Proyek Rampung, Warga Gelar Syukuran di Tengah Jalur Pantura Jembatan Buk Wedi

17

Bugul Kidul (WartaBromo.com) – Suasana berbeda terlihat di Jembatan Buk Wedi, Kelurahan Blandongan, Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan, Rabu (9/9/2026) malam. Puluhan warga berkumpul di tengah jembatan baru yang sebentar lagi kembali dibuka untuk masyarakat.

Bukan untuk berunjuk rasa ataupun sekadar melihat hasil pembangunan, warga Kampung Buk Wedi justru menggelar tasyakuran sebagai bentuk rasa syukur atas rampungnya proyek penggantian Jembatan Buk Wedi.

Sejumlah sajian makanan tampak disiapkan warga di atas jembatan. Mereka duduk dan berkumpul bersama, sembari memanjatkan doa agar keberadaan jembatan baru tersebut membawa keselamatan dan menjadi awal berakhirnya persoalan banjir yang selama ini menghantui permukiman mereka.

Bagi warga setempat, selesainya pembangunan jembatan bukan sekadar perubahan fisik bangunan. Jembatan tersebut diharapkan menjadi solusi atas persoalan banjir yang selama bertahun-tahun kerap membuat warga kesusahan.

Nisfi Wahyudi, salah seorang warga setempat, mengatakan tasyakuran digelar karena masyarakat sangat berharap jembatan baru tersebut dapat membuat aliran Sungai Petung lebih lancar dan mengurangi banjir yang selama ini masuk ke permukiman.

“Ini bentuk syukur kami karena jembatan yang selama ini dinantikan akhirnya selesai. Kami berharap setelah jembatan ini dibangun, banjir tidak lagi seperti dulu dan warga bisa lebih tenang,” kata Nisfi.

Menurutnya, ketika musim hujan tiba, banjir bukan hanya terjadi sekali. Dalam kondisi tertentu, luapan Sungai Petung bahkan dapat terjadi hingga tiga sampai empat kali dalam sebulan.

Air yang meluber tak jarang membawa lumpur hingga masuk ke permukiman warga, bahkan menggenangi bagian dalam rumah. Kondisi tersebut membuat aktivitas masyarakat terganggu dan warga harus berjibaku membersihkan lumpur setelah banjir surut.

“Kalau hujan deras, kami sudah was-was. Air bisa meluber dan membawa lumpur sampai masuk rumah. Bukan sekali dua kali, kalau musim hujan bisa beberapa kali dalam sebulan,” ujarnya.

Dampak luapan Sungai Petung juga dirasakan pengguna jalan. Genangan banjir yang cukup tinggi membuat jalur pantura Pasuruan-Probolinggo harus ditutup sementara. Pengendara terpaksa menunggu hingga air surut dan kondisi jalan kembali bisa dilalui.

Tak hanya mengganggu aktivitas dan akses transportasi, kondisi jalan yang tergenang dan dipenuhi lumpur juga pernah menimbulkan korban. Sejumlah warga maupun pengguna jalan dilaporkan terjatuh akibat terpeleset, bahkan terdapat korban yang sampai meninggal dunia.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan warga berharap keberadaan jembatan baru benar-benar mampu mengurangi persoalan banjir di kawasan Buk Wedi.

“Semoga tidak ada lagi warga yang jatuh atau menjadi korban karena banjir dan jalan yang licin,” kata Nisfi.

Sebelumnya, Jembatan Buk Wedi memang dibangun dengan elevasi yang lebih tinggi dibandingkan jembatan lama. Langkah tersebut diharapkan dapat memperlancar aliran Sungai Petung, terutama ketika debit air meningkat saat hujan deras.

Jembatan lama selama ini juga kerap menjadi titik tersangkutnya material kayu yang terbawa arus sungai. Material tersebut dapat menghambat aliran air sehingga meningkatkan risiko luapan ke badan jalan dan kawasan permukiman.

Jembatan Buk Wedi sendiri dipastikan mulai dapat digunakan kembali pada Kamis (10/9/2026) setelah seluruh pekerjaan pembangunan dinyatakan rampung 100 persen. Uji beban konstruksi juga telah dilakukan dan dinyatakan baik.

Tidak ada seremoni khusus dalam pembukaan jembatan. Setelah proses pembersihan selesai, jembatan akan langsung dibuka dan kembali digunakan masyarakat. (don)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.