Mengenal Batik Pandalungan Khas Kabupaten Probolinggo

2765

Kearifan lokal, dapat dilihat dalam kekayaan budaya dari keadaan geografis yang berbeda. Dimana Kabupaten Probolinggo memiliki 7 kecamatan dataran tinggi, 7 kecamatan pesisir/dataran rendah dan 10 kecamatan dataran menengah. Potensi ini merupakan modal besar dalam menciptakan desain batik. Masing-masing kecamatan memiliki budaya, adat istiadat serta produk khas yang menjadi kekayaan motif batik Kabupaten Probolinggo. Melalui batik, semua potensi daerah dapat lebih dikenal.

Pemetaan batik adalah upaya pengklasifikasian semua komponen dalam usaha batik. Yakni meliputi pelaku usaha batik termasuk jumlah karyawan, lokus usaha batik, sertifikasi batik tulis, dan klasifikasi teknis dan aliran batik. Saat ini sudah 5 IKM yang mendapat sertifikasi batik tulis dari Balai Besar Batik di Yogyakarta. Yaitu Batik Tulis Prabulinggih, Batik Tulis Dewi Rengganis, Batik Tulis Ronggomukti, Batik Tulis Selowati, dan Batik Tulis Pasir Berbisik.

“Untuk lolos sertifikasi batik tulis, maka suatu karya batik harus melalui proses pencantingan tangan, pewarnaan non mesin serta penguncian warna dan pengeringan non mesin sebagaimana biasanya produk pabrikan,” kata pria yang kini menjabat sebagai Camat Wonomerto ini.

Saat ini, desain karya pembatik Kabupaten Probolinggo belum terdaftar dalam Hak Atas Kekayaan Intelektual (HaKI). Dimana HaKI adalah bentuk perlindungan hukum atas kecerdasan, kemampuan berpikir dan imajinasi kreatifitas. Originalitas suatu karya batik khususnya produk Kabupaten Probolinggo harus segera difasilitasi untuk mendapatkan sertifikasi HaKI dan Merk.

“Belum ada yang terdaftar, padahal karya para pengusaha batik sudah mencapai ratusan, termasuk desain milik saya. Pemkab melalui Disperindag harus segera melaksanakannya, karena ini juga berkaitan dengan keberlangsungan usaha pembatik. Jangan sampai ciri khas daerah ini, diambil alih oleh pengrajin daerah lain,” desak Taufik.

Selain itu, faktor pemasaran produk batik memiliki peran penting. Jangan sampai produk yang dibuat dengan susah payah, namun tidak menghasilkan pendapatan yang sesuai.

“Industri batik tidak akan berkembang manakala tidak ada pembinaan sinergis antar satuan kerja. Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait harus duduk bersama didasari atas persepsi dan pola pikir yang sama untuk memajukan batik Kabupaten Probolinggo sesuai dengan tupoksinya masing-masing,” ungkap pemegang Magister Manajemen Kebijakan Publik ini.

Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi, Infomatika, Persandian dan Statistik (Diskominfo) Kabupaten Probolinggo, Tutug Edi Utomo, Pemkab Probolinggo terus memberikan dukungan untuk perkembangan batik sebagai industri. Berupa pembinaan terhadap pengrajin untuk meningkatkan produksi batik masing-masing.

“Pelatihan itu dengan nara sumber yang benar-benar kompeten. Baik melalui Dipserindag, Diskop UKM, maupun Dinas PMD,” ujarnya.

Selain itu, promosi yang dilakukan dengan cara mengikut sertakan para pengrajin batik dalam beberapa even pameran, baik di dalam skala lokal, regional maupun nasional. Juga mengadakan kegiatan yang bersifat promotif.

“Setiap agenda kami publis di media massa dan media sosial. Tujuannya agar masyarakat semakin mengenal produk khas daerah ini,” ujarnya.

Bupati Probolinggo P. Tantriana Sari, mengeluarkan intruksi untuk lembaga-lembaga pendidikan agar menggunakan batik lokal. Pengrajin pun diminta memproduksi batik massal dengan harga terjangkau untuk ukuran pelajar. Harga kelayakan batik bagi pelajar adalah di bawah Rp. 100 ribu. Instruksi itu sebagai awalan dan stimulus bagi pelaku batik, sebelum Pemkab membuat Perda tentang Batik.

“Instruksi Bupati dulu, saya kira itu sudah cukup untuk awalan. Karena di sisi perdagangan batik mempunyai prospek yang sangat bagus, jadi kami akan fasilitasi pasar dengan kebijakan ini,” ujar Tutug.

Di wilayah yang mempunyai semboyan ‘Prasadja Ngesti Wibawa’ ini, terdapat 636 Sekolah Dasar, 207 Sekolah Menegah Pertama, 77 Sekolah Menengah Atas, 55 Sekolah Menengah Kejuruan dan 5 Selokah Luar Biasa. Selain itu, masih ada sekolah dan madrasah yang dikelola oleh pihak swasta.

“Kami yakin, dengan kebijakan ini, industri batik akan tambah bersemangat. Itu juga mendukung Endless Probolinggo,” ucapnya.

Kebijakan lain yang diambil adalah dengan pembuatan website bagi 20 UKM. Pelaku usaha akan dilatih menggunakan kecanggihan IT untuk menopang usahanya. Tujuannya, produk-produk pelaku usaha itu dapat dipasarkan secara online, selain pemasaran konvensional.

“Tentunya tidak bisa frontal membikin website sebanyak-banyaknya, pelan-pelan saja yang penting nantinya mereka dapat menggunakan seefektif mungkin dalam menunjang usahanya,” kata mantan Kadispendik ini.