Kesetaraan Pembangunan Gender di Kota Pasuruan

3524
Keadilan gender akan dapat terjadi jika tercipta suatu kondisi di mana porsi dan siklus sosial perempuan dan laki-laki setara, serasi, seimbang dan harmonis.

Oleh : Sri Kadarwati

SALAH satu arah kebijakan dan strategi pengarusutamaan nasional yang tertuang didalam Rancangan Pemerintah Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 adalah Pengarusutamaan Gender. Dengan sasaran utamanya antara lain adalah meningkatnya Indeks Pembangunan Gender (IPG) dan menurunnya Indeks Ketidaksetaraan Gender (IKG).

Keadilan gender akan dapat terjadi jika tercipta suatu kondisi di mana porsi dan siklus sosial perempuan dan laki-laki setara, serasi, seimbang dan harmonis. Penghitungan angka IPG, diformulasikan sebagai rasio Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Perempuan dan Laki-laki.

Baca Juga :   Pejuang Literasi yang Terinspirasi dari Sosok Kartini

Indeks Pembangunan Gender (IPG) merupakan indeks pencapaian kemampuan dasar pembangunan manusia dengan memperhatikan ketimpangan gender. Hal ini terkait dengan tujuan dari Millenium Development Goals (MDGs) yaitu mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.

Kesetaraan gender merupakan isu yang bersifat multidimensi yang meliputi sisi kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Dari data series penghitungan IPG yang dihasilkan oleh Badan Pusat Statistitik (BPS), selama tiga tahun terakhir ini menunjukkan bahwa Kota Pasuruan menempati urutan kedua tertinggi se Jawa Timur setelah Kota Blitar, yaitu dengan angka IPG sebesar 96,18.

Semakin dekat angka IPG ke 100, maka semakin kecil kesenjangan pembangunan antara laki-laki dan perempuan. Sebelum tahun 2017, angka IPG Kota Pasuruan berada pada posisi ketiga setelah Kota Probolinggo. Hal ini menunjukan bahwa pencapaian prestasi Kota Pasuruan dalam hal kualitas pembangunan gender mengalami peningkatan.

Baca Juga :   Kartini Dulu, Kini dan Nanti

Perkembangan angka IPG  di Kota Pasuruan

Secara umum pembangunan laki-laki dan perempuan di Kota Pasuruan mengalami peningkatan dalam 7 tahun terakhir. Meskipun pada periode 2017 – 2019, angka IPG di Kota Pasuruan mengalami fluktuatif yaitu dari 96,36 menjadi 96,02 pada tahun 2018. Dan selanjutnya pada tahun 2019 meningkat sedikit menjadi 96,18. Namun demikian sejak Tahun 2017, posisi angka IPG Kota Pasuruan berada pada urutan kedua terbesar se Jawa Timur setelah Kota Blitar.

IPG merupakan salah satu indikator komposit yang dapat menggambarkan kesenjangan pencapaian pembangunan antara laki-laki dan perempuan. Adapun indeks komposit yang dibentuk dalam penghitungan IPG terdiri dari Umur Harapan Hidup (UHH), Harapan Lama Sekolah (EYS), Rata-rata Lama Sekolah (MYS), dan Pengeluaran perkapita yang disesuaikan.