Peneliti Temukan Jejak Permukiman Kuno di Ranu Grati

868

Ranu Grati, Kabupaten Pasuruan saat sore.

Selain beliung, survei arkeologi juga menemukan fragmen gerabah atau tembikar di kawasan yang saat ini menjadi permukiman penduduk Dusun Parasan, Desa Gratitunon. Ada juga benda terakota berbentuk silinder dengan lubang di bagian tengahnya. itu memiliki panjang antara 3–3.5 sentimeter dan diameter 0,5 sentimeter.

Berdasar periodesasi, Gunadi menduga, beberapa artefak yang ia temukan itu banyak dipakai masyarakat pada zaman prahistoris dan lekat dengan animism-dinamisme. “Tidak ada data tertulis, seperti prasasti dan sebagainya yang kami temukan,” jelasnya.

Gunadi katakan, pola permukiman masyarakat kuno di sekitar ranu sedikit berbeda dengan mereka yang menghuni sungai. Pada danau, pola permukiman mereka melingkar, mengelilingi tepian danau. Sedangkan pada sungai, pola permukiman yang dibuat memanjang mengikuti alur sungai. “Hal ini dimaksudkan untuk mendekatkan dengan sumber air, sumber penghidupan.”

Masyarakat sekitar ranu tetap mempercayai ada tokoh-tokoh pendahulunya sebagai cikal-bakal penghuni desa. Sikap itu ditunjukkan dengan perilaku dan upacara-upacara terkait daur hidup, sedekah bumi atau ruwat desa. “Inti dari upacara tersebut sebagai upaya masyarakat setempat untuk menjaga kelestarian lingkungan.”

Arkeolog asal Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur, Wicaksono mengatakan, selain Ranu Grati, temuan serupa juga kerap dijumpai di beberapa danau serupa di Jawa Timur. Seperti Ranu Klakah, Ranu Gedang di Lumajang, atau Ranu Segaran, Ranu Bethok di Probolinggo. “Itu mengindikasikan bahwa orang-orang terdahulu memang banyak mendiami sumber-sumber air untuk bertahan hidup,” katanya.

Wicaksono katakan, artefak-artefak yang banyak bertebaran di sekitaran ranu sejatinya bisa menjadi sumber informasi dan pengetahuan tentang masyarakat di masa lalu. Mulai dari pola permukiman hingga tradisi mereka di zaman itu. Hanya memang, untuk menggalinya diperlukan biaya yang tak sedikit.

Agus Sugiarto, praktisi wisata berbasis komunitas mengatakan, jejak arkeologi, sebagaimana temuan Gunadi itu sejatinya bisa menjadi modal untuk mengembangkan pariwisata di Ranu Grati. Dengan begitu, pengunjung yang datang tidak hanya bisa menikmati panorama danau dengan latar pegunungan Bromo.

“Temuan itu kan sebenarnya cerita menarik. Selain Ranu Grati yang memang memiliki banyak cerita legenda, narasi tentang permukiman kuno itu juga bisa menjadi daya tarik wisatawan untuk datang,” katanya.

Hanya saja, sebagai salah satu destinasi wisata di Kabupaten Pasuruan, Ranu Grati juga brhadapan pada sejumlah persoalan. Terutama praktik pembuangan limbah domestik hingga penambangan pasir di sekitar danau. “Hal-hal ini yang harus dibenahi dulu agar tidak mendegradasi peluang Ranu Grati sebagai objek wisata menarik,” jelas Sugiarto. (asd)