Mengintip Praktik Pernikahan Anak di Pelosok Rembang

2241
“Anak menggendong anak seakan sudah biasa, remaja usia 18 tahun belum menikah malah dianggap perawan tua. Mirisnya, fenomena ini masih berada dekat dengan lingkungan sekitar kita,”

Laporan: Ardiana Putri

SEBUAH film dokumenter membongkar praktik perkawinan usia anak yang seakan sudah membudaya di Pelosok Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan.

Film bertajuk Kembang Deso karya tiga remaja asal Bangil ini seakan membelalakkan mata kita untuk lebih jeli melihat fenomena pernikahan dini yang masih langgeng di era yang serba modern ini.

Awalnya, Putri Novita Firdaus (22) sang produser film Kembang Deso merasa ragu untuk mengangkat isu pernikahan anak di Rembang, menjadi sebuah film dokumenter.

Namun, sebagai sesama perempuan jiwanya seakan terpanggil untuk berjuang setidaknya meminimalisir angka pernikahan dini lewat sebuah karya seni.

Suatu hari, nurani perempuan kelahiran 15 Agustus 1997 ini bergejolak mendengar cerita dari orang-orang di sekitarnya yang mengisahkan sebuah rahasia umum, bahwa di Kecamatan Rembang anak-anak seusianya sudah menikah bahkan punya anak.

Ia pun merasa harus membuktikan sendiri apa yang dibicarakan orang-orang itu. Singkat cerita pada tahun 2014 lalu, saat Putri masih bersekolah di MAN 1 Bangil ia tertantang untuk mengikuti sebuah kompetisi pembuatan film dokumenter.

Maka bersama kedua kawannya, Putri memutuskan untuk mengambil tema tentang pernikahan anak di Rembang.

Mereka sepakat untuk mengambil setting di Desa Orobulu, karena desa tersebut merupakan salah satu desa dengan praktik pernikahan dini cukup tinggi.

Saat ia melakukan riset sebelum masuk proses pembuatan film, ternyata banyak rintangan yang ia hadapi. Termasuk saat Putri datang ke KUA setempat, petugas seakan menutupi fenomena tersebut. Ia pun tak patah arang.

“Awal riset, kami turun langsung ke sana tapi susah. Hingga saya bertemu seorang tokoh masyarakat yang mau menceritakan pada kami tentang wajarnya pernikahan anak di sana,” terang Putri.

Dalam film dokumenter berjudul Kembang Deso itu, diceritakan seorang remaja bernama Emy terpaksa harus menikah lantaran terhimpit masalah ekonomi.

Padahal Emy bercita-cita ingin tetap sekolah seperti remaja pada umumnya.
Emy mengaku beberapa kali diajak menikah oleh orang yang tak ia kenal, bahkan seringkali diiming-imingi uang puluhan juta agar bersedia dinikahi.

Tak hanya sampai di situ, pada film garapan remaja yang sempat diundang jadi pembicara dalam Talkshow Kick Andy gara-gara mengangkat isu pernikahan dini ini juga membongkar tentang praktik para calo yang menawarkan perempuan-perempuan untuk dinikahkan dengan laki-laki yang mau meminangnya.

“Bahkan yang membuat saya semakin miris, perempuan-perempuan di sana diiming-imingi sebuah motor agar mau menikah. Ada juga yang baru menikah satu minggu langsung bercerai, bahkan banyak remaja belum masuk usia 18 tahun sudah menjanda,” ungkap Putri menceritakan fenomena nyata yang diangkat ke dalam filmnya.

Ia mengaku sangat geram dengan kondisi tersebut. Survei Susenas 2007 bahkan mengungkapkan, Jawa Timur menduduki urutan kelima darurat pernikahan usia anak di Indonesia.

“Memang akses pendidikan di Oro-Oro Bulu Rembang dapat dikatakan masih rendah, mereka mengaku menikahkan anak-anak mereka hanya karena masalah ekonomi,” imbuhnya.

Lewat film berjudul Kembang Deso pemenang Festival film Eagle Junior Documentary Camp 2014 ini, Putri berharap masyarakat sekitar, bahkan pemerintah daerah lebih melek terhadap fenomena pernikahan anak yang tidak semestinya dilakukan.

Menurutnya, menikahkan anak sebagai solusi mengentas kemiskinan bukan merupakan cara tepat. Anak-anak harus tetap mendapatkan haknya sebagai seorang anak seperti bermain dan mengenyam pendidikan. (*)