“Apa krisis pangan akan terjadi ya? Saat ini kan juga ada perang dan pupuk langka akibat penutupan selat Hormuz?”
Oleh: Abdurrozaq
Cak Sueb sampai melepas kaos partainya seraya menggelosoh di lincak warung. Berkali-kali minum air putih karena hawa terlalu panas. “Masya Allah, panase,” gumamnya.
“Benar, cak. Hanya beberapa hari tidak turun hujan, panasnya sudah naudzu billah,” ujar Cak Paijo LSM. “Saya sendiri gak betah turun ke lapangan. Beberapa hari tidak ada investigasi,” sambungnya. Investigasi, maksudnya berkeliling memeriksa bermacam proyek. Barangkali ada pelanggaran SOP dan bisa dijadikan uang, eh dievaluasi.
“Kalau menurut BMKG, ini masih permulaan cak. Insya Allah tahun ini kemarau lebih awal dan lebih panjang. Kabar buruknya, ada Godzila Elnino. Bisa jadi, kemarau akan semakin kering dan gagal panen serta kebakaran hutan makin mengkhawatirkan,” ujar Mahmud Wicaksono seraya menunjukkan sebuah halaman berita media online.
“Waduh, setiap baca berita, kok gak pernah ada berita baik ya?” gumam Cak Manap seraya menyeruput es kopi.
“Sebenarnya banyak berita baik, cak. Tapi karena berita buruk lebih banyak yang membaca atau menonton, sebagian wartawan lebih memilih berita buruk untuk ditulis atau dibuat video,” kata Mahmud Wicksono.
“Waduh, semoga ramalan cuacanya meleset ya, mas,” ujar Wak Takrip nimbrung. Saya baru menanam jagung ini. Lagi pula kalau kemarau terlalu panjang dan kering, bisa-bisa rebutan suket buat sapi dan kambing saya,”
“Yang lebih kasihan ya saudara-saudara kita di Winongan, Lumbang dan Puspo, wak. Alamat kekurangan air bersih lagi,” ujar Mahmud Wicaksono.
“Waduh blaen,” ujar Cak Sueb seraya geleng-geleng kepala. “Apa ini bisa menyebabkan gagal panen, mas Mahmud?”
“Bisa jadi, cak. Kalau lihat di berita sih, elnino bisa menyebabkan gagal panen. Kadang bisa menyebabkan angin lisus dan gelombang tinggi. Jadi ya, ada kemungkinan beberapa wilayah mengalami gagal panen, nelayan takut melaut sekaligus kebakaran hutan.”
“Alame wes tuwo, sering sakit dan mulai sekarat,” gumam Wak Takrip seraya menerawang jauh. “Dulu saat saya masih kecil, kampung ini begitu sejuk. Sungai di dekat warung ini jernih, di perumahan sana dulunya sawah dan tegalan. Sekarang berubah menjadi jalan aspal, halaman paving dan perumahan. Pohon-pohon sudah ditebangi semua,” kata Wak Takrip menerawang ke masa lalu.
“Ya begitulah tabiat alam ini, wak,” ujar Gus Karimun. “Mau tidak dibangun perumahan, penduduk makin banyak. Mau tegalan tidak dijadikan jalan atau bangunan, toh memang butuhnya begitu. Alam memang boleh bahkan harus dikelola. Hanya saja, bangsa kita ini memang kurang dowo akal dalam berbagai hal. Seharusnya kita meniru Cina atau bangsa maju lainnya dalam mengelola alam. Selain membangun infrastruktur modern, pelestarian alam dan sistem pertanian modern yang ramah lingkungan harusnya kita perhatikan.”
“Tapi sepertinya percuma juga, gus. Toh kerusakan alam ini sudah terjadi di seluruh dunia,” sanggah Cak Paijo LSM.
“Tapi kalau di negara kita tetap melestarikan alam, setidaknya cuaca, suhu dan ketahanan pangan di negara kita lumayan terjaga, cak,” ujar Gus Karimun menyanggah.
“Pemanasan global memang sudah mustahil dihentikan, namun kalau bangsa kita sedikit bijak pada alam, minimal di kecamatan kita ini lumayan asri.”
“Kenapa ya, kita kok belum pernah memiliki penguasa yang peduli dengan pelestarian alam?” gumam Cak Paijo LSM.
“Ya, karena politik kan perlu banyak modal. Jadi begitu terpilih jadi penguasa, ekpsloitasi alam adalah cara cepat untuk balik modal. Dan, kita tak usah berharap banyak pada penguasa. Lebih baik kita memulai dari halaman kita sendiri. Kita tanami palawija, kalau ada lahan lebih luas kita tanami pisang, singkong dan ketela. Selain sebagai ketahanan pangan, meski tak berarti, barangkali bisa menyumbang oksigen dan penyimpanan air tanah.”
“Apa krisis pangan akan terjadi ya? Saat ini kan juga ada perang dan pupuk langka akibat penutupan selat Hormuz?” tanya Cak Manap.
“Semoga saja tidak, cak. Kalau krisis pangan insya Allah tidak. Kalau lebih mahal sih, bisa jadi karena dunia memang sedang gonjang-ganjing, dan iklim tidak bersahabat.”
“Hidup di dunia, isinya kok khawatir terus, ya gus?” keluh Cak Paijo LSM.
“Makanya jangan selalu nonton berita, karena berita saat ini lebih banyak berita buruk,” kelakar Gus Karimun.
“Tenang saja, cak. Manusia itu pandai beradaptasi, kok. Kalau cuaca sangat panas, perbanyak minum air putih dan mandi. Kalau debit air tanah berkurang, kita suling air sungai. Kalau beras mulai langka, ya terpaksa kita cari alternatif bahan pangan lain. Dulu kan kita terbiasa makan gaplek dan jagung, kenapa sekarang tidak?”





















