Gempol (WartaBromo.com) – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memberikan pesan tegas kepada 1.334 siswa dan siswi SMAN Taruna Jawa Timur. Ia melarang penggunaan kekerasan maupun bullying dalam lingkungan pendidikan ketarunaan, termasuk yang dilakukan senior terhadap junior maupun antarsiswa.
Pesan tersebut disampaikan Khofifah saat menghadiri pembaretan 1.334 siswa dari enam SMAN Taruna Jawa Timur di Lapangan Pusdik Brimob Watukosek, Gempol, Kamis (8/10/2026).
Khofifah mendorong agar sistem pendidikan ketarunaan tetap mempertahankan kedisiplinan tinggi, namun tidak meninggalkan pendekatan humanis dalam membentuk karakter peserta didik.
“Yang tidak kalah penting, jangan pernah menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan persoalan serta hindari bullying karena senioritas. Mari kita bangun proses pendidikan penuh kedisiplinan tetapi juga dilaksanakan secara humanis,” kata Khofifah dalam sambutannya.
Sebelum mengikuti pembaretan, para siswa tersebut telah menjalani fase kesatriaan selama tiga bulan. Mereka mendapatkan pembinaan yang mencakup latihan fisik, mental hingga kemandirian.
Sebanyak 1.334 siswa tersebut berasal dari enam sekolah, yakni SMAN Taruna Nala, SMAN Taruna Angkasa, SMAN Taruna Bhayangkara, SMAN Taruna Brawijaya, SMAN Taruna Madani, dan SMAN Taruna Pamong Praja.
Menurut Khofifah, pembaretan bukan sekadar seremoni. Baret yang dikenakan para siswa menjadi simbol proses, perjuangan, kedisiplinan sekaligus tanggung jawab yang harus mereka jalankan sebagai bagian dari keluarga besar taruna Jawa Timur.
Penetapan status ketarunaan, lanjut Khofifah, juga membawa konsekuensi moral. Para siswa dituntut mampu menjaga marwah almamater ketika berada di tengah masyarakat.
Ia berharap karakter kepemimpinan yang solid, religius dan mandiri dapat tumbuh kuat dalam diri para taruna dan taruni.
“Mulai hari ini kalian tidak hanya membawa nama diri sendiri dan keluarga, kalian membawa nama sekolah dan nama taruna-taruni Jawa Timur sekaligus menjadi kader bela negara untuk menjaga NKRI,” tegasnya.
Khofifah juga meminta para siswa menjunjung tinggi nilai kebangsaan, keindonesiaan, integritas dan kejujuran dalam menjalani pendidikan maupun kehidupan bermasyarakat.
“Junjung tinggi nilai-nilai kebangsaan, nilai keindonesiaan, integritas, serta kejujuran,” pungkasnya. (fir)





















