Mustahid, Local Hero yang Kelola Sampah hingga Hasilkan Maggot BSF

1490

Yang membuat warga kian bersemangat, karena munculnya keranjang sampah yang disupport oleh PT Pertamina Gas (Pertagas). Keranjang sampah itu dibagikan ke rumah masing-masing warga. Awalnya, warga bertanya untuk apa keranjang (tong) sampah itu? Bayar apa gratis? Setelah dijelaskan jika tong sampah itu gratis dan bisa digunakan di masing-masing rumah, akhirnya para warga kian semangat.

Hal inilah yang kemudian membuat gerakan buang sampah kian membesar. Dari hanya puluhan KK dalam satu RT, kini sudah mencapai 10 RT. Jika dihitung warga yang mengikuti buang sampah sekitar 800 KK. Terbagi dalam dua dusun. Yakni, dusun Pelataran dan Dusun Sangangewu atau Sangewu.

Tentu saja, usaha buang sampah ini tidak mungkin dikerjakan Mustahid seorang. Maka kemudian, atas inisiatif Pertagas, pihak desa kemudian membentuk BUMDes. Salah satu usahanya adalah pembuangan sampah warga.

“Sekarang petugasnya menjadi 4 orang, termasuk saya. Buang sampahnya pun tidak cukup sekali. Tapi satu hari bisa dua sampai tiga kali rit,” katanya.

Rupanya, usaha buang sampah yang diinisiasi Mustahid mampu menggerakkan orang lain atau bahkan lembaga desa. Namun, ada permasalahan terhadap sampah basah (organik). Misalnya sampah bekas nasi, jeroan ikan, sisik ikan, buah-buahan, sayuran dan seterusnya. Sampah jenis ini susah dimusnahkan. Dan pihak petugas TPA (Tempat Pembuangan Sampah Akhir) di wilayah Jabon tidak mau membuangkannya.

“Saya kemudian diajari orang Pertagas. Namanya Pak Syarif. Saya dikasih bibit untuk magot atau BSF. Saya awalnya ndak mengerti apa itu maggot BSF. Saya kemudian diajari cara budidayanya. Dari mana makanan maggotnya. Termasuk kami dibantu mesin dan dibangunkan kandang BSF oleh Pertagas,”  terangnya sambil menunjuk rumah mesin dan kandang maggot.

Sampah organik yang dikumpulkan Mustahid kemudian dipilah. Lalu, dimasukkan dalam mesin mencacah. Bahan sampah organik inilah yang kemudian menjadi makanan maggot. “Rakus sekali makannya,” selorohnya sambil menggenggam maggot di tangannya.

Sebagian lagi, sampah organik dimasukkan ke mesin lain untuk pembuatan pellet. Tentu dengan takaran air tertentu. Pelet dirasa cocok untuk pakan ternak dan ikan. Orang menyebutnya pelet sebagai maggot kering.

Maggot merupakan larva yang dihasilkan dari lalat berjenis Black Soldier Fly (BSF) atau lalat tentara hitam. Lalat jenis ini dianggap menguntungkan. Telur maggotnya tidak membawa bibit penyakit jika dimakan hewan lain. Bahkan, saat ini sudah menjadi budidaya yang bernilai ekonomis.

Budidaya ini cukup menggiurkan, jika dikelola dengan baik. Karena maggot BSF saat ini menjadi primadona. Pilihan peternak untuk makanan hewan piaraan. Mulai dari ikan, unggas, burung berkicau atau hewan pemakan maggot lainnya.

PELET: Mustahid bersama Edi menunjukkan produksi pakan berupa pelet yang kini sudah mendapat uji laboratorium.

BSF sendiri memiliki jargon: sustainable organic feed dan waste solution. Menjadi solusi atas persoalan sampah dan makanan organic berkelanjutan. Dikatakan berkelanjutan, karena sampah yang dihasilkan hampir tidak tersisa. Bahkan, saat ini, ada inovasi baru yang dikembangkan oleh Pertagas. Yakni, inovasi berupa pupa (cangkang) dari BSF bisa menjadi pupuk atau media tanam.

“Kita juga ada inovasi baru. Sebelumnya hanya maggot saja. Sekarang maggot bisa dikombinasikan dengan sisik ikan. Dimana hasil produksinya lebih kaya protein yang bagus untuk budidaya perikanan,” tegas Tedi Abadi Yanto, Head Of External Relation East Region PT Pertagas.

Sempat Vakum Akibat Pandemi

Saat pandemi Corona-19 menggejala, hampir semua usaha terkena dampaknya. Tak terkecuali dengan budidaya Maggot BSF yang dikelola KSM. Jupri Untung, Ketua KSM yang membidangi sampah mengakui hal itu. Soal maggot pihaknya dari awal sudah mempercayakan budidaya ini kepada Mustahid.

Namun, saat pandemi terjadi pada 2020, aktivitas Maggot sempat vakum. Hal ini salah satunya karena Mustahid sendiri jatuh sakit. Ia sempat dirawat di RSUD Sidoarjo. Keluarganya pun khawatir jika dia terkena virus Corona. Meski ia mengakui masih  bisa merasakan makanan maupun membau.

Wis prei (libur dulu, red). Saya sudah ndak bisa memikirkan Manggot dulu. Wong saya sakit. Cuma apakah kena Corona atau tidak, saya ndak tahu. Karena belum dites waktu itu. Dan kebetulan ada saudara yang bekerja di Polda meminta agar saya pulang paksa saja. Dirawat di rumah saja,” ceritanya.