Kraksaan (WartaBromo.com) — Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Probolinggo Marisa Juwitasari Haris mengajak generasi muda, khususnya Generasi Z, menjadikan batik sebagai simbol gaya hidup yang berakar pada budaya.
Ajakan itu disampaikan saat membuka peragaan busana batik dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Probolinggo (Harjakapro) ke-280 di Alun-alun Kraksaan, Senin (20/4/2026) malam.
“Ketika kita memakai batik, kita ikut merayakan budaya Indonesia sekaligus menunjukkan rasa bangga terhadap warisan batik yang kaya nilai seni dan filosofi,” ujar Marisa yang akrab disapa Ning Marisa.
Menurut dia, kebanggaan terhadap batik perlu terus ditanamkan kepada generasi muda. Batik, kata dia, tidak cukup hanya dikenali sebagai warisan budaya, tetapi juga harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Batik adalah akar budaya yang tidak lekang oleh waktu dan tetap relevan dengan gaya hidup modern,” kata istri Bupati Probolinggo, dr. Moh. Haris itu.
Ning Marisa menambahkan, mengenakan batik merupakan bentuk partisipasi dalam pelestarian budaya sekaligus wujud kecintaan terhadap produk lokal.
Saat ini, menurut dia, banyak batik kekinian maupun motif tradisional yang dikemas ulang dalam desain kontemporer tanpa meninggalkan nilai asalnya.
Ia pun berpesan agar generasi muda tidak membiarkan batik hanya tersimpan di lemari atau sekadar dipajang dalam pameran. Batik, menurut dia, harus dimaknai ulang sebagai identitas yang trendi tanpa melepaskan akar tradisi.
“Sekarang batik telah bertransformasi menjadi busana modis, mulai dari kemeja hingga gaun elegan. Bukan lagi sekadar pakaian formal, tetapi gaya hidup yang membuat pemakainya tampil lebih berkarakter,” ujarnya.
Ning Marisa juga menilai Batik Probolinggo memiliki banyak pilihan corak dan motif yang sesuai bagi semua kalangan usia, dengan harga yang relatif terjangkau.

Pada kesempatan itu, ditampilkan 15 karya anggota Asosiasi Adikarya Perajin Batik Bordir dan Aksesori (APBBA) Kabupaten Probolinggo.
Sejumlah nama yang tampil antara lain Batik Sumber Ayu, Ronggomukti, Dewi Rengganis, Selowaty, Padang Sapura, Pancor Emas, Balqis, La Berdha, El Bahirah, dan Worogo.
Seluruh karya batik kontemporer tersebut diperagakan oleh para talenta lokal.
Ketua APBBA Kabupaten Probolinggo Mahrus Ali mengatakan, batik daerah itu pada awalnya identik dengan warna-warna tajam yang mencerminkan budaya Pendalungan, perpaduan budaya Jawa dan Madura.
Namun dalam perkembangannya, para perajin mulai menghadirkan warna yang lebih lembut melalui penggunaan pewarna alami.
“Kami berterima kasih kepada pemerintah daerah yang terus membina UMKM, khususnya para perajin di APBBA, serta dukungan dari PT PLN Nusantara Power UP Paiton,” kata pemilik batik Ronggomukti itu.
Sebelum peragaan busana dimulai, Ning Marisa meninjau stan batik di area kegiatan. Ia juga menyematkan kain batik kepada para model dan menerima cinderamata dari pengurus APBBA.
Acara tersebut turut dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Probolinggo Ugas Irwanto, sejumlah kepala organisasi perangkat daerah, serta perwakilan PT PLN Nusantara Power UP Paiton.
Harjakapro ke-280 mengusung tema “Transformasi Berkelanjutan Menuju Probolinggo SAE” dengan rangkaian kegiatan yang melibatkan komunitas masyarakat.
(saw/**)





















