Ribuan Nelayan Probolinggo Masih Melaut Tanpa Jaminan, Pemkab Baru Mampu Cover 54 Persen

7

Probolinggo (WartaBromo.com) — Laut memberi penghidupan bagi ribuan warga pesisir di Kabupaten Probolinggo. Namun bagi sebagian nelayan, setiap kali perahu meninggalkan bibir pantai, selalu ada risiko yang ikut berlayar: kecelakaan kerja, cuaca buruk, hingga ancaman kehilangan nyawa tanpa perlindungan sosial yang memadai.

Pemerintah Kabupaten Probolinggo tahun ini memang memperluas bantuan iuran BPJS Ketenagakerjaan bagi nelayan melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). Sebanyak 5.949 nelayan kini mendapat perlindungan Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian.

Akan tetapi, angka itu baru mencakup sekitar 54 persen dari total sekitar 11 ribu nelayan yang tersebar di wilayah pesisir Kabupaten Probolinggo. Artinya, hampir separuh nelayan lainnya masih bekerja tanpa perlindungan ketenagakerjaan.

Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Perikanan Kabupaten Probolinggo, Hari Pur Sulistiono, mengatakan profesi nelayan termasuk pekerjaan dengan risiko tinggi karena aktivitas dilakukan di tengah cuaca dan kondisi laut yang tidak menentu.

“Nelayan ini pekerja rentan. Mereka setiap hari menghadapi risiko di laut, sehingga perlindungan sosial menjadi sangat penting,” kata Ipung, sapaan akrabnya.

Peningkatan jumlah penerima bantuan memang terjadi dibanding tahun sebelumnya. Pada 2025, jumlah nelayan penerima bantuan BPJS Ketenagakerjaan tercatat sebanyak 5.545 orang. Tahun ini bertambah menjadi 5.949 nelayan.

Meski demikian, pemerintah daerah mengakui perluasan perlindungan belum sepenuhnya mampu menjangkau seluruh nelayan.

Desa Gili Ketapang, Kecamatan Sumberasih menjadi wilayah dengan jumlah penerima terbanyak, yakni mencapai 1.954 nelayan. Sedangkan Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan tercatat sebanyak 1.450 nelayan menerima bantuan serupa.

Menurut Ipung, sebagian penerima bantuan sebelumnya merupakan peserta mandiri BPJS Ketenagakerjaan. Karena rutin membayar iuran, mereka kemudian mendapatkan bantuan pembayaran dari pemerintah daerah.

“Awalnya mandiri, lalu mendapatkan bantuan sebagai bentuk apresiasi karena aktif dan tertib membayar,” ujarnya.

Program tersebut mulai dirasakan manfaatnya oleh keluarga nelayan. Selama 2025, tercatat sebanyak 30 ahli waris nelayan menerima santunan Jaminan Kematian.

Bagi keluarga nelayan kecil, santunan itu bukan sekadar angka. Bantuan tersebut kerap menjadi penyangga ekonomi ketika pencari nafkah utama meninggal dunia saat bekerja.

Ipung berharap cakupan perlindungan ketenagakerjaan bagi nelayan terus diperluas agar seluruh pekerja sektor perikanan di Kabupaten Probolinggo dapat bekerja dengan rasa aman.

“Harapannya tentu semua nelayan bisa terlindungi, sehingga ketika terjadi risiko kerja, keluarga yang ditinggalkan tetap memiliki perlindungan,” katanya. (saw)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.