Investigasi: Celah Curang Jaminan Kesehatan

2122

Terkait dengan situasi keuangan BPJS yang mengalami defisit hingga kini, Dori menilai hal itu disebabkan ketidakseimbangan “akuaria”. Total iuran yang masuk terlalu kecil. Sementara dalam waktu yang sama, BPJS harus menanggung biaya besar untuk membayar klaim rumah sakit.

Namun, menurut Dori, besaran iuran bukan satu-satunya faktor yang menjadikan BPJS defisit. Tapi, juga disebabkan sistem rujukan berjenjang yang tidak berjalan maksimal. “Rujukan berjenjang itu harusnya dilakukan oleh puskesmas, baru kemudian dibawa ke RS, sesuai jenjang yang diatur BPJS,” katanya.

Ketidkapatuhan peserta dalam mengikuti alur rujukan berjenjang, pada satu sisi mengakibatkan okupansi over kapasitas dalam waktu yang cepat. Situasi ini dinilai BPK mempengaruhi biaya operasional rumah sakit yang cukup besar. “Kalau iuran beres, lalu tujuan berjenjang tadi dilakukan, misalnya puskesmas dulu, lalu sembuh. Maka, tidak perlu ada biaya lagi di RS yang berikutnya,” pungkas Dori. (*)