Mungkin, para investor proyek babat alas itu ingin memberi lapangan kerja kepada para penduduk lokal. Dengan dibukanya real estate, eh wahana wisata, kan bisa menyerap tenaga kerja? Misalnya tenaga security, jasa laundry, ojek atau semacamnya.
Oleh : AbdurRozaq
Semakin hari, Mahmud Wicaksonon merasa alam semakin mengerikan. Belum juga terjadi perang nuklir dan kepunahan massal, bencana alam sudah ugal-ugalan. Kalau musim kemarau, panasnya sampai membuat kulit terbakar dan otak mendidih. Apalagi bagi yang punya bulan kembar alias cicilan bulanan. Satu bulan ada dilangit, bulan satunya menagih angsuran. Kalau musim hujan, banjir, longsor dan puting beliung seakan tak menyisakan rasa aman di sejengkal tanah pun di negaranya. Pemanasan global, pembalakan hutan, eksploitasi air tanah, pertambangan ilegal sekaligus multipolusi, membuat alam makin tak nyaman. Alam menua dengan sangat cepat karena manusia menanamkan kanker tanpa rasa iba. Demi kebinasaan mereka sendiri.
Beberapa hari sebelum lebaran, rumah kontrakan Mahmud Wicaksono yang baru dicat terendam banjir. Baru beberapa hari lebaran, tamu agung dari bukit-bukit gundul, dari hutan-hutan sekarat, bersilaturrahmi hingga ke kamar, dapur, kamar mandi dan semua sudut rumah kontrakan Mahmud Wicaksono. Hujan tumpah dan petir menggelegar di daerah pegunungan. Karena pembalakan hutan dan pertambangan ilegal, tamu agung bernama banjir kiriman, kulo nuwun ke area pemukiman. Tamu agung air bah itu memang tidak mampir ke mana-mana, karena pepohonan memang sudah jarang. Apalagi, setiap jengkal sawah dan tegal jadi pemukiman, setiap jengkal jalan dan pelataran dipaving demi proyek dana desa. Rumah-rumah dikeramik, gudang-gudang diplester dengan semen. Alhasil, tamu agung dari gunung bernama air bah itu guyub bersilaturrahmi ke dataran rendah seraya disambut gati oleh sampah-sampah yang menyumbat sungai dan gorong-gorong proyek dana desa asal jadi.
Anehnya, entah siapa, entah orang super kaya, bohir pilkada atau semacam petinggi militer, tiba-tiba punya ide untuk menggunduli hutan di sekitar gunung Arjuna-Welirang untuk dijadikan real estate. Ketika warga lokal mulai umek dan ngamuk, judul proyek diganti. Bukan lagi real estate, tapi diberi judul wahana eko wisata alias wisata lingkungan. Bukankah wilayah itu sejak zaman VOC sudah merupakan lokasi wisata? Mau disulap menjadi wisata seperti apa lagi?
Masyarakat kemudian urun rembug, eh protes. Meski yakin jarang menang, tetap protes. Barangkali usaha terakhir itu bisa sedikit merubah keputusan para penguasa dan pendana. Konon, penguasa sudah menampung aspirasi masyarakat lokal. Entah sebatas formalitas, protokoler, gimmic politik atau serius, penguasa sudah menampung aspirasi masyarakat lokal. Namun di balik itu, orang kecil memang selalu ditakdirkan harap-harap cemas terhadap nasib mereka sendiri. Belum ada jaminan jika proyek babat alas itu dibatalkan atau dipindah lokasinya. Orang kecil di wilayah itu masih belum mendapat jaminan jika lima atau tujuh tahun ke depan, kebun, ladang dan rumah mereka tertimpa longsor atau banjir bandang. Sebab konon, sebaik dan sebijak apapun para penguasa, harus patuh kepada pendana pencalonan atau semacamnya.
Mungkin, para investor proyek babat alas itu ingin memberi lapangan kerja kepada para penduduk lokal. Dengan dibukanya real estate, eh wahana wisata, kan bisa menyerap tenaga kerja? Misalnya tenaga security, jasa laundry, ojek atau semacamnya. Tapi kan, pengalaman mencatat kalau orang-orang kaya yang tinggal di real estate jarang sekali berinteraksi dengan orang kecil. Butuh tenaga security mungkin hanya beberapa orang, butuh jasa laundry mungkin tak terlalu sering karena di rumah-rumah mewah itu sudah ada ART. Apalagi menggunakan jasa ojek, orang kaya kan selalu naik mobil? Sedangkan dampak lingkungannya, makin tahun akan semakin parah. Bisa dibayangkan, bagaimana Mbah Gimin yang sudah turun temurun tinggal di wilayah itu, taat membayar pajak dan tak pernah menggelapkan uang negara, tiba-tiba hidup berdampingan dengan banjir bah, longsor, sampah, polusi lingkungan sekaligus polusi peradaban.
Warga lokal yang mulai cerdas karena sering menonton Youtube, tahu jika pengerusakan hutan juga bisa mengancam sumber mata air. Jika proyek itu dipaksakan, pabrik air kemasan takkan lagi bisa mengklaim jika produk mereka berasal dari pegunungan, bukan dari sumur artesis. Jika hutan dibabat, satwa liar seperti ular sanca dan piton, monyet dan anjing liar akan bermigrasi ke pemukiman warga. Akan semakin banyak kasus ular raksasa dan ular berbisa masuk rumah dan mengancam warga. Alam memang boleh dimanfaatkan. Tak ada yang melarang membangun pemukiman atau membuat wahana wisata. Tapi, bukankah sudah ada aturan dan klasifikasi lokasinya? Jika setiap gunung kita tambang dan setiap hutan kita babat, kelak kemana kita akan mencari wilayah yang teduh untuk healing? Di mana air tanah disimpan dan air hujan ditahan agar tidak banjir? Orang-orang kaya seperti para penguasa dan pendana memang bisa memilih pemukiman paling aman dari bencana, namun orang kecil, penduduk lokal dan pemilik tanah adat, mereka tak punya banyak pilihan.





















