Deretan Fenomena Atmosfer Disebut Memicu Banjir Bandang di Lereng Argopuro Probolinggo

46

Probolinggo (WartaBromo.com) — Banjir bandang yang melanda kawasan lereng Gunung Argopuro pada Kamis (11/12/2025) dipengaruhi oleh kombinasi berbagai fenomena atmosfer yang saling menguatkan.

BPBD Jawa Timur menyampaikan bahwa peningkatan curah hujan ekstrem tidak hanya disebabkan kondisi lokal, tetapi juga dinamika cuaca regional yang tengah aktif.

Dadang Iqwandy, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Jawa Timur, menjelaskan bahwa aktifnya Monsoon Asia, disertai anomali Madden Julian Oscillation (MJO), menjadi faktor utama yang meningkatkan suplai uap air di atmosfer.

Kondisi itu kemudian diperkuat oleh kehadiran gelombang Kelvin, gelombang Rossby Equator, serta seruak dingin Siberia yang turut mendorong pembentukan awan hujan secara masif.

“Sejumlah fenomena atmosfer terjadi secara bersamaan sehingga memicu intensitas hujan tinggi di beberapa wilayah, termasuk Probolinggo,” ujar Dadang dalam kegiatan sosialisasi kebencanaan bidang jurnalistik yang digelar BPBD Kabupaten Probolinggo, Jumat (12/12/2025).

BPBD Jatim merujuk pada laporan BMKG yang mencatat tren peningkatan hujan ekstrem dan angin kencang menjelang akhir tahun.

Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur termasuk wilayah dengan frekuensi kejadian cuaca ekstrem paling tinggi, sehingga membutuhkan kesiapsiagaan lebih kuat.

“Selain itu, potensi tumbuhnya bibit siklon tropis di selatan Indonesia juga menjadi perhatian,” kata ia.

Menurut Dadang, pola cuaca yang tidak stabil dapat memicu pembentukan siklon secara tidak lazim, sebagaimana terjadi pada Siklon Senyar yang sebelumnya menimbulkan dampak signifikan di Aceh.

“Kami juga mencermati potensi banjir rob di pesisir utara Jawa akibat fase perigee dan bulan purnama di pertengahan Desember,” kata Dadang.

Di sisi lain, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarif, menepis dugaan bahwa banjir bandang berkaitan dengan aktivitas pembalakan liar di kawasan hutan Gunung Argopuro.

Menurut dia, kayu-kayu yang terbawa arus merupakan material alami yang terseret aliran deras. “Tidak ada indikasi illegal logging. Kayu yang terbawa hanyut merupakan kayu biasa,” ujarnya.

Hingga Jumat sore, BPBD Kabupaten Probolinggo mencatat sekitar 50 kepala keluarga di Dusun Sumberkapong masih terisolasi akibat jembatan utama yang putus diterjang arus.

Jembatan tersebut merupakan akses vital bagi aktivitas harian warga. “Jalur alternatif memang tersedia, namun kondisinya cukup sulit dilalui,” kata Oemar.

Selain di Sumberkapong, kerusakan infrastruktur tercatat di sejumlah titik lain. Lima jembatan dilaporkan mengalami kerusakan, tiga di antaranya putus total—dua jembatan beton dan satu jembatan konvensional.

Kerusakan paling parah terjadi di Dusun Kedaton, Desa Andungbiru, yang kini terputus total dari akses luar.

BPBD bersama Pemerintah Kabupaten Probolinggo masih melakukan asesmen lapangan dan menyiapkan langkah penanganan darurat untuk memastikan kebutuhan warga terpenuhi serta akses masyarakat dapat dipulihkan secepatnya. (saw)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.