Arimbi

1001

Tiba di rumah yang dimaksud, perasaan Arimbi mulai tidak enak. Rumah itu sepi. Penghuninya mungkin sudah tidak ada di rumah, kecuali pembantu atau baby sitter dan si bayi yang sibuk mengenyot buah dadanya. Sekarang sudah jam sembilan lebih sebelas. Ia coba membunyikan bel di dekat pagar. Satu kali. Dua kali. Empat kali. Pada pencetan kelima, seorang pria, usianya sekitar tiga puluh lima tahun berpakaian rapi keluar dengan tatapan ragu.

“Bapak tadi membeli buah dada saya di toko galon?” tanya Arimbi.
“Wah, kebetulan. Itu milikmu, Mbak?”
“Tak ada perempuan yang memiliki buah dada sebagus itu kecuali saya,” kata Arimbi.
“Sekarang barangnya mana?” imbuh Arimbi.

Baca Juga :   Lempuyangan, Sebuah Ingatan

Lelaki itu membuka kopernya lalu mengeluarkan buah dada yang terbungkus plastik.

“Saya ditampar istri karena membeli barang ini. Padahal niat saya baik. Untuk menggantikan ASI yang tidak pernah didapatkan anak saya. Ini, saya kembalikan saja, Mbak,” kata pria itu.

Pria itu lantas menyodorkan buah dada dalam bungkusan plastik kepada Arimbi. Jok sepeda motor ia buka lalu segera dimasukkannya bungkusan itu ke dalam ruang kecil di bawah jok. Arimbi mengucap pamit lalu bergegas pulang ke rumahnya.

Sampai di rumah, dengan hati-hati ia membawa bungkusan plastik itu ke kamarnya. Diamatinya benda yang ada di tangannya itu leka-lekat. Bentuknya memang sempurna, batinnya. Ia membuka bajunya, membuka plastik pembungkus, mengangkat buah dada itu dengan hati-hati. Wajahnya berubah bahagia.

Baca Juga :   Daerahnya Langganan Banjir, Alfin Malah Wakili Indonesia ke Australia

Tapi sesungguhnya Arimbi masih penasaran, bagaimana bisa buah dadanya lepas dan siapa yang bisa melepasnya. Andaikata pelakunya Tarno, seharusnya ia merasa kesakitan ketika Tarno menggigit dan menarik buah dadanya agar lepas dari tubuhnya. Jadi, mustahil pelakunya Tarno. “Kalau begitu siapa?” pikirya.

Ketika akan mengembalikan buah dada itu ke tempat asalnya, ia juga baru sadar bahwa ia tidak tahu cara melepas buah dada itu sehingga ia juga tidak tahu cara memasangnya. Hanya si pencuri yang bisa memasangnya kembali. Wajah Arimbi kembali murung.

Saat itulah tiba-tiba Usrok membuka pintu kamarnya. Usrok membawa sebilah pisau dan sebuah kotak berisi jarum, benang, dan alkohol. Ia tersenyum ramah kepada Arimbi.

Baca Juga :   Masalah Pernikahan

“Bisa masangnya, Mbak?” tanya Usrok. Arimbi tak bisa menjawab dan hanya tertegun menatap senyum ramah pembantunya itu. (*)