Douwes Dekker-Irawan Soejono, Duo Pahlawan Berdarah Pasuruan yang “Tertukar” (1)

2224

Takashi Shiraisi, dalam Zaman Bergerak, menerangkan, tatkala vergadering digelar di Bandung, Dekker mengumumkan berdirinya IP merupakan sebuah “pernyataan perang”. “Yaitu sinar yang terang melawan kegelapan, kebaikan melawan kejahatan, peradaban melawan tirani, budak pembayar pajak kolonial melawan negara pemungut pajak Belanda,” tulis Takashi.

Menurutnya, pernyataan Dekker berbading terbalik dengan kebijakan politis etis yang mengagungkan kemajuan berasal dari Peradaban Barat.

IP merupakan partai politik pertama di Hindia Belanda, dengan program politik yang “radikal”, yakni, Indiervoor de Indier (Indonesia untuk Bangsa Indonesia). Sebuah program politik ambisius untuk meraih kemerdekaan Indonesia. Karena dianggap radikal oleh pemerintah penjajah, IP tidak mendapat ijin, dan harus dibubarkan pada akhir maret 1913.

Karena aktivitas politik dan tulisan-tulisanya yang dianggap berbahaya, Douwes Dekker dibuang ke Belanda. Lebih tepatnya tiga serangkai tersebut, 19 Juli 1913, Ki Hajar Dewantara menerbitkan sebuah tulisan paling radikal pada saat itu berjudul “Als Ik eens Nederlander was” yang apabila diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, kurang lebih berbunyi, “Andai aku seorang Belanda”. Dewantara menulis dalam bahasa melayu yang bisa dibaca khalayak lebih luas.

Dewantara memposisikan diri sebagai seorang Belanda yang menyorot kontradiksi Belanda yang sedang merayakan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Prancis di tanah yang sedang dijajah. Oleh sebab tulisannya, Dewantara bersama Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo diasingkan ke Belanda. Pembuangan ketiganya, menunjukkan betapa “berbahaya” pemikiran mereka bagi pemerintah kolonial.

Dalam buku Douwes ‘Nes’ Dekker (Dr. Danudirdja setiabudi), disebutkan bahwa ketika di belanda ia memilih untuk melanjutkan studi doktoral ekonomi politik di Universitas Zurich, Swiss, dan mendapat predikat cum laude. Pada tahun 1914-1915, ia juga memperdalam ilmu jurnalistiknya di Belanda.

“Di Belanda, aku pun memanfaatkan waktu untuk belajar. Universitas Zurich, Swiss, menjadi tempatku menimba ilmu. Aku berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana di bidang ekonomi dalam waktu satu tahun,” tulis dalam narasi buku tersebut.

Pada tahun 1917, hukuman pengasingannya dicabut, namun ia terganjal karena terjadi perang dunia I (1914-1918). Ia kembali ke Indonesia dan bergabung kembali dengan kawan-kawan pergerakannya di Nationaal Indische Partij (NIP) pada Juni 1919. Beberapa minggu setelah berdiri, NIP mempropaganda buruh tembakau di Klaten untuk mogok dengan alasan upah dan pengurangan jam kerja. Alih-alih berhasil, banyak di antara kawan-kawannya di tangkap. 10 April 1923, NIP resmi dilarang oleh pemerintah kolonial.
Ia lalu pindah ke Cibadak, Sukabumi.

Disana ia menulis buku sejarah Indonesia. Menurutnya, Sejarah adalah sarana pembangkit kesadaran persatuan dan kebangsaan yang efektif. Selepas itu, ia menjadi pimpinan di sebuah sekolah yang ia ubah menjadi Schoolvereeniging Het Ksatrian Institut. Kurikulum sekolah ini mengutamakan budaya lokal dan Indonesia, dengan bahasa pengantar bahasa Indonesia. Ia menginginkan siswa-siswanya menjadi “ksatria yang mengutamakan kebenaran dan keadilan daripada kepentingan sendiri,” tulisnya.

Lagi-lagi, Douwes Dekker harus berurusan dengan penjara, kali ini yang paling parah. Karena hubungannya dengan Mohammad Husni Thamrin, membuatnya dianggap dekat dengan Jepang. Ia ditangkap dan dipenjaran di Ngawi, Jawa Timur. Menurut Ricklefs, Douwes Dekker menjabat sebagai sektretaris Kamar Dagang Jepang. Tatkala Belanda bersiap menghadapi perang dunia, pertama-tama yang dilakukan adalah pembersihan pengacau potensial. Dalam hal ini, Dekker termasuk dalam “pengacau” tersebut.

Lalu pada Januari 1942, bersama tahanan lain, DD dibuang ke Suriname sampai akhirnya dipindahkan ke Amsterdam pada tanggal 7 agustus 1946. Ia mendengar bahwa Indonesia sudah merdeka. Betapa terharunya ia mendengar kabar yang sejak lama ia cita-citakan.

Awal 1947, atas bantuan seorang teman, DD berhasil kembali ke Indonesia. Ia langsung menuju Jogjakarta untuk menemui Sukarno, Presiden Indonesia sekaligus kawan pergerakannya.

“Soekarno menyambutku dengan hangat, ia memelukku, ia berkata, selamat datang Nes (panggilan akrab DD), tiap kali aku berhadapan dengan Anda, Nes, Saya selalu merasa kecil,” tulisnya dalam narasi buku Douwes ‘Nes’ Dekker.

Presiden Sukarno lalu mengangkatnya sebagai Sekretaris Politik, lalu juga diamanahkan sebuah jabatan Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Dekker juga dipercaya sebagai Menteri Negara dalam kabinet Sjahrir III sejak I Mei 1947. Dalam perundingan dengan Belanda, ia termasuk delegasi dalam perjanjian Renville.