Paiton (WartaBromo.com) — Persalinan seharusnya menjadi awal kehidupan baru. Namun, bagi sebagian ibu hamil, proses itu justru menjadi pertaruhan nyawa. Salah satu ancaman terbesar adalah eklamsia, komplikasi kehamilan yang dapat memicu kejang dan berujung pada kematian jika terlambat ditangani.
Risiko tersebut menjadi perhatian Puskesmas Paiton, Kabupaten Probolinggo. Untuk memperkuat kesiapsiagaan tenaga kesehatan, puskesmas menggelar review hasil On the Job Training (OJT) penanganan preeklamsia, eklamsia, dan perdarahan pascapersalinan (postpartum hemorrhage/HPP), Jumat (3/7/2026).
Sebanyak 20 bidan, seorang dokter umum, serta tiga dokter internship mengikuti kegiatan tersebut. Mereka sebelumnya menjalani pelatihan klinis di RSUD Waluyo Jati Kraksaan pada Kamis (25/6/2026), sebagai bagian dari peningkatan kompetensi penanganan kegawatdaruratan obstetri.
Dalam forum evaluasi itu, peserta tidak hanya mengulas teori, tetapi juga menyamakan prosedur penanganan ketika menghadapi pasien dengan tekanan darah tinggi yang berpotensi berkembang menjadi eklamsia.
Mulai dari pengenalan gejala awal, stabilisasi pasien, pemberian terapi antikejang, hingga keputusan rujukan dan persalinan darurat menjadi bagian dari pembahasan.
Materi lain yang turut diberikan adalah penanganan bayi asfiksia oleh dokter Nur Ainiyah. Kondisi ketika bayi gagal bernapas spontan setelah lahir itu masih menjadi salah satu penyebab utama kematian neonatal sehingga membutuhkan tindakan cepat dan terukur.
Kepala Puskesmas Paiton, Duwi Purwadji, menilai peningkatan kemampuan tenaga kesehatan harus dilakukan secara berkala karena kasus kegawatdaruratan ibu tidak memberi ruang bagi kesalahan maupun keterlambatan.
“Kami ingin setiap bidan dan dokter memiliki kesiapan yang sama ketika menghadapi kasus eklamsia. Penanganan yang cepat dan sesuai standar sangat menentukan keselamatan ibu maupun bayinya. Karena itu pelatihan seperti ini tidak boleh berhenti pada teori, tetapi harus menjadi kemampuan yang benar-benar dikuasai di lapangan,” ujar Duwi.
Menurut dia, pelayanan kesehatan ibu tidak cukup bergantung pada fasilitas, tetapi juga pada kesiapan sumber daya manusia yang mampu mengambil keputusan dalam waktu singkat.
Melalui penguatan kompetensi tersebut, Puskesmas Paiton berharap kualitas pelayanan maternal semakin meningkat. Harapannya sederhana, tetapi sangat penting: semakin sedikit ibu yang kehilangan nyawa akibat komplikasi kehamilan yang sebenarnya dapat dikenali dan ditangani lebih dini. (saw)




















