Curhatan Warga saat 2 Hari Sekali Bertemu Banjir

0
636
Banjir, menjadi bencana rutinan di Wilayah Timur Kabupaten Pasuruan. 2 hari sekali banjir “bertamu”. Namun, pemerintah belum melakukan tindakan berarti, sehingga banjir terus hantui warga.

Laporan: Ardiana Putri

BANJIR datang saban musim hujan, sepertinya sudah menjadi kewajaran.

Puluhan tahun tinggal di daerah langganan banjir memang menjadi derita pedih bagi Rukhiyati (35). Namun hal itu selalu dihadapi dengan senyuman.

Ya mau bagaimana lagi, mungkin sudah nasibnya dan ini kan bencana,” ungkapnya sembari menyunggingkan senyum di wajahnya, Rabu (13/2/2019).

Ibu dua anak ini sejak lahir memang tinggal di Dusun Toyaning Kidul, Desa Toyaning, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan. Rumahnya tak jauh dari Sungai Rejoso. Hanya berjarak 10 meter.

Setiap hujan datang, rumahnya selalu kebanjiran. Seluruh ruang di tempat tinggalnya itu tergenang air. Tak ayal, keluhan-keluhan seperti gatal-gatal pada kulit dan diare selalu dirasakan kala banjir tiba.

Tak sampai disitu, pekerjaan yang seharusnya dilakoninya menjadi terhambat karena akses jalan tertutup air banjir.

“Kerjanya kadang libur, jadi kan tidak ada pemasukan. Belum lagi tenaga terkuras akibat harus bersih-bersih,” keluh Rukhiyati.

Ia juga mencurahkan isi hatinya, selama puluhan tahun menghadapi bencana banjir seakan kurang diperhatikan oleh pemerintah daerah. Jarang sekali bantuan datang ke dusunnya.

“Jarang ada bantuan, Eh.. pernah tahun ini dapat mie instan lima bungkus,” tambahnya.

Ia pun berharap agar sungai yang ada di sebelah rumahnya itu bisa dinormalisasi oleh Pemerintah. Selain itu, ia juga ingin agar jalan-jalan di sekitar rumahnya ditinggikan.

“Inginnya ya pemerintah itu ngeruk sungai, karena kan memang sudah dangkal itu. Jadinya air susah mengalir, menggenangnya lama,” harap Rukhiyati.

Sama halnya dengan Rukhiyati, nasib tinggal di kawasan langganan banjir juga dialami Yuni (28), warga Dusun Kebrukan, Desa Kedawung Kulon, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan.

“Hampir dua hari sekali banjir. Sudah biasa, tapi ya tetap sumpek,” ucap Yuni. (*)