Harga Plastik Melonjak, Lesu dan Daya Beli Warga Menurun di Pasar Baru Probolinggo

8

Probolinggo (WartaBromo.com) – Kenaikan harga plastik yang dipicu gejolak konflik di Timur Tengah membuat aktivitas perdagangan di Pasar Baru Kota Probolinggo, menjadi lesu.

Sejumlah harga komoditas ikut naik, mulai dari sayuran hingga bahan kebutuhan pokok lain, sehingga daya beli masyarakat menurun.

Suasana Pasar Baru Kota Probolinggo, dalam beberapa pekan terakhir terlihat tidak seramai biasanya.

Lapak para pedagang masih dipenuhi barang dagangan, namun jumlah pembeli yang datang mengalami penurunan cukup signifikan.

Para pedagang menyebut kondisi ini telah berlangsung sekitar satu bulan terakhir, bertepatan dengan melonjaknya harga plastik di pasaran.

Kenaikan tersebut kemudian berdampak pada naiknya harga sejumlah komoditas lain, terutama sayuran dan barang yang menggunakan plastik sebagai kemasan.

Menurut salah satu pedagang, Astuti, harga sayuran mengalami kenaikan antara Rp1.000 hingga Rp5.000 per ikat.

Sementara untuk penjualan per kilogram, harga juga ikut menyesuaikan.

“Semua naik, harga sayuran ada peningkatan sekitar seribu sampai lima ribu rupiah per ikat. Kalau per kilo juga ikut naik,” ujarnya, Sabtu (18/4/2026).

Sementara itu, pedagang plastik, Yanto, mengungkapkan bahwa harga plastik naik lebih dari 50 persen. Dari harga sebelumnya sekitar Rp30 ribu per kilogram, kini melonjak menjadi Rp54 ribu per kilogram.

Ia menjelaskan, lonjakan harga tersebut dipengaruhi oleh konflik antara Israel dan Iran yang memicu ketegangan di kawasan Selat Hormuz.

Kondisi itu berdampak pada distribusi bahan baku impor yang selama ini menjadi penopang produksi plastik.

“Imbas perang dan penutupan Selat Hormuz, bahan bakunya impor semua, jadi harga langsung naik,” kata Yanto.

Kenaikan harga plastik ini secara langsung memengaruhi aktivitas perdagangan di pasar.

Pedagang mengaku penjualan menurun karena masyarakat kini lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang mereka.

Tidak hanya pedagang sayur dan plastik, penjual tempe serta tahu juga turut merasakan dampaknya. Hal ini disebabkan bahan baku utama berupa kedelai masih bergantung pada pasokan impor, sehingga harganya ikut terdongkrak.

“Mau dinaikkan ya kasihan pelanggan, dipotong lebih kecil juga kasian, akhirnya kami yang mengalah, labanya dikurangi, hampir pok antara modal dan penghasilan,” sahut Karina, pedagang tempe.

Kenaikan harga plastik untuk kemasan serta naiknya harga kedelai impor menjadi tekanan ganda bagi para produsen tempe dan tahu. Kondisi tersebut dinilai semakin memperlemah usaha para pelaku UMKM di sektor pangan. (lai/saw)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.