Dagangan Laris Manis, Penjual Bakso Dituduh Pakai Daging Celeng

0
9647

Probolinggo (wartabromo.com) – Masudi, warga Desa/Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo, pusing tujuh keliling. Pasalnya usaha bakso yang digelutinya diterpa isu penggunaan daging celeng. Bahkan, diisukan usahanya ditutup oleh Polsek Pakuniran.

Sejak sebulan lalu, santer isu penggunaan daging celeng dan biawak dilakukan oleh Masudi. Daging itu, katanya dijadikan bahan campuran bakso raksasa yang dijual oleh warga Dusun Bayur RT 022 RW 007. Adanya campuran itu, membuat bakso yang dijualnya sangat lezat dan enak.

Dalam 2 hari terakhir, isu semakin santer. Bahkan disebar melalui media sosial (medsos), baik facebook dan whatsapp. Sehingga isu itu, bergulir berantai di kalangan masyarakat.

“Kalo isu pake daging celeng sejak sebulan lalu. Yang paling parah, kemarin. Dimana saya dikatakan ditangkap oleh polisi, usaha ditutup dan digaris polisi,” tutur Masudi kepada wartabromo, Selasa (26/2/2019).

Tentu saja, Masudi menampik keras pemakaian daging celeng dan biawak itu. Ia mengatakan semua bahan baku, menurutnya di peroleh di Pasar Bucor, Kecamatan Pakuniran. Untuk daging ia beli dari penjual daging bernama Nunuk. Sementara dagingnya diselep di penggilingan daging milik Edi. Kedua pedagang ini, berjualan berdampingan.

“Biasanya saya ke pasar setelah subuh, dari rumah saya tidak bawa apa-apa, semuanya daya beli di pasar Bucor. Kemudian setelah diselep, saya bawa ke warung, diolah dan dijual disana, tidak dibawa ke rumah dulu. Kalo mau tahu keaslian dagingnya silahkan ke pasar Bucor,” tuturnya.

Masudi sendiri memulai usaha berjualan bakso sejak 2006 lalu. Awalnya hanya mengabiskan daging sebanyak 15 kilogram per hari. Kemudian sejak Juli 2018, dirinya memperbanyak varian baksonya dengan menyediakan bakso raksasa. Bakso biasa dihargai Rp 5 ribu per porsi, bakso tenes Rp 15 ribu dan bakso raksasa Rp 20 ribu.

Sejak berjualan bakso raksasa itu, dagangan Masudi semakin laris. Setiap harinya, ia menghabiskan 25 kilogram daging, bahkan bisa 50 kilogram. Ia dibantu oleh saudara dan keponakannya saat berjualan di warung yang berada di dekat kantor Perhutani itu.

“Mungkin karena laris mas, sehingga ada isu itu. Namanya juga persaingan usaha,” ujar Masudi.

Sementara itu, Kapolsek Pakuniran Iptu Habi Sutoko, membantah pihaknya menangkap Masudi. Termasuk melakukan penutupan tempat usahanya. Dengan adanya isu itu, Kapolsek bersama anggotanya kemudian mendatangi warung bakso Masudi. Selain untuk mengecek kebenaran pemakaian daging celeng dan biawak, juga untuk menepis isu sesat tersebut.

“Saya dan anggota tidak pernah mendapat laporan dari masyarakat, dan saya tidak pernah menutup usaha warung bakso tersebut. Mungkin ada orang iri sehingga menyebarkan ke medsos jika usaha baksonya (Masudi) dicampur dengan daging celeng dan biawak. Yang jelas pemilik merasa dirugikan. Setelah saya cicipi, memang enak,” kata Mantan Kasi Propam Polres Probolinggo ini.

Pihak kepolisian tengah mendalami isu tersebut. Tidak menutup kemungkinan akan menciduk penyebar berita palsu tersebut. (cho/saw)