Mengintip Perjuangan Hidup Sunaryono, si “Manusia Listrik”

1113
Sunaryono menimba sumur di rumahnya. Sengatan listrik membuat ia kehilangan dua tangan. Foto: Amal Taufik.

Sengatan listrik sempat membuat Sunaryono berada pada titik terendah. Tapi, ia berhasil bangkit. Menarik becak, berjualan kopi, ia lakoni sendiri, meski tanpa tangan. Sebuah potret tentang perjuangan hidup.

Laporan: Amal Taufik

SUATU pagi di tahun 2003. Hari itu, Sabtu, Sunaryono yang baru bangun tidur tidak mempunyai pikiran macam-macam. Ia pun memulai aktivitas pagi itu seperti biasanya. Warga Kelurahan Purworejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan itu ingat siang nanti ia akan ikut kerja bakti membangun musala di sekitar rumahnya.

Siang pun akhirnya tiba. Dan Sunaryono pun bergabung dengan warga lainnya untuk bergotong royong membangun musala.

Bagi Sunaryono, kerja bakti siang itu menjadi kerja bakti yang akan terus diingatnya bertahun-tahun kemudian. Sebab, saat itulah musibah yang bakal merubah jalan hidupnya dimulai.

“Waktu itu saya ada di atas, pas pegang beton eser. Tiba-tiba seperti ada yang narik, seperti ada magnetnya. Dua tangan saya tersengat listrik,” tutur Sunaryono saat ditemui WartaBromo.

Sengatan itu berlangsung sangat kuat. Reflek, tubuhnya bahkan terjengkang ke belakang. Jleb Punggungnya menancap cagak. Bolong. Tangannya tetap menggenggam beton eser, tak bisa dilepas. Matanya masih sadar. Telinganya masih mendengar.

Ia mengingat usai kesetrum itu, kedua tangannya berwarna merah membara. “Seperti warna api kompor itu tangan saya. Rasanya panas,” ujarnya.

Warga pun langsung menolong Sunaryono dan melarikannya ke RSUD Dr. R. Soedarsono, Kota Pasuruan. Di rumah sakit pelat merah itu, Sunaryono mendapatkan perawatan medis selama 17 hari di rumah sakit tersebut, sebelum kemudian dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.

Sampai di Surabaya, kedua tangannya sempat dicek dengan tespen listrik. Ternyata masih terdeteksi aliran listrik. Rambutnya gampang rontok ketika disisir. Di RSUD Dr. Soetomo, dokter menyampaikan bahwa tak ada pilihan lain; kedua tangannya harus diamputasi.

“Ya bagaimana itu yang terbaik. Wong saya sempat digosipkan meninggal kok waktu itu,” katanya.

Ketika mendapat kabar tangannya akan diamputasi, ia mengaku tidak kaget atau stres. Yang ia pikirkan saat itu adalah: pekerjaan apa yang bisa dilakukannya. Dengan kondisinya yang “baru” dan sebagai kepala keluarga yang harus menghidupi istri dan enam anak, ia merasa harus mencari cara untuk terus bekerja.

“Waktu itu saya mbatin, ya Allah tangan saya sudah panjenengan ambil. Saya mohon setelah ini saya diberi kelebihan,” kata pria berusia 50 tahun tersebut.

Dukungan dari keluarga berperan penting bagi Sunaryono. Istri dan anaknya bisa menerima musibah yang dialaminya dan tidak menjadikannya sesuatu hal yang gawat. Apapun yang dikerjakan Sunaryono setelah kehilangan dua tangannya didukung oleh keluarga.

Ia sempat berjualan jamu setelah perban di tangannya dilepas. Hari pertama ia membawa 60 botol jamu dalam tas yang ia kulak dari temannya lalu menjualnya keliling ke kampung-kampung.

“Lha waktu itu saya cari kampung yang di sana saya punya banyak teman. Biar lebih gampang,” selorohnya.

Sekarang, tangan Sunaryono memang hanya sepanjang siku, namun nafas dan semangat hidupnya melampaui keterbatasan itu. Berbagai pekerjaan rumah bisa dilakoninya sendiri. Kepada WartaBromo, ia bahkan menunjukkan bagaimana ia bisa mengangsu air di sumur lalu memindahkannya ke dalam bak kamar mandi.

Sehari-hari Sunaryono menarik becak. Ia biasa mangkal di sekitaran Kelurahan Purworejo. Setir becaknya pun dibuat khusus menyesuaikan keterbatasan yang ia miliki. Hari-harinya dilakoni seperti biasa, seperti tidak terjadi apa-apa pada dirinya.

Bahkan kebiasaannya nongkrong di warung kopi saat istirahat siang pun tetap tidak berubah. Ia masih senang nongkrong bersama teman-temannya dan bercanda seperti dulu.

Malam hari, ia membuka warung kopi di Jalan Panglima Sudirman. Membuka warung kopi itu pun dilakoninya sendirian, mulai mendorong gerobak, memasang terpal, menggelar tikar, hingga mengaduk kopi dan menyajikannya ke pelanggan.

Istrinya, karena sakit, tak bisa membantu ketika malam hari. Kadang-kadang ia dibantu anaknya. Namun sejak adanya pembatasan, warungnya tidak lagi bisa buka, sehingga penghasilannya sehari-hari saat ini hanya dari menarik becak.

“Tangan saya ini yang memberi dan mengambil Allah. Masa saya sekarang bisanya bekerja seperti ini tidak dikasih rezeki. Yang penting masih mau ikhtiar, pasti diberi rezeki,” pungkas Sunaryono. (asd)