Petani Kopi Probolinggo Berjuang Di Antara Mahalnya Harga Pupuk dan Pandemi Covid-19

1551

Agus menyebut program CSR yang dijalankan, mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat dan responsif terhadap bencana. Melalui program Kampung Sentra Energi Terbarukan untuk masyarakat (Kampung Setrum) di Desa Andungbiru, UP Paiton membawa spirit energi kopi untuk mengajak masyarakat bangkit di tengah pandemi COVID19 yang belum usai hingga hari ini.
Lewat program berkesinambungan itu, PT PJB UP Paiton Probolinggo berhasil mendapatkan emas dalam anugerah PROPER 2021 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada Selasa (28/12/2021) di Istana Wakil Presiden RI.

Proper emas itu, adalah yang keempat kalinya bagi UP Paiton. Setelah sebelumnya mendapatkan penghargaan serupa pada tahun 2017-2019.

Penghargaan tertinggi itu, menunjukkan UP Paiton sebagai salah satu perusahaan dengan proses bisnis yang bertanggungjawab terhadap lingkungan. Perusahaan melakukan berbagai inovasi di berbagai bidang untuk mendukung capain tersebut.

Mulai dari efisiensi energi, efisiensi pemakaian air, penurunan emisi yang dihasilkan, pemanfaatan limbah B3 dan Non-B3, hingga menjaga keanekaragaman hayati di sekitar PLTU Paiton.

“Ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak. Kami berterima kasih kepada masyarakat yang telah mendukung operasional perusahaan dan menjalin kerja sama yang baik dalam pengelolaan lingkungan,” tandas Agus Prastyo Utomo.

Desa Andungbiru merupakan salah satu desa penghasil kopi di Kabupaten Probolinggo. Dari daerah berketinggian ± 900-1300 mdpl dengan curah hujan rata-rata 293-300 mm itu, cocok untuk jenis robusta maupun arabika. Tiap tahun, petani kopi dapat menghasilkan sekitar 145,6 ton kopi dalam bentuk biji kupas atau lazim disebut green bean.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Probolinggo, Mahbub Zunaidi menyebut, problem kekurangan pupuk pabrikan (anorganik) terjadi, seiring kebijakan pengurangan kuota pupuk bersubsidi oleh pemerintah pusat.

Agar petani tidak selalu bergantung pada pupuk bersubsidi. Kemudian beralih ke pupuk non subsidi. Kebijakan itu, terjadi di seluruh Indonesia, tidak hanya di Kabupaten Probolinggo.
Salah upaya yang dilakukan untuk mengurangi dampaknya, kata Mahbub, adalah dengan memasifkan sosialisasi penggunaan pupuk organik. Dimana pupuk organik mengandung unsur mikro yang lebih lengkap dibanding pupuk anorganik. Mampu memperbaiki struktur dan menggemburkan tanah

“Pupuk ini, berperan memobilisasi atau menjembatani hara yang sudah ada di tanah, sehingga mampu membentuk partikel ion yang mudah diserap oleh akar tanaman,” ucapnya.

Selain lewat penyuluh pertanian, sosialisasi dan pengaplikasian pupuk organik juga mengandeng pihak swasta. Baik sebagai produsen, penyalur maupun berperan dalam pendampingan.

“Kita komunikasikan dengan perusahaan yang ada di sini. Berkolaborasi dan berbagi peran dalam mensejahterakan petani,” kata Mahbub. (*)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.