Sebuah Kisah : Kiai Nawawi Abdul Djalil Bertemu Malaikat Maut

4284

Umat Islam di penjuru nusantara berduka, sosok panutan KH. A Nawawi Abdul Djalil telah pergi mendahalui kita. Pengasuh Ponpes Sidogiri itu telah meninggalkan banyak kenangan dan wejangan yang sarat makna dalam kehidupan.

Berikut petikan kisah yang didapatkan oleh Anwar Sadad, Dewan Pakar Ikatan Alumni Santri Sidogiri ( IASS)
—————–
Koen tau ditekani Malaikat Izrail?” tiba-tiba Kiai Nawawi Abdul Djalil bertanya seperti itu kepada saya.

Pagi itu, saat saya sowan, ndalem masih agak sepi. Hanya ada beberapa khadam yang sliweran.

Mendapat pertanyaan seperti itu, tentu saya kaget, kagetnya bukan kepalang.

Mboten nate,” jawab saya masih terkaget-kaget.

“Aku wes tau,” tutur beliau.

Lalu mengalirlah cerita beliau. Suatu waktu beliau jatuh sakit. Panas dingin. Sudah minum obat, tapi tidak kunjung membaik. Entah bagaimana ceritanya, Malaikat Izrail datang menemui beliau. Beliau pasrah.

Moro-moro Man Halil (begitulah beliau menyebut Kiai Cholil Nawawie, pamanda tercinta, red) mblayu mrene nemoni Malaikat Izrail,” kenang beliau.

Kiai Cholil Nawawie meminta kepada Malaikat Izrail supaya tidak mencabut nyawa Kiai Nawawi Abdul Djalil, dengan alasan keberadaannya dibutuhkan oleh Sidogiri. Malaikat Izrail lalu pergi.

Saya beranikan diri bertanya kepada Kiai Nawawi apakah itu kisah nyata atau mimpi.

Temen, duduk (bukan) mimpi,” tutur beliau.

Percaya atau tidak. Itulah kenyataannya. Lalu beliau menuturkan karena peristiwa itu ibunda beliau, Nyai Hanifah binti Nawawie, sering mengingatkan supaya pandai bersyukur.

“Umur ole nemu,” pesan sang ibunda.

Saya tak berani bertanya lebih detil. Saya hanya menduga-duga. Peristiwa itu terjadi di masa lajang beliau.

Kiai Cholil, yang disebut dalam cerita itu merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri yang wafat pada tahun 1977.

Selanjutnya, pesantren diasuh oleh kemenakan beliau, Kiai Abdul Alim bin Abdul Jalil yang tak lain adalah kakanda Kiai Nawawi Abdul Jalil.

Nyai Hanifah, ibunda Kiai Nawawi Abdul Jalil, adalah adik Kiai Cholil. Keduanya memiliki adik perempuan, Nyai Aisyah yang dinikahi Kiai Thoyyib, kiai dari Ponpes Kramat, Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan. Nyai Aisyah memiliki beberapa orang putra-putri, diantaranya adalah Nyai Luluk Mukarroman (istri Kiai Abdul Alim Abdul Jalil) dan Mas Bahar Thoyyib (Ketua Umum Pondok Pesantren Sidogiri sekarang). Kiai Cholil, Nyai Hanifah, Nyai Aisyah, ketiganya bersaudara seayah-seibu.

Menurut silsilah keluarga, Kiai Nawawie memiliki tiga orang istri. Dari istri pertama, lahirlah Nyai Fathimah, dinikahi Kiai Abdul Adzim, dan Kiai Nurhasan, ayahanda Kiai Fuad Nurhasan.

Sedangkan dari istri yang lain, Kiai Nawawie memiliki tiga orang putra: Kiai Siroj, ayahanda Kiai Abdulloh Siroj, lalu Kiai Sa’dullah, ayahanda Mas Nawawy Sa’doellah, dan Kiai Hasani.Cucu-cucu Kiai Nawawie ini adalah Majelis Keluarga, yang mendapatkan amanah untuk meneruskan dan mengawal cita-cita pendiri Pondok Pesantren Sidogiri.

Sepeninggal Kiai Nawawi Abdul Jalil, kini Majelis Keluarga menyisakan empat orang cucu laki-laki Kiai Nawawie bin Nurhasan, yaitu Kiai Fuad bin Nurhasan, Kiai Abdulloh bin Siroj, Mas Nawawy bin Sa’doellah, dan Mas Bahar Thoyyib putra Nyai Aisyah Nawawie.

Ala kulli hal. Di luar cerita yang dituturkan secara langsung kepada saya itu, banyak cerita lain tentang Kiai Nawawi Abdul Djalil yang bernuasa “mistis”. Beliau pernah bercerita pernah mengalami “guncangan” keyakinan. Suatu keadaan yang mengingatkan kita pada apa yang pernah dialami al-Imam al-Ghazali, yang tergambar dalam kitab al-Munqidz min al-Dhalal. Saya akan menuliskannya dalam catatan yang lain.

Ini menunjukkan bahwa jejak kehidupan Kiai Nawawi Abdul Jalil penuh dengan pengalaman spiritual. Banyak sekali.

Saya merasa beruntung, meskipun tak terlalu sering bertemu, saya hadir di majelis yang berkualitas, ketika beliau bercerita hal-hal semacam itu. Bahkan cerita yang lebih “dalam” dan lebih dahsyat.

Saya pernah punya niat kuat untuk membuat catatan penting tiap kali berkesempatan sowan kepada beliau di ndalem, atau tak jarang saat beliau berkenan mempir ke rumah saya. Hal yang tak terlewatkan jika beliau berkenan mampir ke rumah, saya selalu membagikan sisa kopi yang beliau minum untuk disruput bergantian oleh keluarga saja. Tabarrukan.

Tiap perjumpaan dengan beliau selalu mengesankan. Banyak sekali pesan-pesan sarat nilai. Namun sayangnya, catatan-catatan itu tak kunjung saya buat. Saya salah mengira bahwa masih akan banyak kesempatan berjumpa beliau. Takdir berkata lain. Tapi saya masih menyimpan catatan dalam hati dan pikiran saya. Sesekali akan saya tulis. Beliau telah pergi, tapi sebenarnya tidak kemana-mana, beliau masih tinggal, di hati dan pikiran kita.