“Terusir” dari Tanah Sendiri, Sewindu Menjadi Pengungsi

2710

Kembali pulang memang menjadi harapan para pengungsi Syiah ini. Meski sudah delapan tahun di pengungsian, hal itu tidak serta merta membuat keinginan untuk pulang mati. Sebaliknya, mimpi itu terus terpelihara sampai kini.

Keinginan untuk mewujudkan hidup penuh kedamaian di tengah perbedaan keyakinan menjadi alasan utamanya mereka untuk kembali ke rumah. “Dengan kami tidak pulang, itu berarti kami membiarkan sikap intoleransi itu. Padahal, apapun bentuknya, intoleransi tidak boleh mendapat ruang,” jelas Ustad Iklil Al Milal, salah satu tokoh komunitas ini.

Menurut Ikli, peluang untuk kembali pulang itu sejatinya cukup terbuka. Apalagi, antara para pengikut Syiah dengan warga di Sampang, sudah tidak ada masalah. Termasuk mereka yang sebelumnya ikut terlibat dalam kerusuhan 2012 silam.

Bahkan, dua tahun setelah kerusuhan itu terjadi, banyak dari mereka (pelaku perusakan) yang datang ke lokasi pengungsian untuk meminta maaf. “Dari kami pun, banyak yang sering pulang meski diam-diam. Kadang seminggu, dua minggu, malah sampai sebulan,” terang Ikli.

Baca Juga :   Pemprov Jatim Tak Serius Urusi Pengungsi Syi'ah Sampang

Pulang secara diam-diam memang menjadi pilihan. Tapi, bukan karena situasi kampung yang tidak aman. Tetapi, lebih karena sikap otoritas dan juga aparat setempat yang terkesan kurang mendukung. Karena itu, jika kedapatan dari pengikut Syiah ini yang pulang, serta merta mereka dikembalikan ke pengungsian.

“Kenyataannya memang begitu. Kalau ketahuan ada yang pulang, langsung didatangi dan dibawa kembali ke pengungsian oleh aparat. Padahal dengan masyarakatnya sudah tidak ada masalah,” terang Ikli.

TERUSIR: Delapan tahun menjadi pengungsi tak menghilangkan ‘mimpi’ para pengikut Syiah untuk kembali pulang.

Cerita yang terjadi saat kematian mendiang ibunya pada Februari lalu bisa menjadi bukti paling konkret betapa pemerintah dan aparat terkesan menghalangi proses rekonsiliasi ini.

Ketika itu, ibunya yang juga menjadi salah satu penghuni rusun meninggal dunia. Oleh pihak keluarga, mereka sepakat untuk memakamkannya di Bangkalan. “Keluarga sepakat. Termasuk keluarga yang disana (Bangkalan)” kata Ikli.

Baca Juga :   MWC NU Dringu Protes Pendirian Yayasan Berafiliasi Syiah

Hari itu, ia pun bermaksud meluncur ke Bangkalan untuk mempersiapkan prosesi pemakaman ibunya. Akan tetapi, di tengah perjalanan dirinya dihubungi petugas agar kembali ke lokasi pengungsian di rusun. Alasannya, ada banyak massa yang siap menghadangnya di Bangkalan.

Ikli pun kembali ke pengungsian dan mencoba menghubungi kerabat dan kepala desa di Bangkalan. “Dan ternyata tidak benar. Alhamdulillah, ibu saya akhirnya bisa dimakamkan disana,” kenang Ikli menceritakan.

Bagi Ikli, kembali pulang, dalam kondisi hidup atau mati tetap menjadi keinginan para pengungsi. Terlebih, dengan status sebagai pengungsi, tidak banyak yang bisa ia perbuat. Terutama dalam hal meningkatkan kualitas hidup. Seperti bekerja di sawah atau membangun usaha.

“Mau berusaha bagaiama Mas. Kami ini statusnya pengungungsi. Kalau buat usaha, lalu kami tiba-tiba dipindah bagaimana? Ya seperti ini kami. Selamanya akan kalah oleh kebijakan negara,” keluh bapak enam anak ini kepada media ini.

Baca Juga :   Polemik Syiah di Jangur Mereda, Ini Kesepakatannya

Memang, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, para pengungsi ini masih mendapat uang jaminan hidup (Jadup) setiap bulan. Tapi, tidak banyak yang bisa diperbuat dengan uang sebesar Rp 750 ribu per orang itu. Pilihan lainnya, mereka bekerja sebagai buruh pengupas kelapa di Pasar Agro Puspa yang hanya berjarak sepelemparan batu. Atau memilih pekerjaan serabutan lainnya.

Dikatakan Ikli, ingatan akan kampung halaman tak pernah hilang dari para pengungsi. Karena itu pula, meski sudah hampir delapan tahun terusir, identitas dan dokumen kependudukan mereka tetap tertulis sebagai warga Sampang. Termasuk akta kelahiran yang dilahirkan di pengungsian. Meski lahir jauh dari Sampang, akta kelahiran mereka tetap tercatat lahir di Sampang.