UNICEF dan Dinkes Jatim Monitoring Difteri Kota Probolinggo

622

Probolinggo (wartabromo.com) – Capaian Outbreak Response Immunization (ORI) Difteri di Kota Probolinggo masih yang terendah di Jawa Timur. UNICEF dan Dinkes Provinsi Jawa Timur pun memonitoring pelaksanaannya pada Senin (17/12/2018).

Berdasarkan data yang dimiliki UNICEF dan Dinkes Jatim, capaian ORI Difteri di seluruh Jatim sudah mencapai 86,52 persen per 14 Desember. Daerah dengan capaian ORI Difteri tertinggi diduduki oleh Kota Mojokerto, kemudian disusul oleh Kota Blitar dan Kota Kediri. Sementara Kota Probolinggo menjadi yang terendah dari 38 Kota/Kabupaten se Jawa Timur dengan persentase 59,65 persen dari 69.075 sasaran.

Child Survival and Development (CSD) Specialist UNICEF, dr. Armunanto, M. Ph, mengatakan Indonesia sebenarnya sudah bebas difteri pada 1980. Namun, tak meratanya imunisasi Difteri, Pertusis dan Tetanus (DPT3) yang cakupannya dibawah 70 persen, membuat kasus difteri kembali merebak di Jawa Timur. Sehingga pada tahun lalu, terjadi KLB dengan daerah Madiun sebagai daerah yang paling banyak ditemukan kasusnya.

Suasana imunisasi difteri di kantor PD Aisyiyah Kota Probolinggo jalan Soekarno-Hatta, Senin (17/12/2018).

Seandainya imunisasi itu, menurutnya, cakupannya minimal 93 persen maka sudah bisa melindungi anak-anak.

“Kita tidak bisa menyebut imunisasi difteri di Kota Probolinggo gagal. Kami yakin target minimal 93 persen mampu dicapai, meski sedikit terlambat. Ketika ORI Difteri tahap ketiga diundur pasa Januari tahun depan, semua sudah sepakat untuk mencapainya di Desember ini,” kata Armunanto.

Lebih lanjut, capaian ORI Difteri di atas 93 persen akan membuat Bangsa Indonesia akan bonus Demografi pada 2030. Dimana anak-anak yang saat ini diimunisasi akan menduduki posisi strategis.

“Namun jika tidak dibekali imunisasi yang tuntas, maka akan menjadi beban. Karena itu kita memastikan semua anak mendapat haknya secara merata,” tambahnya.

Minimnya capaian ORI Difteri di Kota Probolinggo itu, membuat UNICEF dan Dinkes Provinsi Jawa melakukan monitoring pelaksanaannya. Salah satu sasaran monitoring itu adalah imunisasi difteri di kantor PD Aisyiyah Kota Probolinggo jalan Soekarno-Hatta.

Selain monitoring, petugas melakukan sosialisasi dengan sasaran ibu-ibu rumah. Sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada warga terkaiy bahaya difteri. Serta untuk menangkal isu vaksin yang diharamkan karena mengandung enzim babi. Padahal, vaksin difteri sudah dinyatakan halal oleh MUI Pusat.

“Pasca KLB, kita smeua bergerak untuk menyatukan persepsi. Pada ORI Difteri tahap ketiga ini, harapannya Kota Probolinggo yang saat ini terendah bisa disuport oleh semua OPD (Organisasi Perangkat Daerah, red). Bersama tokoh masyarakat dan tokoh agama, dunia pendidikan saling mendukung. Begitu juga dengan dunia pesantren yang pemahamannya perlu kita fokuskan termasuk di Kota Probolinggo ini,” kata Kabid Pelayanan dan Kesehatan (Yankes) Provinsi Jawa Timur, Dian Islami. (fng/saw)