Probolinggo (WartaBromo com) – Polemik sulitnya warga mendapatkan LPG 3 kilogram di Kabupaten Probolinggo mendapat perhatian serius dari Bupati Probolinggo, dr. Mohammad Haris.
Orang nomor satu di lingkungan Pemkab Probolinggo itu mengeluarkan peringatan keras agar aparatur sipil negara (ASN) dan pihak yang tidak berhak segera menghentikan penggunaan gas subsidi tersebut.
Menurut Gus Haris, sapaan akrabnya, LPG 3 kilogram hanya diperuntukkan bagi masyarakat kategori rumah tangga miskin, nelayan sasaran, petani sasaran, serta pelaku usaha mikro.
“Saya mengimbau seluruh ASN agar bijak dan tidak menggunakan LPG 3 kilogram. Begitu juga masyarakat mampu, jangan mengambil hak warga yang berhak menerima subsidi,” ujar Gus Haris, Jumat (17/4/2026).
Tak hanya ASN, ia juga memberi sorotan kepada SPPG atau dapur pelaksana program Makan Bergizi Gratis (MBG). Gus Haris meminta operasional program tersebut tidak memakai gas melon.
“Untuk teman-teman SPPG, mohon jangan menggunakan LPG 3 kilogram. Ini warning, nanti akan kami cek langsung di lapangan,” tegasnya.
Pernyataan itu muncul di tengah keluhan warga yang dalam beberapa pekan terakhir kesulitan memperoleh gas melon.
Sejumlah warga mengaku harus berkeliling dari satu toko ke toko lain, bahkan membeli dengan harga jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
Pemkab Probolinggo, lanjut Gus Haris, telah berkoordinasi intensif dengan Pertamina untuk menambah pasokan sekaligus memperbaiki jalur distribusi.
Namun tambahan kuota yang datang disebut belum mampu menutup tingginya kebutuhan masyarakat.
“Berapa pun tambahan yang datang, di lapangan tetap terasa kurang,” kata Bupati Probolinggo.
Selama sepekan terakhir, pemerintah daerah juga menggelar inspeksi mendadak ke pangkalan, agen, hingga titik distribusi di 24 kecamatan. Langkah itu dilakukan untuk memastikan stok tersedia dan harga tetap terkendali.
“Kami sudah instruksikan sidak serentak karena ini menyangkut kebutuhan dasar masyarakat,” ujarnya.
Gus Haris juga menegaskan tak akan mentoleransi praktik penimbunan maupun permainan distribusi yang menyebabkan LPG 3 kilogram menjadi langka dan mahal.
“Saya tidak akan memberi toleransi kepada siapa pun yang mencoba mengambil keuntungan hingga membuat gas subsidi sulit didapat warga,” tandasnya.
Sementara itu, Sales Branch Manager Gas Pertamina Malang V, Faisal Fahd, menjelaskan distribusi LPG 3 kilogram ke Kabupaten Probolinggo sejak awal April mencapai 436 ribu tabung. Pada Kamis kemarin saja, sebanyak 34 ribu tabung tambahan telah disalurkan.
Menurutnya, kelangkaan dipicu dua faktor utama, yakni kepanikan masyarakat membeli berlebihan dan dugaan permainan spekulan.
“Pertama panic buying, kedua ulah spekulan yang membuat distribusi tidak stabil,” ujarnya.
Sebagai langkah cepat, Pertamina menyiapkan operasi pasar di sejumlah wilayah yang mengalami kelangkaan. Jumlah tabung yang disalurkan akan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing daerah. (saw)





















