkan sebuah tujuan yang dimaksud. Ia merupakan landmark masyarakat yang secara tidak langsung akan membawa sebuah identitas sosial, agama, dan budaya. Bahkan pengaruh itu akan sampai pada wilayah perubahan interaksi sosial, pemikiran, dan gagasan sehingga tercipta budaya baru.

Dalam pandangan semiotika sebuah ikon kota penuh dengan tanda-tanda yang akan ditafsirkan maknanya oleh banyak orang. Mulai dari orang yang ahli sampai orang awam.

Makna tersebut tidak bisa dimonopoli oleh perancangnya saja. Makna itu adalah milik publik. Sebab ia berada di wilayah publik dan memang ditampilkan untuk publik. Oleh karena itu, pembangunannya harus mempertimbangkan kemampuan publik dalam penandaan atau  signifikansinya. 

Makna  sebuah  ikon kota  harus  mudah  ditafsir oleh  masyarakat  umum  agar  tidak  menimbulkan  interpretasi yang terlalu jauh terhadap pesan yang ingin disampaikan. Kesalahan dalam menempatkan suatu struktur dapat mengakibatkan kesalahan penafsiran dan polemik pemaknaan yang berkepanjangan dalam  masyarakat.

Dari hal tersebut di atas, seorang arsitektur dalam proses perencanaan sebuah ikon atau simbol kota senantiasa melibatkan banyak pihak atau melibatkan banyak referensi keilmuan utamanya dari kalangan seniman, budayawan, dan sejarawan. Hal itu karena karya arsitektur yang akan di realisasikan adalah bukan sekedar karya estetika seperti hiasan dan photopoint pada taman atau tempat rekreasi belaka. Namun sebuah karya yang mewakili budaya tertentu yang kemudian akan mampu berpengaruh pada suatu aspek.

Lantas apakah replika bentuk sepeda yang terpasang di perempatan Kota Pasuruan saat ini adalah sebuah ikon kota? Jawabannya tentu saja “tidak”.

Jika replika tersebut disebut sebagai sebuah ikon kota seperti yang tersiar pada portal berita online dan pada situs resmi Kota Pasuruan, itu merupakan sebuah kesalahan. Sebab, sebagai replika saja bentuk itu tidak mewakili dengan apa yang direpresentasikan. Apalagi ditambah dengan konstruksi pedal dan rantai yang salah. Apalagi berbicara sebagai ikon Kota Pasuruan yang memiliki cerita panjang tentang agama, sejarah, dan kebudayaan.

Ditinjau dari segi artistik yang realis replika sepeda itu gagal sebagai bentuk karena banyaknya distorsi. Apalagi sebagai fungsi hal itu benar-benar gagal dengan adanya rantai sepeda yang mengarah ke ban depan.

Sedangkan ditinjau dari segi abstrak bentuk replika sepeda itu masih mengejar bentuk asli dan fungsinya. Sebab abstrak atau disebut juga seni tanpa wujud merupakan satu dari beberapa jenis kesenian kontemporer yang tidak menunjukkan objek dalam dunia asli, tetapi memakai warna dan bentuk dalam cara-cara non representasional. 

Sebagai ikon kota bentuk itu sama sekali tidak mewakili atau merepresentasikan identitas, sejarah, agama, interaksi sosial atau bahkan kebudayaan yang ada di Kota Pasuruan. Dalam pandangan semiotika pun replika itu gagal. Dalam replika sepeda itu tidak ada tanda-tanda yang dapat ditafsirkan maknanya. Benda itu hanya berfungsi sebagai penghias jika pada malam hari, bukan sebagai ikon. Jika dilengkapi dengan keranjang bunga maka fungsi hiasan pada replika tersebut juga akan nampak di pagi dan siang hari.

Padahal, dengan sederet kekayaan sejarah dan peradaban kebudayaan di Kota Pasuruan tercinta ini sangatlah mudah menemukan ikon kota. Sejak zaman kerajaan Kota Pasuruan yang merupakan kota Bandar kuno yang memiliki pelabuhan besar, pada era kolonial merupakan salah satu kota penting dengan peradaban yang maju selain Batavia dan Semarang. Hingga pasca kemerdekaan pun Kota Pasuruan masih memiliki spirit kebesaran dan kejayaan dari baik dari industri maupun dari segi interaksi sosial masyarakat yang heterogen dan mampu hidup dalam satu nafas tanpa adanya sekat ketimpangan sosial.