Bikin Umpan Pancing, Pemuda Probolinggo Sukses Raup Rupiah

1120

 

Masa sulit pandemi Covid-19 tak menghalangi Choirul Wahyu untuk mendulang cuan atau untung. Berawal dari hobi mancing, pemuda asal Kabupaten Probolinggo itu, sukses memasarkan umpan buatan (metal jig) hasil karyanya. Selain getok tular, ia memanfaatkan pasar digital.

Laporan: Sundari Adi Wardhana, Probolinggo.

HOBI memancing ikan di laut lepas, membuat Choirul harus merogoh kocek cukup dalam. Selain menyewa perahu, ia harus membeli umpan metal jig dalam jumlah banyak. Meski harganya cukup mahal, mau tidak mau harus tersedia.

“Metal jig itu sebagai umpan untuk menarik ikan buruan kita. Ukurannya ya bervariasi. Kadangkala metal jig itu lepas saat disambar ikan, ya meski kita ganti, makanya harus punya persediaan,” tuturnya kepada wartabromo pada Selasa, 21 September 2021.

Jika terus membeli di toko alat pancing tentu ia harus merogoh kocek lebih dalam, karena harga umpan metal jig cukup mahal harganya. Ukuran umpan metal jig bervariasi, mulai dari 7, 10, 15, 50, hingga 300 gram. Harga belinya pun berbeda-beda, tergantu model dan merek.

Tak ingin hobinya terkendala, pemuda berdomisili di Dusun Blobo RT.26/RW.25, Desa Banjarsari, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo itu pun berinisiatif. Ia mencoba membuat metal jig sendiri berbahan baku timah, kawat dan cat.

Lewat video di media sosial, ia belajar membuat umpan pada medio 2018. Mulanya hanya untuk dipakai pribadi dan berhemat belanja.

“Saya pakai sendiri, belum ada rencana dijual,” sebut karyawan tenaga administrasi jamu herbal itu.

Nyatanya, umpan buatannya menarik minat sesama pemancing lokal. Ia pun memberanikan diri untuk menerima pesanan dari sesama pemancing lokal. Pemenuhan pesanan dilakoni Choirul pada sore hingga malam hari, usai pulang kerja.

Hoki, pemuda lulusan SMA itu menghampirinya di awal tahun 2020 saat Covid-19 mulai masuk Indonesia. Saat itu, bekerja dari rumah (work from home / WFH) diterapkan. Untuk menghilangkan kejenuhan, warga menyalurkan ke hobi memancing.

Ukuran umpan metal jig yang dibuat bervariasi, mulai dari 7, 10, 15, 50, hingga 300 gram. Dengan patokan harga berbeda-beda. Mulai dari harga Rp 10 ribu hingga Rp 150 ribu. Harga jual metal jig ukuran 5-7 gram paling murah Rp. 10.000, harga itu lebih murah dari yang dijual di toko pancing tapi kualitas bersaing.

Order dalam 3 bulan berkisar antara 1.200-1.500 biji. Siklus pesanan tiga bulan sekali itu, menghasilkan penjualan sekitar Rp. 15 juta. Sedangkan biaya produksi bahan dan tenaga sekitar 35% dari pendapatannya tersebut.

Choirul mengakui jika pesanan umpan metal jig saat ini terjadi penurunan. Hal itu dirasakan sejak awal tahun 2021 saat pandemi Covid-19 masuk tahun kedua di Indonesia. Utamanya ketika penerapan PPKM Darurat.

Namun, ia tak kehilangan akal dengan kondisi itu. Ia lebih masif dalam mempromosikan produknya melalui market place dan media sosial. Begitu juga pengiriman mengandalkan jasa kurir demi keamanan bersama dari paparan Covid-19.

“Saya posting di medsos dan market place, pemesanan ada yang grosir dan eceran. Jadi saya benar-benar bekerja dari rumah. Saya juga terhindar dari paparan Covid-19,” ucap ia.

Soal kualitas umpan saat memancing dengan teknik jigging, Choirul membagikan tipsnya, penggunaan umpan yang tepat dan sesuai karakter ikan target 80% menjadi penentunya, sisanya 20% bergantung pada spot memancing dan kondisi perairan.

“Pemilihan bentuk, jenis dan warna umpan metal jig itu menjadi penentu kita mendapatkan ikan saat mancing, nah kondisi cuaca, air dan spot (lokasi-red) memancing jadi penentu berikutnya,” tandas Choirul.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo, selama pandemi berupaya memberikan pelatihan digital marketing bagi UMKM. Pelatihan itu melalui Dinas Koperasi dan Usaha Mikro. Menggandeng akademisi dan pelaku usaha yang sukses memanfaatkan market place.

Memberikan wawasan kepada pelaku usaha, karena masih banyak pelaku UMKM yang belum mengkomersilkan secara digital produk mereka. Sehingga jangkauan pemasarannya hanya terbatas pada masyarakat di wilayah atau kecamatan tertentu saja. Tidak ekspansi ke luar daerah atau luar negara.

“Perluasan pasar melalui digital sangat penting. Tidaknya di masa pandemi ini, tetap juga saat pandemi berakhir. Sehingga mereka nanti mempunyai daya saing,” kata Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Probolinggo, Anung Widiarto.