Ini 10 Dampak Perubahan Iklim Teratas Bagi Indonesia

1090
Jalanan di sekitar alun-alun Kota Pasuruan yang tergrnang usai diguyur hujan lebat, Minggu (14/2/2021). Kebijakan pembangunan yang kurang memperhatikan daya dukung dan keseimbangan lingkungan akan memperparah keadaan dalam beberapa waktu ke depan. Foto: Istimewa.

 

Pasuruan (WartaBromo.com) –  Dampak pemanasan global (global warming) yang ditandai dengan perubahan iklim ekstrem kian dirasakan berbagai negara di belahan dunia. Tak terkecuali Indonesia.

Ketahanan pangan dipastikan ikut terancam menyusul terganggunya sistem pertanian imbas cuaca yang tak menentu. Begitu juga dengan kelautan dan cadangan air.

Deforestasi serta alih fungsi lahan untuk berbagai kegiatan kian memperparah situasi. Dikutip dari berbagai sumber, berikut 10 dampak teratas dari perubahan iklim yang akan terjadi di Indonesia:

 

 

 

 

1. Produksi Beras Menurun

Jurnal Meteorologi Pertanian menyebutkan, studi baru-baru ini menemukan suhu udara memiliki pengaruh terbesar terhadap hasil panen padi Ciherang. Dimana hasil tersebut menyumbang sekitar 1/2 dari produksi beras Indonesia.

Apabila perubahan iklim semakin tak terkendali, maka wilayah Sumatera Utara, Jawa dan seluruh Kalimantan dapat mengalami penuruan hasil panen. Kejadian tersebut diperkirakan terjadi di tahun 2039-2041 di bawah skenario emisi yang lebih tinggi.

2. Produksi Kopi Menurun

Dilansir dari buku “Studi Pemodelan Iklim”, apabila peningkatan suhu seirinng dengan perubahan curah hujan, produksi kopi akan menurun. Persentase penurunannya diperkirakan mencapai 85% di beberapa wilayah penghasil kopi di Indonesia.

3. Lenyapnya Terumbu Karang dan Wisata Bahari

Tak hanya sektor perkebunan dan perkebunan saja yang terancam mengalami penurunan. Terumbu karang dan wisata bahari pun turut terdampak dari perubahan iklim.

Apabila terjadi, maka karang diperkirakan menurun drastis secara global. Bahkan jika pemanasan global dibatasi hingga 1,5 ° C.

Saat ini, karang yang tersisa masih berpotensi menghasilkan pendapatan pariwisata. Sementara pada 2°C hampir semua karang dan industri wisata yang bergantung pada terumbu akan lenyap.

4. Risiko Banjir Meningkat

Antara tahun 1990 dan 2013, banjir sungai merugikan Indonesia sekitar 5,5 miliar USD. Perubahan iklim dapat meningkatkan kerusakan ekonomi akibat banjir sungai hingga 91% pada tahun 2030 kelak.

Akibat curah hujan yang lebih tinggi, banjir diproyeksikan akan semakin parah di beberapa bagian Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Pulau Maluku dan Papua.

5. Meningkatnya Risiko Kekeringan

Akibat perubahan iklim, curah hujan di Indonesia pada periode antar musim diperkirakan akan turun. Diperkirakan akan menjadi sekitar 30- 40% lebih kering di Jawa dan Sumatera bagian selatan.

Jawa Timur yang sudah rawan kekeringan menunjukkan kemungkinan 45% peningkatan kekeringan. Sedangkan Kalimantan Timur akan mengalami indeks kekeringan sebesar 893
– dibandingkan dengan 460 pra-1990.

6. Terhambatnya Pertumbuhan Ekonomi

Kini Indonesia terancam menderita kerugian tahunan rata-rata sebesar 45 juta USD antara 2000-2019. Pasalnya, bencana alam terkait iklim, dan kemungkinan besar ini akan meningkat secara substansial.

Selain itu, di bawah skenario emisi tinggi, beberapa ekonom telah memprediksikan pertumbuhan PDB Indonesia dapat mencapai puncak pada 8.800 USD per kapita. Apabila perubahan iklim tak stabil maka, PDB per kapita diperkirakan turun sebesar 31% antara tahun 2040-2059 di
Indonesia.

7. Penurunan Produksi Beras yang Lebih Besar

Penurunan hasil beras akan berdampak negatif yang kuat pada masyarakat lokal, swasembada Indonesia dan PDB. Sebuah studi menemukan, kenaikan suhu 2° C dan penurunan curah hujan sebanyak 246 mm dapat meningkatkan defisit beras Indonesia sebesar 38%.

8. Permukaan Laut Naik dan Ancaman Banjir Pesisir

Dari tahun 2000 hingga 2030, kenaikan permukaan laut saja akan meningkatkan keterpaparan orang terhadap banjir pesisir sebesar 19-37%. Khususnya pulau Jawa yang sudah sangat rentan dengan banjir pesisir.

Apabila iklim semakin tak terkendali, maka risiko ini menjadi sangat rentan pada tahun 2030. Bahkan tempat-tempat yang saat ini tidak mengalami banjir pesisir, seperti Sulawesi Selatan akan mengalami peningkatan risiko pada tahun 2030.

9. Peningkatan Kerusakan Topan

Pasca banjir, peristiwa cuaca ekstrem di Indonesia yang paling banyak memakan korban jiwa adalah badai. Topan juga telah menyebabkan kerusakan ekonomi yang sangat besar di Indonesia.

Salah satu contohnya adalah Topan Savana pada tahun 2019 yang
menyebabkan kerusakan sebesar 7,5 juta USD di Indonesia.

Bahkan, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengaitkan dampak topan Seroja yang memicu banjir dan tanah longsor di Nusa Tenggara Timur hingga ratusan orang meninggal beberapa waktu lalu.