“Makanya saya tidak mampu membayangkan, bagaimana cara para koruptor, buzzer, para provokator, antek asing dan maling negara meminta maaf kepada rakyat? Apa harus meminta maaf kepada 280 juta rakyat satu persatu dan mengakui secara detail dosa-dosa mereka? Andai ada koruptor yang bisa melakukannya, apa keselamatannya terjamin? Apa tidak akan mendapat salam olah raga dari rakyat?”
Oleh : Abdurrozaq
Malam belum begitu larut, namun warung Cak Sueb sudah sepi karena para pelanggan istirahat setelah seharian berlebaran. Cak Soleh Las bahkan masih mudik ke rumah mertuanya. Wak Takrip sedang menerima tamu, Gus Karimun apalagi. Kiai muda yang selalu menyembunyikan ke-kiaian-nya itu, lebaran begini tak bisa lagi menyamar. Puluhan kendaraan yang parkir di depan rumah sederhana Gus Karimun, membuktikan jika kiai samar itu benar-benar kiai. Plat nomor kendaraan para tamunya juga dari berbagai daerah.
Maka, yang tersisa di warung hanyalah Mahmud Wicaksono dan Cak Sueb yang terkantuk-kantuk. Mahmud Wicaksono duduk di lincak pojok warung, di bawah lampu temaram. Sekilas nampak seperti siluet. Hanya nampak bara di ujung rokoknya. Malam lengang, Mahmud Wicaksono resah.
Setiap kali Ramadan berakhir, Mahmud Wicaksono memang selalu resah. Terasa ada yang hilang. Terasa ada yang tak utuh. Namun kali ini, keresahannya itu tumpang tindih. Tentang Ramadan yang sudah pergi, dan belum tentu akan menjumpainya lagi. Tentang hutang recehannya untuk biaya pesta lebaran. Tentang perang Iran, tentang duka saudaranya di Palestina, tentang krisis ekonomi akibat krisis minyak, tentang perang nuklir, tentang istrinya yang uring-uringan karena disepelekan keluarga besarnya karena masih saja melarat. Dan, keresahan tanpa sebab. Oh ya, Mahmud Wicaksono juga resah karena masih saja ada yang bertengkar karena perbedaan hari raya. Dan para netizen naif malah saling hujat di media sosial.
“Hmm, ternyata cuma begini. Pontang-panting cari uang dan pinjaman, ternyata sudah selesai pestanya,” gumam Mahmud Wicaksono kepada dirinya sendiri.
“Minal aidin wal faizin, mas,” sapa Gus Karimun seraya mengulurkan tangan untuk bersalaman.
“Tadi belum ketemu, ya, belum maaf-maafan,” lanjut Gus Karimun.
“Iya, gus. Saya memang tidak sempat keliling mada-mada. Takut kesiangan ke rumah mertua,” ujar Mahmud Wicaksono seraya menjabat tangan Gus Karimun, agak menunduk.
“Mohon maaf lahir batin ya, gus,” lanjut Mahmud Wicaksono.
“Iya mas, sama-sama.”
“Dari tadi kok saya perhatikan sampeyan melamun terus?” Ujar Gus Karimun.
“Iya, gus. Kok tiba-tiba sumpek ya? Biasanya kan ramai. Sebulan penuh ada suara tadarrus, suara petasan, suara sound horeg keliling kampung saat sahur, anak-anak ngamen drumband saat sahur, anak-anak perang sarung, anak-anak balap liar. Begitu lebaran, alam jadi sunyi,” kata Mahmud Wicaksono.
“Kan lebih enak begini, mas?” timpal Gus Karimun.
“Iya sih, tapi kok terasa ada yang hilang, ya?”
“Kita kan kehilangan Ramadan? Nafsu sudah kembali perkasa, jadi ya wajar kalau terasa ada yang hilang. Dan bagus itu,” kata Gus Karimun.
“Tapi, ujian yang lebih besar malah baru terjadi, mas.”
“Apa itu, gus?”
“Ujian untuk bisa memaafkan dan mengikhlaskan.”
“Betul, gus.”
“Coba bayangkan, bagaimana perasaan kita ketika pengelola dapur MBG menghianati amanat pemerintah sekaligus rakyat, lalu sekedar memohon maaf, dan kita harus memaafkannya. Apa tidak sulit?”
“Bayangkan juga, seorang kawan pernah membawa istri kita ke hotel, saat hari raya meminta maaf dan kita harus memaafkannya. Apa mungkin? Sedangkan, Tuhan mengharuskan kita memaafkannya. Kalau kita tidak memaafkan orang yang meminta maaf, kita lebih parah daripada Iblis dan Fir’aun sekaligus. Apa tidak berat?”
“Meminta maaf, menurut guru ngaji kita dulu lebih mudah daripada memaafkan. Apalagi kesalahannya sudah melebihi ambang batas. Misalnya nyolong uang negara sehingga rakyat miskin. Makanya sebagai bentuk tanggung jawab, Allah mensyaratkan mengembalikan apa yang kita ambil, sekaligus menyebutkan semua kesalahan yang telah kita lakukan.”
“Makanya saya tidak mampu membayangkan, bagaimana cara para koruptor, buzzer, para provokator, antek asing dan maling negara meminta maaf kepada rakyat? Apa harus meminta maaf kepada 280 juta rakyat satu persatu dan mengakui secara detail dosa-dosa mereka? Andai ada koruptor yang bisa melakukannya, apa keselamatannya terjamin? Apa tidak akan mendapat salam olah raga dari rakyat?”
“Oleh karena syarat meminta maaf itu sangat sulit, sebaiknya sebisa mungkin kita belajar untuk tidak gampang menyakiti dan bersalah kepada orang. Lha wong syarat meminta maafnya horor begitu?”
“Tapi para penguasa, antek asing dan penghianat negara kok santai ya, gus?”
“Mungkin itulah tanda matinya hati nurani.”





















