Arimbi

1002

 

Oleh: Amal Taufik

SENIN, 15 Maret 2010, tepat ketika burung dara baru dilepaskan dari kurungan lalu melejit ke angkasa, Arimbi bangun tidur dan merasa ada yang aneh dengan dadanya. Ia meraba-raba dadanya. Tak ada gundukan. Rata. Ketika ia berdiri, bra yang dikenakannya melorot.

“Ini mimpi! Siapa yang mengambil buah dadaku?” gumamnya.

Selang beberapa menit setelah ia bergumam, jam beker berdering, penjual nasi kuning berteriak-teriak, lalu diikuti bunyi knalpot sepeda motor tetangganya digeber. Usrok, pembantu rumahnya, rupanya datang lebih pagi. Ketika Arimbi membuka pintu kamar, ia melihat Usrok sudah sibuk memasukkan pakaian-pakaian kotor ke dalam mesin cuci.

“Sialan!” katanya lagi. Ia menepuk-nepuk dadanya, lalu mengusap-usap lagi, masih tidak percaya jika kejadian ini bukan mimpi.

Yang pertama kali ia tuduh adalah Tarno, sebab pagi itu Tarno sudah tidak ada di atas keset. Ia berpikir, semalam saat nyenyak tidur Tarno memanjat kasur lalu menarik selimut lalu menggigit dan membawa lari buah dadanya. Memang Tarno adalah makhluk yang kerap membuatnya marah-marah.

Baca Juga :   Lempuyangan, Sebuah Ingatan

Seringkali lauk di meja makan hilang dan tempat sampah di dapur berantakan karena ulah Tarno. “Anjing!” begitu umpat Arimbi saat memergoki Tarno membuat dapur berantakan. Adegan berikutnya: mereka berdua berkejaran di dapur, dan jika sedang apes, Tarno harus rela punggungnya disiram air panas atau mendapat gebukan gagang sapu.

Tetapi karena sudah hafal medan, makin lama kecakapan Tarno meloloskan diri makin baik. “Kucing gendeng!” gerutu Arimbi tiap Tarno bisa lolos dari kejarannya.

Masih tidak percaya, Arimbi berjalan ke kamar mandi, membasuh muka, menggosok gigi, lalu membuka kancing piama bagian atas. Dari pantulan kaca, dadanya tampak seperti dada lelaki. Ia memukul-mukul pipinya, tetap tidak percaya kalau ini bukan mimpi.

Baca Juga :   Daerahnya Langganan Banjir, Alfin Malah Wakili Indonesia ke Australia

Teman-temannya menyebut buah dada Arimbi punya bentuk yang luhur. Mereka mengibaratkan seperti balon padat yang ditempel dengan lem. Bukan seperti gunung, sebagaimana perumpamaan populer yang selalu dilekatkan jika menyebut buah dada.

Arimbi bangga memilikinya. Tapi kebanggaan itu tentu hanya disimpannya sendiri atau sesekali diceritakan pada teman-teman perempuannya. Tidak mungkin kebanggaan itu lantas diumbar kepada khalayak dengan menjadikan foto buah dadanya sebagai tampilan utama layar ponsel atau diunggah ke sosial media disertai caption penuh percaya diri.

Karena itulah Arimbi sangat menjaga buah dadanya. Tidak boleh ada yang menyentuh, sekalipun pacarnya sendiri. Sejak SMA hingga bekerja, ia pernah berpacaran dengan lebih dari tujuh lelaki dan tidak ada satu pun mantan pacarnya yang pernah menjamah buah dada kebanggaannya itu.

Baca Juga :   Masalah Pernikahan

Arimbi berani bersikap keras terhadap pacar-pacarnya yang secara tersirat mengutarakan keinginan untuk memencet buah dadanya. Satya, pacar terakhirnya, ialah laki-laki yang terlalu sembrono ketika mencoba peruntungan untuk menyentuh buah dadanya. Akhirnya ia harus menerima akibat tindakan sembrononya itu.

Suatu kali ketika mereka liburan ke pantai dan tengah duduk-duduk di bawah pohon kelapa, Satya tiba-tiba mendekatkan bibirnya pada tengkuk Arimbi dan tangannya merambat perlahan ke atas perut Arimbi.

Bug! Bug!

Spontan Arimbi langsung meninju bibir Satya dua kali dengan keras. Satya mengerang sambil memegang bibirnya. Belum puas, satu bogem didaratkan lagi ke bibir Satya. Darah mengucur, tapi tidak banyak. Tinjuan Arimbi membuat gigi taring lelaki itu menggores bibirnya sendiri.

“Kau pikir aku murahan seperti pacar-pacarmu dulu?” sentak Arimbi.