Pemuda Dipuji, Masa Depan Dikebiri

22
Ilustrasi harapan pemuda. Foto : Generated by Meta

Setiap 28 Oktober, pemuda mendadak menjadi kebanggaan bangsa. Mereka disebut agen perubahan, tulang punggung pembangunan, dan pemilik masa depan Indonesia. Panggung peringatan Sumpah Pemuda dipenuhi pidato tentang kreativitas, inovasi, dan nasionalisme. Namun, setelah upacara selesai, generasi muda kembali berhadapan dengan kenyataan: mencari pekerjaan tidak mudah, pendidikan berkualitas belum merata, dan kesempatan untuk memperbaiki kehidupan masih ditentukan oleh banyak hal di luar kemampuan mereka.

Oleh : Sundari Adi Wardhana

Ada yang ganjil dalam cara negara memperlakukan pemuda. Mereka dipuji sebagai penentu masa depan, tetapi tidak selalu diberi ruang untuk menentukan arah hari ini. Mereka diminta kreatif, tetapi kesempatan untuk berkembang tidak tersedia secara merata. Mereka dituntut berdaya saing, sementara akses terhadap pendidikan, teknologi, modal, dan pekerjaan layak masih menjadi persoalan bagi sebagian masyarakat.

Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 lahir dari keberanian melampaui sekat suku, daerah, dan bahasa. Para pemuda saat itu tidak menunggu kemerdekaan datang untuk membayangkan sebuah bangsa. Mereka membangun kesadaran bersama di tengah kekuasaan kolonial. Persatuan menjadi pilihan politik sekaligus keberanian untuk menantang keadaan.

Hampir seabad kemudian, tantangannya berubah. Indonesia telah merdeka, tetapi kemerdekaan belum otomatis menghadirkan keadilan bagi semua. Ketimpangan sosial, korupsi, mahalnya akses pendidikan, dan terbatasnya lapangan kerja masih membayangi kehidupan masyarakat. Bagi anak muda, persoalan itu bukan sekadar angka dalam laporan pembangunan. Ia hadir dalam kecemasan mencari pekerjaan, beban biaya hidup, dan ketidakpastian merancang masa depan.

Dalam situasi demikian, menyebut pemuda sebagai harapan bangsa tanpa memperbaiki keadaan mereka terdengar seperti pujian yang kosong. Harapan tidak dapat menggantikan pekerjaan. Semangat tidak bisa membayar biaya pendidikan. Sementara slogan tentang generasi emas tak banyak berarti jika sebagian anak muda justru kesulitan memperoleh kesempatan yang layak.

Pemerintah memang tidak dapat menjamin setiap orang langsung memperoleh pekerjaan atau mencapai keberhasilan. Namun, negara berkewajiban membangun sistem yang adil: pendidikan yang bermutu dan terjangkau, pelatihan yang sesuai kebutuhan dunia kerja, perlindungan bagi pekerja muda, serta kesempatan berusaha yang tidak hanya terbuka bagi mereka yang memiliki modal dan jaringan.

Masalahnya, pembangunan generasi muda sering lebih ramai dalam kampanye daripada dalam pelaksanaan. Berbagai program pelatihan dan pemberdayaan dapat menjadi langkah positif, tetapi keberhasilannya tidak cukup diukur dari jumlah peserta, sertifikat, atau kegiatan seremonial. Yang harus ditanyakan ialah apakah program itu meningkatkan keterampilan, memperluas akses kerja, mendorong usaha bertahan, dan memperbaiki penghasilan peserta.

Pemuda juga tidak boleh dipandang sebagai kelompok yang hanya membutuhkan pembinaan. Mereka adalah warga negara yang berhak menyampaikan kritik dan terlibat dalam pengambilan keputusan. Ketika anak muda mempersoalkan kebijakan publik, ketimpangan, kerusakan lingkungan, atau penyalahgunaan kekuasaan, suara mereka semestinya diperlakukan sebagai bagian dari kehidupan demokrasi, bukan gangguan terhadap ketertiban.

Sumpah Pemuda sendiri mengajarkan keberanian untuk membangun gagasan baru. Para pemuda 1928 tidak sekadar mengulang kehendak penguasa. Mereka menawarkan cara pandang berbeda tentang tanah air, bangsa, dan bahasa. Semangat itu akan kehilangan makna jika generasi sekarang hanya diminta patuh, berprestasi, dan mencintai negara tanpa diberi ruang untuk mempertanyakan kebijakan yang tidak adil.

Di ruang digital, tantangan generasi muda semakin rumit. Teknologi membuka kesempatan untuk belajar, berkarya, dan membangun usaha. Namun, disinformasi, perundungan, penipuan daring, dan budaya saling menghina juga berkembang di ruang yang sama. Pemuda perlu membekali diri dengan kemampuan berpikir kritis dan tanggung jawab digital. Negara, lembaga pendidikan, keluarga, serta platform digital juga harus mengambil bagian dalam menciptakan ruang yang aman dan sehat.

Persatuan yang diikrarkan pada 1928 pun perlu diterjemahkan dalam kehidupan nyata. Indonesia tidak akan kuat hanya karena warganya mengucapkan satu bahasa atau mengibarkan bendera yang sama. Persatuan membutuhkan keadilan, penghormatan terhadap perbedaan, dan kesempatan yang setara. Ketika sebagian generasi muda merasa masa depannya tertutup karena kemiskinan, diskriminasi, atau ketimpangan akses, rasa memiliki terhadap bangsa dapat terkikis.

Menjelang satu abad Sumpah Pemuda pada 2028, pemerintah seharusnya tidak hanya menyiapkan perayaan yang meriah. Yang lebih mendesak ialah memastikan bahwa generasi muda memperoleh bekal dan ruang untuk tumbuh. Pendidikan harus membangun kemampuan berpikir, bukan sekadar mengejar angka kelulusan. Pelatihan kerja harus terhubung dengan kebutuhan nyata. Kebijakan ekonomi perlu membuka peluang yang lebih luas bagi pekerja dan pelaku usaha muda. Ruang demokrasi juga harus tetap terbuka bagi kritik.

Ukuran keberhasilan sebuah negara bukan seberapa sering pejabat memuji pemudanya, melainkan seberapa besar kesempatan yang mereka miliki untuk hidup layak dan berkontribusi. Generasi muda tidak membutuhkan sanjungan yang berulang setiap Oktober. Mereka membutuhkan kebijakan yang dapat dirasakan sepanjang tahun.

Sumpah Pemuda bukan sekadar warisan sejarah untuk dikenang, melainkan janji kebangsaan yang harus terus diuji. Jika pemuda benar-benar dianggap sebagai pemilik masa depan, negara harus berhenti memperlakukan mereka sebagai pelengkap seremoni.

Jangan sampai bangsa ini terus memuji pemudanya di atas panggung, sementara di luar panggung mereka berjuang sendirian menghadapi ketidakpastian. Sebab, masa depan Indonesia tidak akan tumbuh dari pujian, melainkan dari kesempatan yang adil, keberanian untuk mengoreksi keadaan, dan kesungguhan negara memenuhi tanggung jawabnya.

Pemuda bukan sekadar harapan yang dipamerkan setiap tahun. Mereka adalah warga negara yang masa depannya sedang ditentukan hari ini.

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.