Yadnya Kasada 2026 Perkuat Harmoni, Tokoh TNI-Polri hingga Kajari Dikukuhkan Jadi Warga Kehormatan Tengger

15

Sukapura (WartaBromo.com) — Di tengah hawa dingin yang menyelimuti Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, masyarakat Tengger kembali menggelar salah satu tradisi paling sakral yang diwariskan leluhur mereka: Yadnya Kasada.

Namun perayaan tahun ini bukan hanya tentang ritual persembahan di kawah Gunung Bromo, melainkan juga tentang merawat persaudaraan lintas latar belakang.

Minggu (31/5/2026) malam, Pendopo Agung Ngadisari dipenuhi tokoh adat, pejabat daerah, aparat keamanan, dan warga Tengger. Dalam suasana penuh khidmat, masyarakat adat mengukuhkan sejumlah pejabat TNI, Polri, dan pemerintah daerah sebagai warga kehormatan Tengger.

Sejumlah pejabat yang menerima gelar warga kehormatan di antaranya Kapolres Probolinggo AKBP M. Wahyudin Latif, Dandim 0820 Probolinggo Letkol Inf Ribut Yudo Aprianto, Kapolres Probolinggo Kota AKBP Rico Yumasri, Danyon TP 836 Brahma Yodha Letkol Inf Faishal Reza. Penghormatan tersebut juga diberikan kepada pasangan masing-masing.

Kemudian Kajari Kabupaten Probolinggo Mohamad Anggidigdo, dan Wakil Ketua TP PKK Kabupaten Probolinggo Umi Hani’ah Fahmi AHZ.

Prosesi yang dipimpin Dukun Pandita Romo Sutomo itu menjadi simbol keterbukaan masyarakat Tengger terhadap siapa pun yang berkomitmen menjaga budaya, keamanan, dan kelestarian kawasan Bromo.

Bupati Probolinggo Mohammad Haris menilai Yadnya Kasada tidak hanya menyimpan nilai spiritual, tetapi juga menghadirkan pesan kuat tentang toleransi dan hidup berdampingan dalam keberagaman.

“Tradisi ini mengajarkan bahwa perbedaan dapat dipersatukan melalui penghormatan dan kebersamaan. Apalagi tahun ini Kasada berdekatan dengan Iduladha dan Waisak,” ujar Haris.

Di hadapan para tamu undangan, masyarakat Tengger menunjukkan bahwa adat bukanlah tembok yang membatasi, melainkan ruang yang menyatukan.

Mereka yang dikukuhkan sebagai warga kehormatan diterima sebagai bagian dari keluarga besar Tengger, sekaligus diberi amanah untuk ikut menjaga warisan budaya yang telah bertahan selama ratusan tahun.

Kapolres Probolinggo AKBP M. Wahyudin Latif mengaku penghormatan tersebut memiliki makna yang mendalam.

“Ini bukan sekadar penghargaan. Ada tanggung jawab moral untuk ikut merawat budaya Tengger agar tetap hidup dan dikenal generasi mendatang,” katanya.

Hal serupa disampaikan Dandim 0820 Probolinggo Letkol Inf Ribut Yudo Aprianto. Menurutnya, hubungan antara masyarakat adat dan aparat keamanan menjadi modal penting dalam menjaga kawasan Bromo yang tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga menjadi destinasi wisata dunia.

Malam resepsi Kasada berlangsung sederhana namun sarat makna. Di balik iringan doa-doa adat dan keramahan masyarakat Tengger, tersimpan pesan bahwa harmoni sosial harus terus dirawat di tengah perubahan zaman.

Ketua PHDI Kabupaten Probolinggo Bambang Suprapto menjelaskan bahwa inti Yadnya Kasada sesungguhnya terletak pada keseimbangan hidup. Bukan hanya hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga hubungan dengan sesama dan alam.

“Nilai utama dari Yadnya Kasada adalah harmoni. Harapannya, semangat itu terus hidup sehingga tercipta kehidupan yang damai, sejahtera, dan selaras bagi seluruh masyarakat,” tuturnya.

Pesan itulah yang terus diwariskan dari generasi ke generasi di lereng Bromo.

Saat ribuan warga Tengger bersiap menuju kawah untuk melarung hasil bumi sebagai wujud syukur kepada Sang Hyang Widhi, mereka sesungguhnya juga sedang menjaga sebuah warisan yang lebih besar: tradisi persaudaraan yang mampu melampaui perbedaan agama, profesi, maupun status sosial.

Di tengah berbagai tantangan kehidupan modern, masyarakat Tengger kembali menunjukkan bahwa budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu. Ia adalah jembatan yang menghubungkan manusia dengan sesamanya, sekaligus penuntun untuk hidup lebih harmonis dengan alam dan lingkungan sekitar. (saw)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.