Batik Pandalungan dan Masa Depan Identitas Probolinggo

33
Ketua Dekranasda) Kabupaten Probolinggo Marisa Juwitasari Haris (tengah) saat tampil dalam sebuah acara batik. Foto : Diskominfo

Setiap 2 Oktober, batik kembali mendapat tempat khusus dalam percakapan tentang kebudayaan Indonesia. Hari Batik Nasional bukan sekadar kesempatan mengenakan kain bermotif tradisional. Peringatan ini semestinya menjadi momentum untuk melihat kembali sejauh mana batik benar-benar hidup sebagai pengetahuan, identitas, sekaligus sumber penghidupan masyarakat.

Oleh : Sundari Adi Wardhana

UNESCO menetapkan Indonesian Batik dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 2009. Dalam keputusan tersebut, batik tidak dipahami semata sebagai kain, melainkan sebagai teknik, simbolisme, pengetahuan dan kebudayaan yang melekat dalam kehidupan masyarakat. UNESCO juga menekankan bahwa batik dapat terus berkembang tanpa kehilangan makna tradisionalnya.

Semangat itu relevan bagi Probolinggo.

Di wilayah ini, batik tumbuh dalam ruang budaya yang khas. Kabupaten dan Kota Probolinggo sama-sama mengembangkan batik dengan karakter Pandalungan, tetapi masing-masing memiliki kekayaan cerita, lingkungan dan ikon daerah yang dapat membentuk identitasnya.

Persoalannya, bagaimana kekayaan itu tidak berhenti menjadi motif pada selembar kain?

Dari Kabupaten Probolinggo
Jejak batik di Probolinggo sesungguhnya bukan cerita baru. Catatan mengenai pameran khusus Batik Probolinggo di Amsterdam pada 1883 bahkan menyebut adanya sekitar 150 motif. Namun, perkembangan itu kemudian mengalami masa surut. Perbatikan di Kabupaten Probolinggo baru kembali menggeliat dan mulai dikembangkan secara lebih serius pada era berikutnya.

Kebangkitan tersebut memperlihatkan bahwa tradisi batik tidak selalu berjalan dalam garis lurus. Ia bisa tumbuh, meredup, bahkan hampir hilang sebelum kemudian dihidupkan kembali oleh generasi berikutnya.

Sekitar 2009, sejumlah perajin kembali mengembangkan usaha batik di Kabupaten Probolinggo. Pada 2018, tercatat 13 pembatik tergabung dalam asosiasi perajin, di luar sejumlah pembatik pemula yang belum masuk organisasi. Dalam perkembangannya, batik Kabupaten Probolinggo mengangkat beragam unsur lokal, mulai dari legenda, kesenian, tradisi hingga potensi pertanian dan lingkungan.

Di situlah Pandalungan memperoleh ruang ekspresi.

Budaya Pandalungan merupakan hasil perjumpaan budaya Jawa dan Madura yang berkembang di kawasan Tapal Kuda. Dalam batik, perjumpaan tersebut tidak hanya diterjemahkan melalui motif, tetapi juga warna. Warna-warna cerah dan berani berkelindan dengan warna yang lebih teduh. Karakter itu kemudian menjadi salah satu penanda visual batik Probolinggo.

Motifnya pun tidak harus berhenti pada simbol yang sudah dikenal.

Gunung Bromo, angin Gending, bawang merah, tembakau, komak, gerabah, kesenian tradisional, hingga cerita rakyat menjadi sumber gagasan. Ada pula eksplorasi terhadap bunga genggong dan lanskap pesisir Kabupaten Probolinggo sebagai upaya menciptakan motif baru. Penelitian mengenai pengembangan motif batik di daerah ini justru mencatat salah satu persoalannya: jumlah perajin lokal yang mengembangkan motif masih terbatas.

Fakta tersebut penting.

Sebab, tantangan batik daerah bukan sekadar bagaimana menghasilkan kain. Tantangannya adalah bagaimana pengetahuan membuat batik, kemampuan mendesain, pemahaman filosofi motif dan kemampuan membaca perubahan selera pasar dapat diwariskan.

Tanpa regenerasi, batik mudah berubah menjadi sekadar produk nostalgia.

Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa kreativitas itu masih bergerak. Di Kecamatan Kraksaan, misalnya, Sentra Batik Tulis Ronggo Mukti mengembangkan motif yang terinspirasi dari figur Kyai Ronggo, tokoh yang dikenal dalam sejarah lokal Kraksaan. Motif semacam ini menunjukkan bahwa identitas batik dapat terus diperluas dari ikon yang bersifat umum menuju cerita yang lebih dekat dengan komunitas.

Begitu pula munculnya Batik Probolinggo Sae yang mengangkat bunga Genggong dan bunga Tanjung serta terinspirasi dari dua lingkungan pesantren besar di Kabupaten Probolinggo. Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa batik dapat menjadi ruang pertemuan antara tradisi, sejarah lokal, komunitas dan kreativitas kontemporer.

Namun, perkembangan motif saja belum cukup.

Pemerintah daerah perlu memastikan ekosistemnya tumbuh. Pelatihan tidak boleh berhenti pada kemampuan mencanting. Perajin membutuhkan pengetahuan desain, pewarnaan, pengelolaan usaha, fotografi produk, pemasaran digital, perlindungan kekayaan intelektual dan akses pasar.

Batik juga membutuhkan generasi muda.

Jika anak-anak muda hanya mengenal batik sebagai pakaian yang dipakai pada hari tertentu, sementara proses penciptaannya dianggap pekerjaan lama yang tidak menjanjikan, maka regenerasi akan menghadapi persoalan.

Karena itu, pendidikan kebudayaan menjadi bagian penting dari pelestarian. UNESCO sendiri pernah mencatat program pendidikan dan pelatihan batik di Pekalongan sebagai contoh praktik baik pelindungan warisan budaya, dengan tujuan meningkatkan apresiasi dan mentransmisikan pengetahuan batik kepada generasi muda.

Kabupaten Probolinggo memiliki modal yang tidak kecil: cerita rakyat, pesantren, pertanian, pesisir, kawasan pegunungan, kesenian dan budaya Pandalungan.

Semua itu merupakan perpustakaan motif yang belum selesai ditulis.

Bergeser ke Kota Probolinggo
Jika Kabupaten Probolinggo memiliki bentang budaya yang luas dari pegunungan hingga pesisir, Kota Probolinggo menghadirkan cerita yang lebih urban sekaligus pesisiran.

Kota ini memiliki identitas Bayuangga yang telah lama melekat pada batiknya: bayu atau angin, mangga dan anggur. Dari sana berkembang motif Manggur, angin Gending, Kali Banger, 1.000 taman, Barungan, serta berbagai kreasi kontemporer lainnya. Penelitian mengenai batik Pandalungan Kota Probolinggo menyebut motif-motif tersebut sebagai bagian dari identitas kultural yang menghubungkan batik dengan alam, produk unggulan, cerita rakyat, tradisi dan kondisi lingkungan kota.

Batik Kota Probolinggo dengan demikian tidak berdiri sendiri.

Ia lahir dari kota yang menjadi ruang pertemuan berbagai arus manusia dan budaya. Posisi sebagai wilayah pesisir dan bagian dari kawasan Pandalungan turut membentuk karakter batiknya. Warna cerah dan berani berpadu dengan warna yang lebih teduh, sementara motif mengambil inspirasi dari lingkungan dan kehidupan masyarakat.

Yang menarik, perkembangan tersebut kini memasuki tahap yang lebih terorganisasi.

Pemerintah Kota Probolinggo membangun Rumah Batik sejak 2022 dengan dukungan Dana Alokasi Khusus Kementerian Perindustrian. Fasilitas tersebut kemudian diresmikan pada September 2025 dan dirancang bukan hanya sebagai tempat produksi, tetapi juga pusat edukasi, promosi dan pengembangan usaha batik serta produk kreatif.

Kehadiran Rumah Batik merupakan langkah penting. Namun, bangunan tidak dengan sendirinya melahirkan ekosistem.

Rumah Batik akan bermakna apabila menjadi ruang bertemunya perajin, desainer, pelajar, akademisi, pelaku usaha, wisatawan dan pasar. Di tempat semacam itu, batik tidak hanya dipamerkan, tetapi dipelajari, diproduksi, diuji, dikembangkan dan dipasarkan.

Upaya memperkaya motif juga terus dilakukan.

Pada 2024, Pemkot Probolinggo menggelar lomba desain motif batik khas kota. Sejumlah desain baru lahir, antara lain Sekar Sari, Sekar Arum Bayuangga, Ayu Ning Jagad, Mangga Anggur Kaltabayu, Mantra dan Jaran Bodhag Mangga Anggur. Pada tahun berikutnya, pemerintah juga menggelar bimbingan teknis penyempurnaan dan pengayaan motif dengan mendorong pemanfaatan digitalisasi dalam proses desain.

Langkah ini menunjukkan satu hal: identitas batik bukan benda mati.

Mangga dan anggur boleh tetap menjadi ikon. Bayu dan angin Gending dapat terus menjadi inspirasi. Tetapi identitas akan kehilangan daya hidup jika hanya mengulang motif lama tanpa memberi ruang bagi tafsir baru.

Karena itu, tantangan Kota Probolinggo bukan mencari identitas dari nol, melainkan memperkuat identitas yang sudah ada agar memiliki daya saing.

September 2026 menjadi salah satu contoh. Pemerintah Kota Probolinggo menggelar Batik in Motion selama tiga hari. Batik dipertemukan dengan fesyen, seni pertunjukan, pariwisata, kuliner, dan kreativitas generasi muda. Agenda tersebut menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi ke-667 Kota Probolinggo.

Jangan Terjebak Seremonial
Hari Batik Nasional seharusnya menjadi kesempatan untuk bertanya lebih jauh: apakah batik lokal sudah menjadi bagian dari kehidupan ekonomi masyarakat?

Ukuran keberhasilan tidak cukup dilihat dari berapa banyak acara yang digelar, berapa motif baru yang diluncurkan atau berapa kali pejabat mengenakan batik daerah.

Ukuran yang lebih penting adalah apakah perajin memperoleh pendapatan yang layak, apakah generasi muda tertarik menjadi pembatik, apakah desain lokal memiliki perlindungan, apakah produk dapat masuk ke pasar yang lebih luas dan apakah masyarakat dapat mengenali cerita di balik motif yang mereka kenakan.

Batik juga menghadapi tantangan dari produk tekstil bermotif batik yang diproduksi secara massal. Persoalannya bukan semata-mata persaingan harga. Batik tulis dan batik cap memiliki proses, keterampilan dan waktu produksi yang berbeda dari tekstil bermotif batik.

Karena itu, konsumen membutuhkan literasi.

Masyarakat perlu memahami perbedaan antara batik sebagai teknik dan kain bermotif batik sebagai produk tekstil. Di sisi lain, perajin perlu mampu menjelaskan nilai produk mereka dengan cara yang sesuai dengan konsumen masa kini.

Digitalisasi menjadi salah satu pintu.

Motif batik dapat didokumentasikan dalam katalog digital. Cerita di balik motif dapat dikemas dalam video pendek. Perajin dapat memperluas pasar melalui perdagangan elektronik. Desainer muda dapat dilibatkan untuk menerjemahkan simbol lokal ke dalam produk fesyen, aksesori, interior, hingga suvenir.

Tetapi digitalisasi jangan sampai menghilangkan akar.

Batik Pandalungan tetap membutuhkan cerita tentang masyarakat yang melahirkannya. Ia perlu menjelaskan mengapa mangga dan anggur penting bagi Probolinggo, bagaimana angin Gending hadir dalam kehidupan masyarakat, mengapa bunga, pesisir, pertanian, kesenian atau sejarah lokal menjadi motif.

Dengan demikian, pembeli tidak sekadar memperoleh kain. Mereka membawa pulang cerita.

Dari Identitas Menjadi Ekosistem
Kabupaten dan Kota Probolinggo memiliki konteks yang berbeda, tetapi berada dalam ruang budaya yang beririsan.

Kabupaten dapat memperkaya batik melalui kekayaan desa, pesantren, pertanian, pesisir, pegunungan, kesenian dan sejarah lokal. Kota memiliki ruang lebih besar untuk mengembangkan desain, perdagangan, promosi, pendidikan dan industri kreatif.

Keduanya semestinya tidak berjalan sendiri-sendiri.

Pemerintah kabupaten dan kota dapat membangun peta bersama mengenai perajin, sentra produksi, motif, bahan baku, kapasitas produksi dan pasar. Perguruan tinggi dapat dilibatkan untuk riset motif, pewarna alami, desain dan pengembangan produk. Sekolah dapat menjadi ruang regenerasi. Pelaku pariwisata dapat menjadikan sentra batik sebagai bagian dari rute wisata.

Batik juga dapat ditempatkan sebagai bagian dari ekonomi kreatif Pandalungan.

Wisatawan yang datang ke Bromo, kawasan pesisir, pusat kota atau destinasi lain tidak harus pulang hanya membawa foto. Mereka dapat membawa produk yang menceritakan tempat yang mereka kunjungi.

Di sinilah batik bertemu pariwisata.

Dan di sini pula identitas budaya bertemu ekonomi.

Namun, kehati-hatian tetap diperlukan. Ketika budaya masuk ke pasar, ada risiko penyederhanaan. Motif lokal bisa kehilangan makna ketika hanya dipilih karena dianggap menarik secara visual.

Karena itu, pengembangan ekonomi tidak boleh memutus hubungan batik dengan komunitas pembentuknya.

Perajin harus menjadi pelaku utama, bukan sekadar tenaga produksi. Desainer perlu memahami konteks budaya, bukan sekadar mengambil simbol. Pemerintah perlu menjadi fasilitator, bukan mengambil alih kreativitas masyarakat.

Hari Batik Nasional pada akhirnya bukan tentang kewajiban mengenakan batik sehari dalam setahun.

Ia adalah pengingat bahwa warisan budaya hanya akan bertahan jika terus dipraktikkan.

Batik Pandalungan Probolinggo telah menunjukkan kemampuan untuk berubah. Dari motif klasik menuju kontemporer. Dari simbol alam menuju cerita komunitas. Dari produksi rumahan menuju ruang pengembangan yang lebih terorganisasi.

Tetapi perubahan harus disertai keberlanjutan.

Kabupaten Probolinggo membutuhkan regenerasi perajin dan penguatan pasar. Kota Probolinggo membutuhkan konsistensi dalam membangun identitas dan ekosistem industri kreatif. Keduanya membutuhkan dokumentasi, inovasi, perlindungan kekayaan intelektual dan strategi pemasaran yang lebih panjang daripada sekadar agenda tahunan.

Sebab, warisan budaya tidak diwariskan dengan cara menyimpannya.

Ia diwariskan dengan cara menggunakannya, mengajarkannya, mengembangkannya dan membuat generasi berikutnya merasa bahwa warisan itu masih relevan bagi kehidupan mereka.

Batik Pandalungan akan benar-benar menjadi identitas Probolinggo apabila masyarakat tidak hanya bangga mengenakannya, tetapi juga mengenal cerita di balik setiap motif, menghargai tangan yang membuatnya dan memastikan para pembatik dapat hidup layak dari karya tersebut.

Pada titik itulah Hari Batik Nasional menemukan maknanya.

Bukan sekadar perayaan.

Melainkan pertanyaan tentang apakah sebuah warisan budaya masih memiliki masa depan. (*)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.