Purwodadi (WartaBromo.com) – Kondisi memprihatinkan dialami para peternak puyuh di Desa Gajahrejo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan. Akibat harga jual yang anjlok drastis dan minimnya permintaan pasar, para peternak terpaksa membuang lebih dari satu kuintal telur busuk serta membakar ribuan bangkai burung puyuh, Jumat (8/5/2026).
Aksi tersebut dilakukan karena para peternak sudah tidak sanggup menanggung biaya operasional yang terus membengkak, terutama untuk kebutuhan pakan ternak.
Salah satu peternak, Makhrus, mengungkapkan bahwa harga jual telur puyuh saat ini jauh di bawah biaya produksi. Kondisi itu membuat para peternak mengalami kerugian besar setiap hari.
“Karena sudah tidak mampu membeli pakan dan harga jual tidak menutup modal, kami melakukan pembakaran bibit puyuh yang sudah mati sekitar 4.000 ekor dan membuang telur busuk sekitar satu kuintal,” ujar Makhrus.
Ia menjelaskan, Harga Pokok Produksi (HPP) telur puyuh mencapai Rp23 ribu per kilogram, sedangkan harga jual di pasaran hanya berkisar Rp16 ribu per kilogram.
“HPP Rp23 ribu per kilogram, sementara harga jual hanya Rp16 ribu. Jadi rugi Rp7 ribu per kilogram,” tambahnya.
Makhrus yang mengelola sekitar 30 ribu ekor puyuh mengaku mengalami kerugian hingga Rp20 juta setiap bulan. Secara keseluruhan, total kerugian yang dialaminya kini telah mencapai sekitar Rp50 juta.
Menurutnya, penurunan harga telur puyuh terjadi sejak pasca Lebaran Idul Fitri dan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda membaik. Selama tiga bulan terakhir, para peternak terus berjuang mempertahankan usaha mereka di tengah tekanan biaya produksi.
Bahkan, sejumlah peternak disebut terpaksa menjual aset pribadi seperti mobil dan sepeda motor untuk menutup biaya pakan. Tak sedikit pula yang kini terancam gagal membayar cicilan bank akibat usaha yang terus merugi.
Kondisi serupa juga dialami unit usaha ternak milik BUMDes setempat. Setiap kandang disebut mengalami kerugian hingga Rp10 juta per bulan.
Para peternak berharap Pemerintah Kabupaten Pasuruan segera mengambil langkah konkret untuk menyelamatkan sektor peternakan puyuh yang kini berada di ujung krisis.
Salah satu solusi yang diusulkan adalah mengintegrasikan hasil produksi telur puyuh lokal dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah pusat.
“Kami berharap program Dapur MBG bisa bekerja sama menyerap produksi telur puyuh lokal, misalnya dua kali seminggu. Ini sangat membantu untuk menstabilkan harga dan menyelamatkan nasib peternak,” pungkas Makhrus. (fir)





















