Mustahid, Local Hero yang Kelola Sampah hingga Hasilkan Maggot BSF

1376
LOCAL HERO: Mustahid di antara lautan sampah yang dikelolanya tiap hari.

 

Laporan: MUHAMMAD HIDAYAT

SURYA mulai tergelincir perlahan. Pertanda waktu siang bakal berganti petang. Ya, jarum jam saat itu menunjukkan pukul 14.30 WIB pada Jumat siang (15/10). Waktu dimana, jurnalis media ini janjian untuk bertemu dengan Mustahid. Sang lokal hero, pejuang sampah asal Penatarsewu, Tanggulangin, Sidoarjo.

Saat kedatangan jurnalis media ini, sosok pria paro baya ini terlihat masih sibuk bekerja. Ia berusaha mengolah sampah organik dalam sebuah tong berukuran sedang. “Hai, Mas nya yang kemarin telepon ya. Sebentar, saya mau cuci tangan dulu. Mas nya monggo duduk santai di sini,” sapa Mustahid dengan ramah sambil menunjuk tempat duduk dari kayu memanjang.

Mustahid kemudian menuju bangunan milik DLKP (DLH) Pemkab Sidoarjo. Bangunan itu awalnya difungsikan untuk menampung sampah dan pembakaran. Namun karena sampah warga terlalu banyak, akhirnya sampah dibuang di sebelah timur, persis samping bangunan tersebut.

Bangunan ini kemudian digunakan Mustahid untuk mandi atau ‘rumah’ peristirahatan sementara. Rumah asli keluarga Mustahid sendiri berada di kawasan perumahan desa setempat. Dalam memilah sampah di TPS (S), biasanya Mustahid tak sendiri. Ia ditemani anggotanya keluarga. Istri, anak dan cucunya.

“Kalau sampah kayak botol plastik, biasanya saya sisihkan. Lumayan, bisa untuk tambahan penghasilan,” katanya usai cuci tangan memulai obrolan.

Mustahid pun bercerita ihlwal awal mula sebelum dirinya terjun sebagai petugas pembuang sampah. Mulanya, suami Nur Hajiah ini bukan orang sembarangan. Ia pernah menjadi anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) selama dua periode.

Namun, setelah jabatan itu berakhir, ia pun mencoba bekerja di bidang perkebunan swasta. Tapi sayang, perkebunanya terjadi krisis, hingga akhirnya ia tidak mendapatkan pekerjaan tetap.

Untuk mengisi kegiatan, ia kemudian aktif dalam kegiatan keagamaan dan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Namun, karena himpitan ekonomi, membuat dirinya mulai galau akan masa depan keluarga. Ia pun mencoba beraktivitas untuk mendapatkan penghasilan.

Pria kelahiran 15 Februari 1964 ini kemudian berpikir keras. Ia pun terbersit rasa keprihatinan yang mendalam akan kondisi lingkungan desanya. Terutama kondisi sungai Alo di desanya. Bertahun-tahun, anak sungai Porong ini terus menjadi tempat pembuangan sampah “raksasa”.

Setiap hari warga seenaknya membuang sampah di sungai. Pemandangan sungai menjadi tidak sedap. Saat itu, warga belum sadar akan bahaya lingkungan, jika sampah terus mencemari sungai.

Berangkat dari keperihatinan itulah, kemudian Mustahid mengambil inisiatif untuk membantu. Yakni membuangkan sampah milik warga. “Saya coba menawari warga satu persatu. Dari rumah ke rumah. Mau ndak sampahnya saya buangkan. Biar ndak ke sungai,” cetusnya.

“Saat pertama kali itu, saya dapat 20 warga. Bulan berikutnya meningkat 30 warga dan terus berkembang. Kalau soal ongkosnya, kalau yang mampu biasanya memberi upah Rp 30 ribu, ada yang Rp 50 ribu per bulan. Tapi yang ndak mampu, seihlasnya,” sambungnya.

Untuk terjun sebagai tukang sampah bukan perkara mudah baginya. Selain usia yang sudah kepala lima, pertentangan dari pihak keluarga pun sempat terjadi. Maklum, Mustahid pernah menjadi “pejabat” atau wakil warga desa. Namun, ia cukup nekat. Memberanikan diri terjun. Bergelut dengan kondisi kotor sampah.

“Kakak saya sampai menangis waktu itu. Tapi, setelah saya jelaskan, akhirnya bisa mengerti,” kenangnya.

Niat Mustahid bukan hanya soal materi. Pemenuhan ekonomi keluarga agar dapur terus ngebul, memang diakuinya. Namun, jauh dari itu, ia ingin mendidik warga desanya agar tidak buang sampah ke sungai. Sehingga, lambat laun, warga desanya pun mulai sadar akan kebersihan lingkungan. Mendidik Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Sungai pun perlahan mulai bersih dari sampah.

MAGGOT BSF: Tedi Abadi Yanto dari Pertagas (dua dari kanan) melihat dari dekat budidaya maggot BSF bersama KSM dan awak media.

Usaha pembuangan sampah ke TPS (S) ini terus dilakukan Mustahid sendirian. Berjalan selama beberapa tahun. Upaya edukasi ke warga pun terus dilakukan. “Saya dulu pernah bilang ke warga, kalau sampean buang sampah di sungai, nanti bisa kena denda, lho. Dari situ, pelan-pelan warga menyadari. Dan akhirnya mau membuang sampah pada tempatnya,” tegasnya.