Rupiah Hancur & Revolusi Weteng Luwe

8

“Katanya swasembada pangan, tapi beras makin mahal. Katanya bilyunan uang sudah dirampas dari koruptor, tapi peredaran uang di masyarakat masih sedikit. Konon ekonomi tumbuh lima persen, tapi mana kok tidak ada efeknya di masyarakat? Saya juga baca berita kalau ekonomi dunia memang sedang krisis, tapi sejak krisis 1998 hingga kini, kita kok krisis terus ya?”

Oleh: Abdurrozaq

“Blaen, makin lama makin ngeri saja kota ini,” gumam Mahmud Wicaksono seraya menatap layar ponselnya.

“Ada apa, mas?” ujar Cak Paijo LSM ingin tahu.

“Seminggu full terjadi tindak kejahatan, cak. Rumah dibobol di Pohjentrek, satpam pabrik PIER kehilangan motor, pencurian puluhan tabung gas LPG. Kota ini kok malah mirip kota Ghotam ya? Mirip kota penuh kejahatan dalam film Batman?”

“Wis zamane, cak,” ujar Cak Paijo LSM enteng.

“Wah, enak temen langsung mengkambing hitamkan zaman. Di negara-negara maju lho kejahatan masih sedikit terkendali. Di kota-kota tertentu negara kita, sepada motor tak penah dimasukkan rumah tetap aman. Lha di kota kita, wong kita kendarai saja diminta. Mbok ya kita analisis dengan kacamata sosiologi, ekonomi, hukum, moral atau apalah biar sedikit keren. Untung kalau kita temukan solusi mujarabnya.” Ujar Mahmud Wicaksono.

“Di kota kita ini kan, kejahatan biasanya meningkat sesuai musim. Sekarang kan musim orang hajatan, dan konon di daerah kantong-kantong pelaku kejahatan, kalau buwuh gedhi-gedhian. Buwuh sampai jutaan rupiah setiap terop. Apalagi ada tradisi nanggap orkes dangdut dan pesta mirasnya, ada tradisi nyawer biduannya. Makanya butuh banyak modal,” ujar Cak Paijo LSM.

“Wah, blaen kalau gini, cak. Kemarin orang butuh uang untuk lebaran. Sekarang musim buwuhan, bulan haji juga musim buwuhan, bulan mulud nanti musim buwuhan. Kalau setiap butuh uang solusinya mbegal, nyolong atau njambret, kapan amannya kota kita ini?”

“Sebenarnya tidak sesederhana itu,” celetuk Gus Karimun ikut nimbrung. “Saat ini kan, boleh dibilang ekonomi sedang lesu. Sementara masalah judol, narkoba, pinjol, gaya hidup mewah, paket COD dan skincare istri, sudah menjadi sebuah keharusan. Makanya, insya Allah kejahatan akan terus meningkat tanpa pandang musim,” ujar Gus Karimun.

“Bisa jadi pelaku kejahatan makin di atas angin, karena masyarakat bisa menjadi tersangka kalau membela diri, gus,” timpal Mahmud Wicaksono.

“Hush, gak ilok!” ujar Gus Karimun seraya tersenyum penuh arti.

“Kalau kita amati, sejujurnya ekonomi kita sudah lumayan membaik lho,” lanjut Gus Karimun. “Buktinya, di kampung-kampung sudah banyak yang punya mobil. Meski belum mampu membuat garasi, setidaknya sudah banyak yang mampu membeli mobil. Orang hajatan juga gedhi-gedhian terop. Sampai menutup jalan segala.”

“Berarti penegakan hukum kita yang bermasalah, gus?” Ujar Cak Paijo LSM.

“Ya, saya tak berani bilang begitu,” sahut Gus Karimun seraya kembali tersenyum penuh arti.

“Repot ya gus? Saat kita nggak punya, kepingin punya. Kalau sudah punya, keselamatan bisa terancam,” celetuk Cak Sueb.

“Bener, cak. Di dunia ini memang begitu. Lha kalau kita kurang bersyukur padahal ekonomi sudah lumayan membaik dibanding saat kita kecil dulu, ya begini ini akibatnya.”

“Tapi apa benar ekonomi negara kita baik-baik saja, gus?” Protes Mahmud Wicaksono. “Rupiah makin anjlok, terparah sepanjang sejarah. Lapangan kerja semakin sulit. Jangankan cari kerja, yang sudah kerja tidak dipecat saja bagus. Jangankan yang tidak bekerja, yang bekerja saja tidak dapat uang. Contohnya saya, sejak pagi sampai tengah malam membuka lapak cukur rambut, hasilnya hanya cukup buat beli beras,” ucap Mahmud Wicaksono mulai emosi.

“Katanya swasembada pangan, tapi beras makin mahal. Katanya bilyunan uang sudah dirampas dari koruptor, tapi peredaran uang di masyarakat masih sedikit. Konon ekonomi tumbuh lima persen, tapi mana kok tidak ada efeknya di masyarakat? Saya juga baca berita kalau ekonomi dunia memang sedang krisis, tapi sejak krisis 1998 hingga kini, kita kok krisis terus ya?”

“Saya ini diam-diam pejuang, gus..” ujar Mahmud Wicaksono. “Kalau ada yang menebar hoax, menjelek-jelekkan pemerintah atau adu domba di media sosial, saya pisuh-pisuhi. Tak peduli ada UU ITE. Tapi balasan negara kok begini ya sama saya? Saya rajin bayar pajak, sekaligus tak pernah dapat bansos. Tapi hampir ksisis pangan dan dajjal datang, orang lugu, jujur dan cinta tanah air seperti saya selalu miskin.”

“Saya khawatir, jutaan rakyat yang diperlakukan seperti saya, lama-lama imannya rusak dan membenci negara. Kalau saya sih, takkan mbegal apalagi memberontak negara. Tapi di luar sana, saya khawatir ada yang ngobong-ngobongi lalu melakukan revolusi. Dan, revolusi kali ini akan sulit dibendung karena digerakkan oleh weteng luwe. People power akibat weteng luwe, jauh lebih dahsyat daripada demonstrasi bayaran yang digerakkan oleh kepentingan politik. Makanya, saya khawatir negara ini hancur oleh revolusi weteng luwe. Sebab dengan dorongan weteng luwe, para begal, penjambret, pengedar, pemuka agama, tokoh masyarakat, LC, dan siapa pun yang perutnya merasa lapar, akan bergerak bersama.”

“Makanya, kalau pemilu itu jangan nyoblos yang nyogok. Coba pilih yang agak amanah biar kalau jadi penguasa bisa mengayomi kita. Kalau penguasanya lumayan amanah kan, sedikit bisa diandalkan, termasuk masalah hukum,” kata Cak Manap

“Repot, cak. Mana ada calon penguasa yang tidak nyogok saat pemilu?” kata Cak Sueb pesimis.

“Ya meski sama-sama nyogok, pilih yang menurut hati nurani kita lumayan bisa dipercaya. Tak usah terlalu manut tokoh agama, wong sekarang sama-sama punya jagoan.” Wak Takrip ngakak tertahan.

Gus Karimun tersenyum kecut karena tak bisa melerai kekecewaan kawan-kawannya itu. Dan apa yang ia khawatirkan selama ini, sepertinya mulai menemukan bahar bakar untuk segera melumat bangsa ini. Naudzu billah min dzalik.

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.