Api Belum Padam, Negara Diuji Menyelamatkan Ekosistem Bromo

15

Probolinggo (WartaBromo.com) — Asap masih menggantung di langit Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Hingga Rabu petang, 5 Agustus 2026, kobaran api masih bertahan di Blok Watu Gede.

Di lereng-lereng yang curam, petugas gabungan bergantian memukul api dengan fire beater, menyemprotkan air dari backpack sprayer, hingga membuka sekat bakar. Namun, musim kemarau, vegetasi yang mengering, dan angin pegunungan membuat api terus mencari jalan untuk meluas.

Kementerian Kehutanan akhirnya mengerahkan operasi terpadu. Bukan hanya untuk memadamkan kebakaran, tetapi juga mempertahankan salah satu kawasan konservasi paling penting di Pulau Jawa yang kini berada dalam tekanan.

Operasi melibatkan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS), Manggala Agni Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, TNI, Polri, BPBD Kabupaten Probolinggo, Masyarakat Peduli Api, hingga relawan.

Di lapangan, mereka menghadapi medan yang tidak bersahabat. Lereng curam membuat kendaraan pemadam tidak dapat mencapai titik api. Sumber air pun terbatas sehingga pasokan harus diangkut menggunakan truk tangki sebelum diteruskan secara manual oleh personel.

Vegetasi yang terbakar bukan hanya hamparan savana. Api juga melalap cemara gunung, pakis, dan semak belukar yang menjadi bagian dari ekosistem khas Pegunungan Tengger.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, mengingatkan bahwa kebakaran di Bromo memiliki dampak yang jauh melampaui sektor pariwisata.

“Bromo adalah bentang alam konservasi yang menopang kehidupan berbagai flora, fauna, sekaligus masyarakat di sekitarnya. Karena itu, kebakaran ini tidak boleh dipandang sebagai peristiwa musiman semata. Api harus dipadamkan, penyebabnya diusut, dan kawasan yang rusak dipulihkan,” kata Dwi dalam keterangan tertulis, Kamis (6/8/2026).

Sebelum kobaran api membesar, sistem pemantauan kebakaran milik Kementerian Kehutanan, SiPongi+, lebih dulu menangkap sinyal kemunculan titik panas melalui citra satelit, termasuk NASA-MODIS. Setelah dilakukan verifikasi lapangan, tim gabungan langsung digerakkan untuk mencegah api menjalar lebih luas.

Namun, di lapangan, teori sering kali berhadapan dengan kenyataan. Angin pegunungan berubah cepat. Bara yang sempat dipadamkan kembali hidup ketika menyentuh ilalang kering. Medan yang terjal membuat petugas harus berjalan kaki berjam-jam hanya untuk mencapai satu titik api.

Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, mengatakan pengamanan kawasan dilakukan bersamaan dengan operasi pemadaman agar risiko terhadap pengunjung maupun kawasan yang belum terbakar dapat ditekan.

“Penutupan sebagian jalur wisata dilakukan agar seluruh sumber daya dapat difokuskan pada operasi pengendalian kebakaran. Keselamatan pengunjung dan perlindungan kawasan konservasi menjadi prioritas,” ujarnya.

Karena itu, Balai Besar TNBTS masih menutup akses wisata melalui Jemplang dan Coban Trisula di Kabupaten Malang serta Senduro di Kabupaten Lumajang. Sementara jalur Cemoro Lawang di Kabupaten Probolinggo dan Wonokitri di Kabupaten Pasuruan tetap dibuka secara terbatas. Wisatawan hanya diizinkan berada di kawasan Lautan Pasir, sedangkan Savana masih ditutup.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, Bambang Setyo Antoko, mengatakan strategi pemadaman terus berubah mengikuti arah angin dan pergerakan api.

“Kami memusatkan personel pada sektor yang memiliki risiko rambatan paling tinggi. Prioritasnya adalah menghentikan perluasan kebakaran tanpa mengorbankan keselamatan petugas,” katanya.

Kebakaran di Bromo sekali lagi memperlihatkan rapuhnya ekosistem savana saat musim kemarau tiba. Setiap kobaran yang muncul bukan hanya menghanguskan padang rumput, tetapi juga menguji efektivitas sistem deteksi dini, kecepatan respons pemerintah, dan kemampuan menjaga kawasan konservasi yang menjadi salah satu ikon alam Indonesia. (saw)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.