Pasuruan (WartaBromo.com) – Fenomena mobil mogok saat melintas di rel kereta api kerap memicu kekhawatiran masyarakat. Banyak yang mengaitkannya dengan kekuatan medan magnet dari rel atau lokomotif.
Namun, benarkah hal itu menjadi penyebab utama mesin kendaraan tiba-tiba mati? Berikut penjelasan lengkapnya:
Menurut Pusat Penelitian Sistem Mutu dan Teknologi Pengujian LIPI, rel kereta api memang memiliki emisi elektromagnetik. Hal ini disebabkan adanya kabel penghantar arus listrik yang terpasang di dalam sistem rel.
Emisi tersebut dalam kondisi tertentu bisa berinteraksi dengan sistem elektronik pada kendaraan, terutama mobil modern yang sudah menggunakan komponen elektronik kompleks. Ketidakcocokan ini disebut-sebut berpotensi memengaruhi kinerja mesin.
Potensi gangguan bisa terjadi saat kereta berada dalam radius sekitar 600 meter dari perlintasan. Pada jarak ini, pengaruh elektromagnetik dinilai cukup kuat.
Sementara itu, PT Kereta Api Indonesia (KAI) menyebut medan magnet yang dihasilkan lokomotif, khususnya dari dinamo, bahkan bisa mencapai radius hingga satu kilometer. Hal ini juga menjadi alasan mengapa petugas menutup palang pintu perlintasan lebih awal.
Meski teori medan magnet cukup populer, data dari Federal Railroad Administration (FRA) di Amerika Serikat menunjukkan fakta berbeda.
Dari 320 insiden kendaraan di perlintasan rel, hanya enam kasus yang dilaporkan mobil tidak bisa dinyalakan kembali. Artinya, kemungkinan mesin mati akibat medan magnet tergolong sangat kecil. (jun)




















