Petani Kopi Probolinggo Berjuang Di Antara Mahalnya Harga Pupuk dan Pandemi Covid-19

1353
Wabah Covid-19 turut memengaruhi kehidupan petani kopi di Desa Andungbiru, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo. Hasil panen tidak terserap maksimal, karena tutupnya cafe dan restoran saat PPKM. Di sisi lain, mereka juga dihadapkan pada tingginya harga pupuk ditengah penurunan produksi.
Laporan: Sundari Adi Wardhana, Probolinggo.

KOPI Andungbiru sudah dikenal mempunyai ciri khas tersendiri di kalangan penikmat kopi. Perpaduan kopi jenis Arabica Colombia-Brasil (Cobra) dengan tanah lereng Pegunungan Argopuro menciptakan cita rasa unik. Digandrungi kawula muda dan membuat betah nongkrong di cafe atau kedai kopi.

Nyatanya saat pandemi Covid-19 melanda, petani kopi terpuruk. Ada 3 persoalan yang dihadapi petani kopi Andungbiru. Pertama hasil panen yang tidak dapat terserap maksimal. Seiring tutupnya cafe serta restoran yang biasa menyerap produk kopi.

Kedua adalah penurunan produksi dari tahun sebelumnya. Pada panen 2021, petani hanya mampu mendapatkan rata-rata 220 Kg/Ha. Jumlah itu menurun jauh, jika dibandingkan dengan hasil pada tahun sebelumnya yang mencapai 400 Kg/Ha.

Baca Juga :   Komuter Pasuruan-Surabaya Siap Beroperasi hingga Dua Motor Bertumbukan di Kraton | Koran Online 10 Feb

Ketiga adalah tingginya harga pupuk yang naik sekitar 29,20% dari harga biasanya. Dampak dari pengurangan kuota pupuk bersubsidi oleh pemerintah. Petani pun diharuskan membeli pupuk non subsidi yang harganya lebih malah.

“Pandemi ini tidak saja memberikan beban kesehatan bagi kami di sini, namun juga seiring peningkatan harga pupuk, mengakibatkan pemupukan seringkali diabaikan. Imbasnya produktivitas dan kualitas tanaman kopi pun menurun,” sebut Suto, salah satu petani kopi.

Mengatasi persoalan-persoalan itu, petani kopi kemudian berinovasi dengan membuat pupuk organik atau trichokompos. Dengan bahan utama dari limbah kulit kopi. Dengan biaya sekitar Rp 170.000 dapat menghasilkan 500 kg pupuk trichokompos atau setara dengan Rp 340/Kg. Harga ini, 10 kali lebih murah bila dibandingkan dengan harga pupuk kimia/anorganik yang mencapai Rp 3.400/Kg.

Baca Juga :   Kasus Positif Perlahan Naik, Wali Kota Probolinggo Warning Pelaku Usaha

Terobosan kedua adalah membuat lahan jemur komunal dengan memanfaatkan lahan non-produktif. Untuk mendapatkan pengeringan yang optimal, lahan penjemuran dibuat dengan rak jemur serta berbata beton (paving block).

Uniknya, paving block yang digunakan dibuat dengan memanfaatkan sisa dari hasil pembakaran batubara (fly ash bottom ash) PLTU Paiton. Terobosan ini dapat menghemat lahan untuk menjemur. Karena satu sak yang setara dengan 50 kg biji kopi membutuhkan lahan penjemuran 1,5 m².

Dengan estimasi panen tahun 2021 sebesar 80 ton, maka lahan yang dibutuhkan mencapai 2,4 Ha. Dengan memanfaatkan lahan jemur komunal dan rak jemur, mengubah pola sosial masyarakat dalam pembukaan lahan untuk penjemuran. Mereka tak dengan perlu menebang pohon lagi, sehingga kelestarian tetap terjaga.

Baca Juga :   Nyaris 70 Persen, Vaksinasi di Probolinggo Terkendala Lansia

“Kami mendapat pendampingan dari PT PJB Unit Pembangkitan Paiton melalui program CSR-nya. Berbagai masalah utama petani tersebut akhirnya bisa diatasi,” ucap ketua Kelompok Putra Kramat, salah satu kelompok pertanian di Desa Andungbiru.

Pendampingan pada proses penjualan juga didampingi PJB UP Paiton. Selain melalui kedai kopi Lang Baling di area Balai Latihan Kerja (BLK) Kraksaan, produk kopi juga dijual melalui platform marketplace dan website. Lang Baling dikembangkan mendistribusikan produk kopi khas desa tersebut.

“Penjualan melalui outlet pada marketplace menjadi cara untuk memudahkan bagi masyarakat dalam memasarkan produk kopi, tidak hanya di lingkup Kabupaten Probolinggo, namun bisa meluas hingga daerah lain,” kata Agus Prastyo Utomo, General Manager PJB UP Paiton.